Liputan6.com, Jakarta Diet ketat dengan fokus pada makanan rebusan menjadi tren di kalangan yang ingin menurunkan berat badan. Metode ini menekankan konsumsi makanan yang direbus sebagai cara untuk mengurangi asupan kalori dan lemak. Apa kata dokter gizi terkait ini?
Dokter spesialis gizi klinik Putri Sakti, mengatakan tak terlau menganjurkan mengonsumsi makanan yang direbus atau dikukus saja. Pengaturan pola makan atau diet bukan berarti harus menghentikan asupan lemak sepenuhnya. Kolesterol dalam jumlah yang cukup masih dibutuhkan tubuh salah satunya untuk membantu produksi vitamin D.
Advertisement
“Kolesterol kita tetap perlu ya karena fungsinya sangat banyak kalau kita terlalu diet ketat misalnya rebus kukus aja, nah itu sebetulnya kalau saya pribadi kurang menganjurkan,” kata Putri beberapa waktu lalu dalam sebuah acara di Jakarta.
Putri lebih menyarankan untuk memvariasikan makanan dengan cara pengolahan yang tepat. "Misal udang. Pengolahannya juga coba cari deh yang tepat, kalau kolesterol tinggi ya jangan yang digoreng,” jelas Putri
Batasi Makanan Deep Fried Bagi Orang dengan Kolesterol Tinggi
Bagi orang dengan kolesterol tinggi, Putri pun menganjurkan untuk membatasi konsumsi makanan cepat saji. Pasalnya, makanan-makanan ini cenderung diolah dengan cara deep fried.
Deep fried adalah metode menggoreng di mana makanan direndam dalam minyak panas dengan jumlah yang cukup banyak. Tujuannya adalah agar makanan matang secara merata dan menghasilkan tekstur yang garing di luar.
“Junk food atau fast food memang tipikal lemaknya lebih tinggi dan pastinya risiko meningkatkan kolesterol lebih besar.”
Ketimbang makan makanan cepat saji, Putri lebih menyarankan untuk konsumsi makanan yang mengandung serat dan plant stanol ester secara rutin.
Apa Itu Plant Stanol Ester/
Plant stanol ester adalah bahan pangan fungsional yang banyak terdapat di makanan sumber.
“Sayur, buah, oats, biji-bijian, sereal itu tinggi dengan kandungan plant stanol ester. Tapi balik lagi, setiap makanan sumber itu memang kandungannya tidak sebesar produk yang memang sudah diambil kandungan aktifnya.”
“Contoh, untuk kita mendapatkan minimal dua gram plant stanol ester itu kita harus makan 15 sampai 20 buah, itu tergantung jenis buahnya apa. Jadi, otomatis kalau dari makanan sumber akan sulit memenuhi rekomendasi dokter yang dua gram per hari,” kata Putri.
Maka dari itu, konsumsi produk yang mengandung plant stanol ester boleh dipertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.