Serangan Rudal Rusia Tewaskan 2 Orang Ukraina di Tengah Pembicaraan Damai

Menurut Angkatan Udara Ukraina, Rusia meluncurkan sekitar 109 drone dan lima rudal.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiperbarui 01 Juni 2025, 10:48 WIB
Tim penyelamat Ukraina bekerja untuk memadamkan api di sebuah terminal bus listrik setelah serangan pesawat tak berawak di Kharkiv pada 30 Mei 2025, di tengah-tengah invasi Rusia ke Ukraina. (SERGEY BOBOK/AFP)

Liputan6.com, Kyiv - Serangkaian serangan udara yang dilancarkan Rusia ke Ukraina pada Sabtu (31/5) kembali menelan korban jiwa. Sedikitnya dua orang dilaporkan tewas, termasuk seorang gadis berusia sembilan tahun, dalam serangan yang menghantam berbagai wilayah negara tersebut. Serangan ini terjadi di tengah ketidakpastian mengenai kemungkinan pertemuan diplomatik antara Kyiv dan Moskow di Istanbul pada awal pekan depan.

Menurut Angkatan Udara Ukraina, Rusia meluncurkan sekitar 109 drone dan lima rudal sepanjang malam hingga Sabtu pagi. Dari jumlah tersebut, tiga rudal dan 42 drone berhasil dihancurkan, sementara 30 drone lainnya gagal mencapai sasaran dan tidak menimbulkan kerusakan berarti, dikutip dari laman BBC, Minggu (1/6/2025).

Di wilayah Zaporizhzhia, serangan terhadap desa Dolynka menewaskan seorang anak perempuan dan melukai seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun. "Satu rumah hancur, dan gelombang kejut dari ledakan juga merusak beberapa bangunan lain, kendaraan, serta fasilitas luar," ujar Gubernur Ivan Fedorov melalui Telegram.

Sementara itu, satu pria dilaporkan tewas akibat penembakan Rusia di wilayah Kherson, menurut pernyataan Gubernur Oleksandr Prokudin. Hingga kini, pihak Rusia belum mengeluarkan komentar terkait kedua serangan tersebut.

Dalam perkembangan militer lainnya, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah merebut desa Novopil di wilayah Donetsk dan desa Vodolahy di wilayah Sumy, Ukraina utara. Sebagai tanggapan, otoritas Ukraina di Sumy memerintahkan evakuasi wajib di 11 permukiman tambahan. Ini menambah total wilayah yang harus dievakuasi menjadi 213 desa dan kota kecil, seiring dengan berlanjutnya tekanan militer Rusia di perbatasan Sumy—wilayah yang berbatasan langsung dengan Kursk, Rusia.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa sekitar 50.000 tentara Rusia telah dikerahkan ke wilayah tersebut. Ia menilai Rusia tengah bersiap untuk meluncurkan serangan besar dengan tujuan menciptakan zona penyangga di dalam wilayah Ukraina.

Fokus Rusia di Ukraina

Petugas penyelamat memadamkan api di sebuah rumah yang hancur akibat serangan Rusia di desa Markhalivka, wilayah Kyiv, Ukraina, Minggu, 25 Mei 2025. (AP/Evgeniy Maloletka)

Kepala militer Ukraina, Oleksandr Syrskyi, mengatakan bahwa fokus serangan utama Rusia saat ini berada di Pokrovsk, Toretsk, dan Lyman di Donetsk, serta di wilayah Sumy. Ia juga mengklaim bahwa pasukan Ukraina masih menguasai sebagian wilayah di Kursk, Rusia—klaim yang telah dibantah Moskow. Rusia menyatakan bahwa sejak 26 April, pasukan Ukraina telah dipukul mundur dari wilayah tersebut setelah sempat masuk dalam serangan mendadak pada Agustus 2024.

“Musuh menempatkan pasukan elitnya di sana,” kata Syrskyi, merujuk pada Kursk. “Pasukan ini rencananya akan digunakan untuk pertempuran di timur.”

Di sisi lain, Ukraina juga melancarkan serangan balasan. Sebanyak 14 orang—termasuk empat anak-anak—terluka akibat serangan drone Ukraina yang menghantam bangunan apartemen di kota Rylsk dan desa Artakovo, wilayah Kursk barat, menurut pejabat setempat Alexander Khinshtein.

 

Ketidakpastian di Meja Diplomasi

Delegasi Rusia dan Ukraina menghadiri pembicaraan langsung di Istana Dolmabache, di Istanbul, Turki, Jumat (16/5/2025). (Dok. Ramil Sitdikov, Foto Sputnik Pool via AP)

Ketegangan di medan perang terjadi di tengah ketidakpastian rencana perundingan damai yang diusulkan Moskow. Penasihat utama Presiden Zelenskyy, Andrii Yermak, mengatakan bahwa Kyiv terbuka untuk melanjutkan pembicaraan damai langsung di Istanbul pada Senin mendatang. Namun, partisipasi Ukraina bergantung pada apakah Rusia menyerahkan dokumen yang menjabarkan posisi mereka terkait penghentian perang—dokumen yang sebelumnya dijanjikan Kremlin.

Presiden Zelenskyy menuding Moskow “merusak jalur diplomatik” dengan tidak mengungkapkan isi dokumen tersebut. “Entah kenapa, Rusia menyembunyikan dokumen itu. Sikap ini sangat aneh dan tidak jelas apa format sebenarnya dari pertemuan yang mereka maksudkan,” tulis Zelenskyy di Telegram.

Sementara Rusia sebelumnya menyatakan bahwa mereka akan membagikan memorandum tersebut dalam proses pembicaraan, hingga kini belum ada kepastian lebih lanjut yang bisa membuka jalan bagi dimulainya dialog damai secara konkret.

Infografis 1 Tahun Perang Rusia - Ukraina, Putin Tangguhkan Perjanjian Senjata Nuklir dengan AS. (Liputan6.com/Trieyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya