Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mendorong pertumbuhan pasar obligasi nasional dengan pendekatan edukatif dan penyempurnaan infrastruktur transaksi.
Salah satu fokus utama adalah menjangkau pelaku usaha yang belum familiar dengan pasar modal, terutama sektor korporasi non-keuangan.
Advertisement
Melalui berbagai forum dan workshop, BEI melakukan sosialisasi mengenai potensi pendanaan alternatif melalui pasar obligasi. Kepala Unit Pengembangan Calon Perusahaan Tercatat 2 BEI, Sofiyan Adhi Kusumah Dinata menyatakan bahwa pendekatan edukasi menjadi kunci untuk memperluas basis penerbit.
"Jadi kita selalu memberikan pemahaman kepada para calon issuer, bahwa pasar modal ini bisa jadi alternatif pendanaan. Dan banyak perusahaan yang akhirnya menjadi issuer itu memulainya dari forum-forum edukasi," ujarnya, Selasa (3/6/2025).
Selain edukasi, BEI juga memperkuat ekosistem pasar melalui sinergi dengan SRO (Self-Regulatory Organization) dan regulator lain. Inisiatif seperti SPPA (Sistem Penyelenggaraan Pasar Alternatif) menjadi langkah strategis untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi transaksi obligasi, khususnya di pasar sekunder.
Sistem Transaksi Terpusat Jadi Pendorong Efisiensi Pasar
Salah satu langkah konkret BEI dalam mengembangkan pasar obligasi adalah implementasi sistem transaksi terpusat melalui SPPA. Sistem ini mencatat pertumbuhan signifikan, yakni peningkatan sebesar 65% dalam volume transaksi year-on-year pada 2024. Hal ini menunjukkan respons positif dari pelaku pasar terhadap digitalisasi dan standarisasi proses.
SPPA memungkinkan pelaku pasar melakukan transaksi di pasar sekunder secara lebih efisien dan terdokumentasi dengan baik. Hal ini sangat membantu dalam menciptakan kepercayaan investor serta mendukung price discovery yang lebih akurat. BEI juga berkolaborasi dengan KSEI untuk mengembangkan e-book building guna mendukung efisiensi proses penawaran umum.
"Sekarang hampir semua transaksi di pasar sekunder itu melalui sistem terpusat. Itu menciptakan efisiensi yang luar biasa dan mempercepat eksekusi. Kalau dulu masih konvensional, sekarang lebih cepat dan transparan,” ujar Sofiyan Adhi Kusumah Dinata.
Korporasi Melirik Obligasi karena Suku Bunga dan Strategi Diversifikasi
Outlook penurunan suku bunga acuan menjadi momentum penting yang mendorong korporasi aktif menerbitkan obligasi. Menurut BEI, saat ini kondisi pasar menunjukkan peningkatan minat emiten dalam mencari alternatif pembiayaan jangka menengah hingga panjang. Selain aspek pembiayaan, penerbitan obligasi juga memiliki nilai strategis bagi eksposur perusahaan di mata investor.
Obligasi menjadi sarana untuk memperluas basis investor, memperbaiki struktur keuangan, dan menunjukkan kredibilitas di pasar. Dengan kupon tetap dan tenor yang dapat disesuaikan, instrumen ini memberikan fleksibilitas yang lebih baik dibanding pinjaman bank. BEI juga mencatat peningkatan jumlah penerbit yang memilih green bond sebagai upaya penguatan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance).
"Ketika suku bunga acuan punya potensi turun, penerbit lebih berani menetapkan kupon di level yang kompetitif. Selain itu, investor juga antusias karena ekspektasi return-nya stabil,” kata Sofiyan.
BEI Siapkan Produk dan Insentif Baru untuk Pasar Obligasi dan Sukuk
Ke depan, BEI menyiapkan sejumlah pengembangan untuk memperluas pasar obligasi dan sukuk. Salah satunya adalah mendorong penerbitan sustainability bond dan green sukuk melalui pemberian insentif.
BEI juga tengah mengembangkan Electronic Initial Public Offering (E-IPO) untuk memperluas partisipasi investor ritel dalam pasar obligasi. Langkah ini diambil untuk menciptakan ekosistem pembiayaan yang lebih inklusif dan merata, termasuk untuk proyek-proyek seperti pengadaan e-bus yang berbasis ramah lingkungan.
Dengan sistem digital yang terintegrasi, BEI berharap investor ritel bisa lebih aktif berpartisipasi, seperti yang telah terjadi di pasar saham.
"Kalau kita bisa masukkan obligasi ke sistem E-IPO, investor ritel bisa ikut serta sejak awal. Ini akan memperluas basis investor dan mempercepat distribusi,” jelas Sofiyan.