Bidik Swasembada, Luhut: Kita Tanam 10 Ha Bawang Putih Bulan Depan

Indonesia tercatat masih mengimpor bawang putih dalam jumlah besar, mencapai 177 juta dolar AS. Hal ini menjadi perhatian serius pemerintah, terutama mengingat pada tahun 1995 Indonesia pernah mengalami swasembada bawang putih.

oleh Pipit Ika RamadhaniDiterbitkan 02 Juni 2025, 19:45 WIB
Ketua Dewan Ekonomi Nasional Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan saat menjadi pembicara kunci pada diskusi panel "Humanitarian Islam dan Pendekatan Agama terhadap Perdamaian di Timur Tengah" yang digelar di Aula Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta, Jumat (22/11) (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta Indonesia tercatat masih mengimpor bawang putih dalam jumlah besar, mencapai 177 juta dolar AS. Hal ini menjadi perhatian serius pemerintah, terutama mengingat pada tahun 1995 Indonesia pernah mengalami swasembada bawang putih. Pertanyaannya, mengapa negara dengan lahan subur dan tenaga kerja melimpah masih harus bergantung pada impor?

Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa Indonesia kini tengah bersiap mengurangi ketergantungan tersebut melalui teknologi. Salah satu langkah awal adalah melakukan penelitian genom terhadap bibit bawang putih yang memungkinkan adaptasi tanaman terhadap iklim dan kondisi tanah lokal. Rencana uji coba penanaman bawang putih di lahan seluas 10 hektare akan dimulai bulan depan.

“Bawang putih kita impor USD 177 juta. Kita pernah tahun 1995 swasembada bawang putih. Kenapa harus impor? Sekarang kita genome bibitnya... Kita akan mulai menanam 10 hektare bulan depan. Kalau itu berhasil, kita pengen 1 hektare 20 ton bawang putih,” ujar Luhut dalam Peluncuran Sahabat AI di Museum Nasional, Senin (2/6/2025).

Kolaborasi Global dan Talenta Lokal

Transformasi ini tidak dilakukan sendiri. Pemerintah membangun kemitraan strategis dengan lembaga riset internasional, salah satunya Beijing Genomic Institute (BGI). Lewat kerja sama ini, Indonesia tidak hanya memperoleh akses teknologi, tetapi juga mengirimkan SDM lokal untuk belajar langsung dari pusat-pusat inovasi dunia. Pendekatan ini diharapkan mempercepat alih teknologi dan penguatan kapasitas dalam negeri.

Kolaborasi serupa juga dibangun dengan Tsinghua University, yang dikenal sebagai salah satu institusi terbaik di dunia dalam bidang kecerdasan buatan (AI). Pemerintah mengirim sejumlah anak muda Indonesia untuk belajar langsung di sana. Menurut Luhut, semua kemajuan ini bisa dicapai asal bangsa Indonesia kompak dan tidak saling menjatuhkan.

“Yang melakukan siapa? Anak-anak Indonesia. Memang betul, Saya juga bangun kerja sama dengan Beijing Genomic Institute... Kita kirim orang-orang kita ke sana, belajar di sana. Sama juga dengan AI di Tsinghua University, rata-rata top dalam bidang Artificial Intelligence. Semua bisa, asal kita kompak,” ujar Luhut.

 

Teknologi Iklim dan Ketahanan Pangan

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Istimewa).

Di tengah ancaman perubahan iklim global, teknologi juga dimanfaatkan untuk memprediksi dan menanggulangi dampak cuaca ekstrem. Pemerintah kini memiliki kemampuan mendeteksi pola cuaca secara akurat dan cepat, yang menjadi modal penting dalam merancang ketahanan pangan. Data iklim digunakan untuk mengembangkan bibit tanaman yang tahan terhadap kondisi ekstrem.

Langkah ini diyakini bisa membawa Indonesia keluar dari siklus rawan pangan dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Fokus pengembangan bibit adaptif sedang dilakukan melalui pendekatan berbasis sains, khususnya bioteknologi. Dengan begitu, produksi pertanian tidak lagi mudah terganggu oleh anomali cuaca.

“Mengenai cuaca ekstrem, sekarang kita bisa deteksi dengan bagus. Kita bisa melahirkan dalam dua tahun ke depan bibit-bibit yang adaptable terhadap perubahan iklim, sehingga dengan begitu ketahanan pangan itu tidak menjadi isu lagi,” kata Luhut.

 

Optimisme Digitalisasi dan Kepercayaan Publik

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di luar pertanian, adopsi kecerdasan buatan juga terus tumbuh pesat di Indonesia. Masyarakat dan institusi mulai menyadari pentingnya teknologi ini dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Indonesia bahkan disebut sebagai salah satu negara teratas yang meyakini manfaat AI dalam produk dan layanan.

Optimisme ini harus dijaga dengan pendekatan kolektif, integritas kepemimpinan, dan partisipasi talenta lokal. Luhut mengingatkan pentingnya menjaga sikap positif serta menghindari kritik yang tidak konstruktif, agar fokus pembangunan tidak terganggu oleh narasi yang kontraproduktif.

“Indonesia termasuk negara teratas yang meyakini produk dan layanan didukung AI. Jadi jangan cepat kita mengkritik-kritik yang gak perlu. Kita kurangi, lah,” tukas Luhut.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya