Dibayangi Tekanan Global, OJK Pede Prospek Pasar Modal RI Tetap Tangguh

Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga di kisaran 4,25–4,50% berkontribusi terhadap tekanan di pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.

oleh Pipit Ika RamadhaniDiterbitkan 02 Juni 2025, 20:41 WIB
Suasana di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/11/2015). Pelemahan indeks BEI ini seiring dengan melemahnya laju bursa saham di kawasan Asia serta laporan kinerja emiten triwulan III yang melambat. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Liputan6.com, Jakarta Pasar modal Indonesia dinilai tetap menunjukkan ketahanan meski berada dalam tekanan ketidakpastian global. Likuiditas pasar terjaga dan partisipasi investor domestik, terutama dari kalangan ritel, terus meningkat. Meskipun demikian, fluktuasi di pasar saham kian terasa seiring dengan meningkatnya gejolak eksternal.

OJK mencermati peningkatan volatilitas serta tekanan arus modal keluar yang terjadi akibat situasi global. Ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok disebut menjadi salah satu pemicu utama munculnya sentimen risk-off, yang mendorong investor global mengalihkan dana ke aset yang lebih aman (safe haven).

“Secara umum, pasar modal Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya tekanan global. Saat ini, likuiditas pasar relatif terjaga dan partisipasi investor domestik, terutama investor ritel terus meningkat,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan, Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi dalam keterangan tertulis, Senin (2/6/2025).

Suku Bunga The Fed dan Dampaknya pada IHSG

Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga di kisaran 4,25–4,50% berkontribusi terhadap tekanan di pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dalam situasi ini, investor global cenderung menarik dana dari pasar berkembang dan mengarahkannya ke instrumen yang lebih stabil. IHSG pun menghadapi tantangan volatilitas yang meningkat.

Meski Bank Sentral AS mempertahankan kebijakan suku bunganya, OJK menilai kondisi tersebut dapat memicu arus keluar modal dan meningkatkan tekanan terhadap IHSG. Perlambatan ekonomi domestik yang hanya tumbuh 4,87% pada kuartal I/2025 juga turut memperberat dinamika pasar.

“Hal ini menyebabkan terjadinya arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam periode penuh ketidakpastian, aliran modal global atau investor global terlihat mulai cenderung mengalihkan ke arah asset (portofolio) yang dianggap lebih aman (safe haven),” jelas Inarno.

OJK Perkuat Koordinasi demi Stabilitas Pasar

Aktivitas pekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Menghadapi situasi global yang tidak pasti, OJK terus memperkuat koordinasi dengan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Self-Regulatory Organization (SRO), dan pelaku pasar. Tujuannya untuk menjaga kepercayaan investor dan memastikan stabilitas sistem keuangan nasional.

Langkah antisipatif ini dilakukan agar pasar modal Indonesia tetap mampu menunjukkan resiliensi dan pertumbuhan berkelanjutan. Selain penguatan koordinasi, OJK juga berkomitmen memastikan keterbukaan informasi bagi investor, sehingga keputusan investasi dapat diambil secara bijak dan berdasarkan informasi yang akurat.

“Mengantisipasi kondisi tersebut, OJK terus memperkuat koordinasi dengan anggota forum KSSK, SRO, dan pelaku pasar untuk terus menjaga kepercayaan investor dan menjaga stabilitas sistem keuangan, sehingga pasar modal dapat terus menjaga resiliensinya yang cukup baik dan dapat tumbuh secara berkelanjutan,” tutur Inarno.

 

Komitmen OJK Jaga Tata Kelola dan Sinergi Kebijakan

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi mengatakan penetapan kondisi pasar yang fluktuatif signifikan berlaku selama enam bulan sejak tanggal dikeluarkan, yaitu 18 Maret 2025. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Menanggapi prospek saham bank-bank pelat merah seperti BMRI, BBNI, dan BBRI, OJK menegaskan bahwa lembaga tersebut tidak berada dalam posisi memberikan penilaian atau rekomendasi terhadap saham tertentu. Namun, OJK memastikan pengawasan dan penerapan prinsip kehati-hatian di sektor jasa keuangan akan terus diperkuat.

Keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan diumumkan pada akhir Mei dinilai strategis dalam menjaga stabilitas. OJK berkoordinasi erat dengan BI, Kemenkeu, dan LPS untuk memastikan bahwa arah kebijakan selaras dalam mendukung stabilitas dan pertumbuhan pasar keuangan nasional.

“OJK bersama dengan Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan LPS berkoordinasi dan bersinergi diantaranya melalui forum KSSK untuk memastikan bahwa kebijakan- kebijakan yang diambil akan selaras dalam mendukung stabilitas dan pertumbuhan pasar keuangan nasional yang berkelanjutan,” ujar Inarno Djajadi.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya