Sederet Harapan Masyarakat soal Transportasi Umum di Sekitar Jakarta

Kesenjangan transportasi umum antara DKI Jakarta dan sejumlah kota penyangganya masih dirasakan. Artikel ini menyoroti beberapa keluhan masyarakat pengguna.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 01 Juni 2025, 15:00 WIB
Sejumlah angkutan kota (angkot) berhenti di Jalan Raya Pajajaran tepatnya di depan Botani Square, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/3/2020). Pemerintah Kota Bogor akan mengurangi unit angkot dari 1.270 unit menjadi 635 unit angkot di bogor. (merdeka.com/magang/Muhammad Fayyadh)

Liputan6.com, Jakarta Kesenjangan transportasi umum antara DKI Jakarta dan sejumlah kota penyangganya masih dirasakan pekerja di Ibu Kota. Terutama akses dari tempat tinggal ke transportasi umum terdekat untuk menuju kantornya.

Keluhan serupa muncul dari pekerja yang tinggal di Bekasi, Pamulang, hingga Citayam. Yoga (28) mengungkapkan belum terkoneksinya angkutan umum sekitar tempat tinggalnya, sehingga dia memilih menggunakan kendaraan pribadi ke stasiun Kereta Rel Listrik (KRL) terdekat.

"Untuk di tempat tinggal belum ada transportasi terintegrasi, jadi dari Kawasan komplek tempat saya tinggal memang masih butuh kendaraan pribadi menuju halte atau stasiun KRL atau LRT terdekat," kata Yoga, saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (1/6/2025).

Harapan ke Pemda

Dia berharap, kota tempat tinggalnya bisa memperhatikan akses transportasi umum seperti DKI Jakarta.

"Karena di Bekasi sendiri masih ada beberapa komplek atau kawasan perumahan yang memang masih jauh dari transportasi umum, sehingga masih membutuhkan kendaraan pribadi untuk mencapai transportasi umum," ujarnya.

 

Layanan KRL Tak Cukup?

KAI Commuter melakukan penambahan petugas pengamanan di KRL saat adanya demo pengemudi ojek online, atau driver ojol. (Dok KCI)

Hal senada diungkap Aulia (27) yang bekerja di kawasan Jakarta Selatan itu mengakui tak banyak pilihan moda transportasi umum.

Terdekat, hanya ada Stasiun KRL Sudimara dari tempat tinggalnya di Pamulang, Tangerang Selatan.

"Enggak banyak pilihan, kalau pun ada, MRT Lebak Bulus, tapi jarak dari rumah saya ke MRT Lebak Bulus cukup jauh dan akses menuju sana sangat macet. Jadi cukup buang waktu kalau ke sana," terangnya.

 

Penguatan Transportasi Umum

Kepadatan calon penumpang kereta Commuter Line (KRL) di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Rabu (12/1/2022). Kementerian Kesehatan memprediksi penyebaran kasus COVID-19 varian Omicron di Indonesia akan terus terjadi hingga mencapai puncaknya pada Februari 2022. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Sementara itu, Krisna (29) berharap intergasi layanan transportasi dilakukan juga di wilayah penyangga Ibu Kota. Dia mengatakan selama ini sering lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi atau ojek daring untuk menuju ke stasiun KRL di Bojonggede atau Citayam.

Menurutnya, integrasi moda perlu diperkuat di berbagai wilayah, termasuk Depok, Bekasi, dan Tangerang. Mengingat tingginya volume pekerja Ibu Kota yang tinggal di kawasan tersebut.

"Integrasi transport umum sudah harus dilakukan bukan hanya di Jakarta, tetapi juga kota-kota penyangga, seperti Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi karena mayoritas masyarakat yang bekerja di Jakarta itu tidak menetap atau tinggal di Jakarta, tetapi di kota-kota penyangga," pintanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya