OPINI: Makan Bergizi Gratis, Investasi Emas PAUD Indonesia

Sektor PAUD di Indonesia menunjukkan indikator aksesibilitas yang stagnan dan bahkan cenderung mengkhawatirkan.

oleh Liputan6.comDiperbarui 04 Juni 2025, 18:47 WIB
Prof. Netti Herawati - Guru Besar Gizi, UPN Veteran Jakarta, Anggota ECED Council,Pendiri dan Pemilik PAUD Quantumkids Pekanbaru.

Liputan6.com, Jakarta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pemerintah sejak awal 2025 telah memicu beragam perdebatan publik, didominasi oleh kekhawatiran terkait relevansi dan potensi risiko, seperti isu keracunan makanan.

Namun, di balik polemik yang terjadi, esensi strategis MBG sebagai instrumen pengungkit akses dan kualitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Indonesia belum terartikulasi secara komprehensif.

Pandangan ini berargumen bahwa dengan integrasi yang tepat dan pengelolaan yang adaptif, MBG dapat bertransformasi menjadi katalisator signifikan dalam menjawab tantangan fundamental PAUD di Indonesia. Ini bukan sekadar program sosial, melainkan investasi kritis bagi masa depan bangsa.

Disparitas Akses dan Urgensi Peningkatan Kualitas PAUD

Sektor PAUD di Indonesia menunjukkan indikator aksesibilitas yang stagnan dan bahkan cenderung mengkhawatirkan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menunjukkan Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD usia 3-6 tahun masih berkutat di angka 36,36% pada tahun 2023, angka yang jauh tertinggal dibandingkan jenjang pendidikan dasar dan menengah yang telah mencapai di atas 99%.

Lebih krusial lagi, akses PAUD untuk usia 0-2 tahun hanya berkisar 13,5%. Disparitas ini kontradiktif dengan amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan temuan riset peraih Nobel Ekonomi, James Heckman (1996), yang secara empiris membuktikan bahwa Return on Investment (ROI) tertinggi dalam pendidikan justru berada pada jenjang PAUD, memberikan manfaat jangka panjang bagi individu dan negara.

Selain masalah akses, kualitas PAUD di Indonesia juga memerlukan perhatian serius. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa hanya 69,9% anak usia 36-59 bulan yang menunjukkan perkembangan sosial-emosional yang sesuai dengan tahap usia, dan hanya 64,6% dalam kemampuan literasi.

Padahal, periode usia dini adalah masa sensitif atau golden age, di mana puncak perkembangan bahasa, fungsi kognitif tingkat tinggi, kontrol emosi, dan fondasi karakter terbentuk.

Implikasi dari akses dan kualitas PAUD yang rendah akan berdampak serius pada keberhasilan pendidikan berkelanjutan, kesiapan masuk jenjang dasar, hingga kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di masa depan. Oleh karena itu, dibutuhkan langkah-langkah strategis yang masif dan sistematis untuk mengatasi tantangan ini.

Program MBG, dengan mekanisme penyediaan makanan pada satu titik kumpul, memiliki potensi besar untuk meningkatkan akses PAUD secara inovatif. Strategi kuncinya adalah integrasi aktivitas MBG dengan stimulasi PAUD.

Untuk anak yang sudah terdaftar di PAUD, distribusi makanan dapat dilakukan di unit PAUD masing-masing, memperkaya pengalaman belajar.

Namun, fokus utama adalah pada anak-anak yang belum terdaftar. MBG dapat menjadi insentif kuat bagi orang tua untuk mendaftarkan anaknya ke PAUD terdekat, terutama dengan dukungan dana Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) PAUD yang seringkali tidak terserap secara optimal (misalnya, pada tahun 2022, hanya 87,89% dari pagu alokasi Rp 4,25 triliun BOP yang tersalurkan).

Lebih dari itu, program MBG dapat memanfaatkan fasilitas eksisting secara kreatif sebagai "titik kumpul" alternatif yang sekaligus dapat bertransformasi menjadi unit PAUD. Posyandu, dengan jumlah lebih dari 300.000 unit di seluruh Indonesia, merupakan potensi krusial yang belum optimal.

Jika dua pertiga Posyandu dioptimalkan untuk melayani 30 anak per unit, akses PAUD dapat meningkat signifikan hingga 6 juta anak, hampir melipatgandakan APK saat ini (6.871.443 anak). Potensi serupa juga dimiliki oleh rumah ibadah (masjid, gereja, pura, vihara, dan lain-lain) yang dapat dikembangkan menjadi PAUD berbasis komunitas.

Pendekatan ini tidak hanya efisien dari segi infrastruktur, tetapi juga memperluas jangkauan PAUD secara nyata, mendekatkan layanan pendidikan ke masyarakat.

 

Optimalisasi Kualitas PAUD Melalui MBG: Beyond Nutrisi

Pertanyaan mengenai pemenuhan standar PAUD pada unit-unit alternatif seperti Posyandu atau rumah ibadah adalah valid dan perlu dijawab secara progresif. Delapan Standar Nasional PAUD mencakup STTPA (Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak), Standar Isi, Standar Proses, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK), Standar Sarana Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan, dan Standar Penilaian.

Dalam konteks ini, pendidik memegang peranan sentral dalam menjaga kualitas pembelajaran, dengan berpegang pada STTPA dan Standar Isi, serta melaksanakan penilaian terhadap capaian hasil pembelajaran.

Meskipun sarana dan prasarana awal di PAUD alternatif mungkin belum serta-merta memenuhi standar ideal (misalnya, 3 meter persegi per anak), sebagian besar Posyandu dan rumah ibadah memiliki ruangan yang dapat difungsikan sebagai kelas, ditambah akses ke halaman atau fasilitas umum seperti taman.

Konsep belajar terintegrasi alam justru seringkali lebih disukai anak-anak dibandingkan ruang kelas sempit. Secara bertahap, fasilitas ini dapat dikembangkan untuk memenuhi seluruh standar, dengan penambahan alat bermain indoor dan outdoor yang beragam untuk mencapai capaian STTPA yang optimal.

Selain mengatasi masalah akses, MBG memiliki potensi signifikan untuk mengakselerasi kualitas PAUD. Penelitian telah membuktikan bahwa stimulasi pendidikan membutuhkan fondasi nutrisi yang adekuat.

Otak yang berfungsi optimal membutuhkan asupan gizi seimbang, sehingga anak yang kekurangan gizi, apalagi stunting, akan mengalami hambatan dalam proses belajar. Kehadiran MBG akan secara langsung meningkatkan dampak pembelajaran di PAUD.

Proses makan itu sendiri dapat diubah menjadi medium pendidikan yang kaya. Anak-anak dapat mengembangkan kemampuan kognitif dan sains melalui pengenalan bahan penyusun menu; belajar konsep matematika (misalnya, jumlah) melalui praktik langsung. Interaksi sosial dengan teman dan guru saat makan bersama mendukung perkembangan sosial-emosional.

Penggunaan peralatan makan melatih motorik halus, yang merupakan persiapan penting untuk kemampuan menulis, sementara penataan alat makan, kursi, dan meja mengembangkan motorik kasar. Pendidik dapat memaksimalkan perkembangan bahasa melalui diskusi terkait makanan dan aktivitas makan.

Kerja sama dalam menyiapkan dan membereskan makanan mendorong pengembangan pertemanan, dan penyediaan makanan bergizi serta contoh makan dari pendidik membentuk pola makan sehat.

Disiplin, tanggung jawab, kemampuan merencanakan, dan berbagi tugas juga dapat difasilitasi melalui program MBG. Bahkan, pengembangan spiritual dapat diintegrasikan melalui pengenalan bahan makanan sebagai ciptaan Tuhan dan rasa syukur.

Untuk mewujudkan potensi ini, pendidik perlu secara proaktif menyiapkan tema pembelajaran yang terintegrasi dengan menu MBG harian.

 

Penyaluran Dana MBG di Satuan PAUD: Desentralisasi untuk Efektivitas Holistik

Saat ini, penyaluran MBG dilakukan melalui dapur-dapur yang ditetapkan. Namun, khusus untuk PAUD, pemerintah perlu mempertimbangkan untuk tidak mendistribusikan makanan siap saji, melainkan memberikan anggaran langsung kepada satuan PAUD untuk dikelola.

Argumentasi utama bukan hanya terkait potensi risiko keamanan pangan atau kasus keracunan yang mungkin timbul, tetapi yang jauh lebih krusial adalah optimalisasi capaian pembelajaran melalui MBG ini.

Proses pembelajaran di PAUD melibatkan empat tahapan esensial: persiapan sarana belajar, pengantar sebelum pembelajaran, proses pembelajaran, dan tahap pasca-pembelajaran. Pendidik PAUD akan mempersiapkan sarana dan media pembelajaran, serta kegiatan main anak yang dikaitkan dengan menu makan hari itu.

Hal ini akan menjadi sangat efektif jika perencanaan menu dan pengadaan MBG berada di bawah kendali satuan PAUD. Meskipun ada PAUD yang tidak memungkinkan untuk memasak sendiri, pendidik dapat berkolaborasi internal atau dengan pihak ketiga yang diawasi oleh satuan PAUD.

Poin krusialnya adalah perencanaan menu yang disiapkan oleh satuan PAUD, sesuai dengan kebutuhan spesifik anak, mempertimbangkan tidak hanya kandungan gizi, tetapi juga tekstur, warna, dan variasi bahan makanan.

Sebab, MBG di PAUD bukan sekadar pemenuhan kebutuhan makan anak, melainkan sebuah investasi fundamental untuk mengembangkan kebutuhan holistik anak dan mencapai seluruh aspek perkembangan mereka.

Oleh: Prof. Netti Herawati - Guru Besar Gizi, UPN Veteran Jakarta, Anggota ECED Council,Pendiri dan Pemilik PAUD Quantumkids Pekanbaru

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya