Terungkap, Ini Penyebab Pengangguran Sarjana Makin Banyak

Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi CELIOS (Center of Economic and Law Studies), Nailul Huda mengungkapkan penyebab pengangguran sarjana yang masih tinggi.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 30 Mei 2025, 09:30 WIB
sebutkan tujuan pelamar mencari pekerjaan ©Ilustrasi dibuat AI

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2025 untuk lulusan universitas masih cukup tinggi, yakni sebesar 5,25 persen. Sementara itu, lulusan diploma I/II/III memiliki TPT sebesar 4,83 persen.

Tak hanya pengangguran terbuka, angka setengah pengangguran juga menjadi sorotan, dengan tingkat nasional tercatat di angka 5,03 persen, dan lulusan diploma menyumbang 4,01 persen.

Menanggapi hal tersebut, Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi CELIOS (Center of Economic and Law Studies), Nailul Huda, menilai persoalan utama terletak pada minimnya ketersediaan lapangan kerja yang sesuai dengan latar belakang pendidikan tinggi.

"Yang paling utama adalah ketersediaan lapangan pekerjaan di Indonesia masih sangat kurang di mana relatif tidak ada investasi dalam skala besar yang masuk ke Indonesia," kata Nailul kepada Liputan6.com, Jumat (30/5/2025).

Ia menambahkan, investasi dari perusahaan global yang biasanya menyerap tenaga kerja dengan pendidikan tinggi seperti lulusan sarjana atau SI hingga S3, juga belum terlihat signifikan. Justru, menurut Huda, perusahaan yang datang ke Indonesia kebanyakan bergerak di sektor pertambangan dan turunannya, yang umumnya tidak memerlukan tenaga kerja dengan pendidikan tinggi.

"Yang datang ke Indonesia banyak perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan ataupun turunannya di mana pekerjaan yang dibutuhkan tidak perlu level S1 apalagi S2. Pun dengan jenis pekerjaan level S1 dan S2 diisi oleh pekerja dari negara asalnya," ujarnya.

Akibatnya, lulusan perguruan tinggi harus bersaing dengan lulusan pendidikan yang lebih rendah untuk pekerjaan yang tersedia, yang tentu berdampak pada upah yang lebih rendah.

Sisi Sektoral

penyebab pengangguran ©Ilustrasi dibuat AI

Dari sisi sektoral, Huda mencatat sektor pertanian (28,54%) dan perdagangan (19,26%) masih menjadi penyumbang terbesar lapangan kerja di Indonesia. Namun, kedua sektor ini didominasi oleh pekerja informal, yang sulit menyerap lulusan S1 maupun S2.

"Jika kita lihat dari sektoral lapangan kerja dimana paling tinggi adalah pertanian dengan 28,54 persen, kemudian ada perdagangan dengan 19,26 persen dimana kedua sektor tersebut banyak pekerja informal," ujarnya.

Sebagai solusi, Huda menekankan pentingnya mendorong investasi di sektor teknologi yang lebih padat karya dan sesuai dengan keahlian lulusan pendidikan tinggi.

"Jadi, mereka jarang terserap oleh kedua sektor tersebut. Maka tugas pemerintah adalah mendorong masuk sektor investasi untuk teknologi agar serapan lulusan S1 dan S2 meningkat tajam," ujarnya.

Menurutnya, tanpa langkah konkret dari pemerintah untuk mengundang investasi di sektor-sektor strategis, maka pengangguran terdidik akan terus menjadi masalah struktural di Indonesia.

3 Sektor Penyerap Tenaga Kerja Terbesar

Ilustrasi bekerja, bercanda bersama teman di kantor. (Photo by Brooke Cagle on Unsplash)

Dalam hal penyerapan tenaga kerja menurut lapangan usaha, data BPS menunjukkan tiga sektor utama yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan. Ketiga sektor ini masih menjadi tulang punggung penciptaan lapangan kerja di Indonesia.

"Pada Februari 2025, tiga lapangan usaha dengan penyerapan tenaga kerja terbanyak adalah pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan," ujar Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti.

Menurut Amalia, jika dibandingkan dengan Februari 2024, sebagian besar lapangan usaha mengalami peningkatan jumlah tenaga kerja. Sektor perdagangan mencatatkan peningkatan paling signifikan, yaitu sebanyak 0,98 juta orang. Kemudian, disusul oleh sektor pertanian yang mengalami penambahan tenaga kerja sebanyak 0,89 juta orang, serta industri pengolahan yang menyerap tambahan 0,72 juta pekerja.

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya