Liputan6.com, Jakarta - Di bawah lapisan es yang dingin dan tak terjamah di Antartika Timur, tersembunyi sebuah keajaiban geologis yang telah memikat para ilmuwan selama beberapa dekade. Pegunungan Subglasial Gamburtsev, yang pertama kali ditemukan oleh ekspedisi Soviet pada 1958, telah menjadi teka-teki besar dalam dunia sains.
Mengutip dari laman NDTV, Jumat (30/5/2025), meski tersembunyi di bawah es setebal beberapa kilometer, pegunungan ini memiliki bentuk dan skala yang mirip dengan Pegunungan Alpen. Kini, setelah penelitian yang panjang, misteri di balik pegunungan yang terkubur selama 500 juta tahun ini akhirnya terpecahkan.
Advertisement
Pegunungan Gamburtsev pertama kali terdeteksi oleh teknik seismik yang digunakan oleh para peneliti Soviet. Terletak di bawah titik tertinggi lapisan es Antartika Timur, pegunungan ini telah lama menjadi subjek spekulasi dan penelitian ilmiah.
Berbeda dengan pegunungan lain yang mengalami erosi atau perubahan tektonik, Pegunungan Gamburtsev tetap terawetkan oleh lapisan es yang tebal. Hal ini menjadikannya salah satu sabuk pegunungan yang paling terpelihara di Bumi.
Pembentukan dan Evolusi
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal "Earth and Planetary Science Letters", Pegunungan Gamburtsev terbentuk sekitar 500 juta tahun yang lalu, ketika superbenua Gondwana terbentuk akibat tabrakan lempeng tektonik. Tabrakan tersebut memicu aliran batuan panas yang sebagian meleleh jauh di bawah pegunungan, tulis para peneliti.
Seiring waktu, kerak bumi di bawah pegunungan menebal dan memanas, sebelum akhirnya menjadi tidak stabil dan runtuh karena beratnya sendiri. Proses ini menghasilkan pegunungan yang kita kenal saat ini, yang meskipun terkubur, tetap terjaga bentuknya.
Untuk memastikan hipotesis mereka, para peneliti menggunakan zirkon, mineral yang berfungsi sebagai stopwatch geologis. Kristal-kristal zirkon dapat bertahan selama miliaran tahun dan mengandung uranium, yang meluruh pada tingkat yang diketahui.
Ini memungkinkan para ilmuwan untuk menentukan usia pegunungan dengan presisi tinggi. Butiran zirkon mencatat puncak pembentukan gunung sekitar 580 juta tahun lalu dan awal keruntuhan struktural sekitar 500 juta tahun lalu.
Tantangan dan Masa Depan Eksplorasi
Pengumpulan sampel batuan dari Pegunungan Gamburtsev tetap menjadi tantangan besar karena logistik pengeboran melalui lapisan es yang tebal. Namun, model yang dikembangkan oleh para ilmuwan menawarkan prediksi baru yang dapat memandu eksplorasi di masa depan.
Penemuan ini tidak hanya membuka wawasan baru tentang sejarah geologis Antartika tetapi juga tentang dinamika pembentukan pegunungan di bawah es. Penelitian ini menandai langkah besar dalam memahami sejarah geologis Antartika dan peran penting yang dimainkan oleh Pegunungan Gamburtsev.
Dengan teknologi dan metode baru, para ilmuwan berharap dapat terus menggali lebih dalam misteri yang terkubur di bawah es, membuka pintu bagi penemuan-penemuan baru yang dapat mengubah pemahaman kita tentang Bumi. Pegunungan Gamburtsev, dengan segala misterinya, mengingatkan kita bahwa masih banyak yang harus dipelajari dari dunia yang tersembunyi di bawah permukaan.
Fenomena Pembajakan Es
Sebelumnya, para ilmuwan juga mengungkap fenomena luar biasa yang terjadi di Antartika Barat, yakni ice piracy atau pembajakan es. Istilah ini merujuk pada fenomena ketika sebuah gletser yang bergerak lebih cepat "menyedot" atau mencuri es dari gletser tetangganya yang lebih lambat.
Fenomena ini mengubah arah aliran es secara signifikan. Ice piracy juga mengungkap dinamika baru yang sebelumnya belum sepenuhnya dipahami dalam sistem lapisan es Antartika.
Mengutip kanal Global Liputan6.com, 13 Mei 2025, laman European Space Agency (ESA) melaporkan penemuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal The Cryosphere dan didasarkan pada data satelit Copernicus Sentinel-1 serta CryoSat. Penelitian ini menandai perubahan besar dalam cara ilmuwan memahami aliran es dan potensi dampaknya terhadap kenaikan permukaan laut global.
Penelitian memanfaatkan data pengamatan selama 17 tahun yang mengungkap redistribusi massa es yang cepat di kawasan tersebut. Fenomena pertama kali terdeteksi di Gletser Kohler Timur dan Gletser Kohler Barat, dua bagian dari sistem gletser yang lebih luas di Antartika Barat.