Liputan6.com, Probolinggo - Sate lalat merupakan salah satu kuliner tradisional khas Probolinggo, Jawa Timur, yang telah menjadi bagian dari kekayaan kuliner daerah tersebut. Nama unik ini berasal dari bentuk potongan daging yang kecil, menyerupai ukuran lalat, meskipun sama sekali tidak menggunakan bahan serangga tersebut.
Mengutip dari berbagai sumber, kuliner ini telah menjadi ikon makanan khas Probolinggo sejak puluhan tahun silam. Asal-usul Sate Lalat tidak terlepas dari pengaruh budaya kuliner Madura yang kuat di wilayah pesisir utara Jawa Timur.
Advertisement
Kota Probolinggo yang berbatasan dengan Kabupaten Situbondo dan berdekatan dengan Madura menjadikan kuliner ini memiliki karakteristik khas daerah tersebut. Proses pembuatan sate lalat menggunakan daging ayam atau kambing yang dipotong kecil-kecil dengan ukuran sekitar 1-2 cm.
Potongan daging tersebut kemudian ditusuk menggunakan lidi atau tusuk sate khusus dengan jumlah 15-20 tusuk per porsi. Ukuran mini ini membuat proses pemanggangan yang lebih singkat sehingga menghasilkan tekstur daging yang lembut.
Bumbu utama sate lalat terdiri dari campuran kacang tanah giling, kecap manis, bawang merah, bawang putih, dan cabai merah. Beberapa produsen menambahkan rempah-rempah khusus sebagai pembeda cita rasa.
Ukuran Daging
Setelah proses pemanggangan, sate ini umumnya disajikan dengan lontong atau ketupat, dilengkapi taburan bawang merah goreng dan irisan cabai rawit. Karakteristik utama sate lalat terletak pada ukuran daging yang kecil namun padat, menghasilkan tekstur yang renyah di luar namun tetap lembut di dalam.
Bumbu kacang yang kental dan meresap sempurna menjadi daya tarik utama kuliner ini. Penyajiannya yang praktis menjadikannya cocok untuk berbagai kesempatan.
Sate Lalat di Probolinggo mudah ditemui di berbagai lokasi strategis, terutama di sekitar objek wisata dan pusat keramaian. Harga jualnya berkisar antara Rp15.000 hingga Rp20.000 per porsi, tergantung jenis daging yang digunakan.
Pada musim liburan dan hari raya, permintaan terhadap kuliner ini bisa meningkat hingga tiga kali lipat dari hari biasa. Beberapa warung makan legendaris di Probolinggo bahkan mampu menjual lebih dari 5.000 tusuk sate lalat per hari selama musim puncak wisata.
Penulis: Ade Yofi Faidzun