Liputan6.com, Jakarta Lisbon, musim panas 2020, menjadi saksi bisu tangisan PSG di final Liga Champions. Kingsley Coman dan Bayern Munchen merampas mimpi mereka dengan satu gol pahit. Malam itu meninggalkan luka yang tak kunjung sembuh, menjadi pengingat betapa dekatnya mereka, tapi tetap tak tersentuh.
Lima tahun berlalu, PSG kembali berdiri di ambang singgasana. Kali ini, mereka tak sekadar ingin tampil cantik atau memberi perlawanan. Di Allianz Arena, Paris datang dengan satu misi: mengubur penantian panjang dan membawa pulang trofi pertama mereka.
Advertisement
Wajah-wajah muda mendominasi skuad, tapi tekad mereka sudah matang. Ini bukan lagi tentang bintang individu—ini tentang kebanggaan kolektif, tentang menebus masa lalu dan menulis babak baru bagi Kota Cahaya.
PSG: Jatuh Bangun di Jalan Berliku
Perjalanan PSG musim ini jauh dari mulus. Di fase liga, mereka sempat terpuruk di peringkat ke-15 setelah menelan tiga kekalahan dari enam laga awal. Kekalahan dari Arsenal, Atletico Madrid, dan Bayern Munchen seolah mengulang mimpi buruk yang sama.
Namun, dari titik nadir itulah kebangkitan dimulai. PSG bangkit dengan tiga kemenangan telak di fase liga, menghajar Manchester City dan Stuttgart dengan performa mengesankan. Babak knockout pun menjadi panggung pembuktian—mereka tak lagi tim yang mudah patah.
Brest dihancurkan agregat 10-0 di playoff. Liverpool ditaklukkan lewat drama adu penalti. Aston Villa sempat membuat jantung berdebar, tapi akhirnya tumbang juga. Arsenal, sang rival sengit, menjadi korban terakhir—kalah di dua leg berkat strategi Luis Enrique yang kian matang dan ketangguhan Donnarumma di bawah mistar.
PSG: Kolektivitas Mengalahkan Bintang Tunggal
Tak ada lagi Messi. Neymar sudah pergi. Bahkan Mbappe tak lagi menjadi pusat cerita. PSG musim ini adalah tim tanpa dewa, tapi dipenuhi pejuang yang siap mati untuk satu tujuan.
Luis Enrique sukses menanamkan filosofi kolektivitas sebagai senjata utama. Ousmane Dembele kembali ke versi terbaiknya, mencetak delapan gol dan menjadi penentu di momen-momen krusial. Nuno Mendes tak hanya solid bertahan, tapi juga menyumbang empat gol dari sisi kiri.
Vitinha menjadi otak permainan, sementara Kvaratskhelia dan Doue bergantian meneror pertahanan lawan. Ini bukan tim yang bergantung pada satu nama—setiap pemain bersinar, setiap nama punya andalan.