Mendidik Generasi Z untuk Masa Depan Energi Terbarukan

engan memberikan ruang belajar bagi siswa untuk memahami kaitan antara krisis iklim dan kehidupan sehari-hari, pelajar dapat menjadi agen perubahan yang mendukung masa depan yang berkelanjutan.

oleh Liputan6.comDiperbarui 29 Mei 2025, 22:07 WIB
Mendidik Generasi Z untuk Masa Depan Energi Terbarukan (doc: RE-Agent)

Liputan6.com, Jakarta Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, sektor pendidikan memegang peran krusial dalam mempercepat transisi energi terbarukan yang adil dan inklusif. Dengan memberikan ruang belajar bagi siswa untuk memahami kaitan antara krisis iklim dan kehidupan sehari-hari, pelajar dapat menjadi agen perubahan yang mendukung masa depan yang berkelanjutan.

Gen Z adalah populasi terbesar saat ini, dan anak-anak muda, mulai dari siswa SMP hingga SMA, perlu mendapatkan ruang untuk mempelajari isu-isu seperti ini karena sangat relevan dengan kehidupan mereka,” kata Valensiya, Ketua RE-Agent.

“Dampak krisis iklim seringkali paling dirasakan oleh masyarakat marjinal. Di sinilah anak muda bisa ikut bersuara untuk memastikan masyarakat mendapatkan hak hidup yang layak dan sehat.”

Dalam mendukung hal ini, RE-Agent bersama Trend Asia meluncurkan program RE–Agents Goes to School di SMAN 3 Jakarta. Program ini menjadi langkah awal untuk mengenalkan siswa pada pendidikan kritis mengenai energi terbarukan, sekaligus mengajak mereka terlibat dalam upaya transisi energi yang lebih inklusif.

“Ini adalah kesempatan berharga, terutama bagi siswa SMAN 3 Jakarta, untuk menambah wawasan mengenai energi terbarukan. Program seperti ini perlu lebih sering dilakukan sebagai bukti komitmen kami dalam mendorong penggunaan energi bersih,” ujar Mukhlis, Kepala Sekolah SMAN 3 Jakarta.

 

 

Urgensi Pendidikan Energi Terbarukan

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memproyeksikan tahun 2024 menjadi tahun terpanas dalam sejarah, dipicu oleh el-nino yang diperburuk oleh emisi karbon dari pembakaran bahan bakar fosil. Kondisi ini membuat pendidikan soal energi bersih semakin penting untuk dipahami generasi muda.

“Pemerintah masih memprioritaskan energi fosil dalam rencana ketenagalistrikan (RUPTL) 2025–2034, meskipun Indonesia memiliki potensi energi terbarukan sebesar 3.686 GW, jauh lebih besar dan ekonomis,” ungkap Beyrra Triasdian, Juru Kampanye Energi Terbarukan Trend Asia.

Pendidikan kritis mengenai energi terbarukan tak hanya menyoal teknologi, tetapi juga tentang pola pikir. Nadya Fidina Salam, guru geografi SMAN 3 Jakarta, menyatakan bahwa kesadaran ini harus diajarkan sejak dini.

“Guru memiliki cara masing-masing, seperti mengajak siswa menghitung penggunaan listrik atau menganalisis kenaikan suhu bumi. Ini penting mengingat kondisi bumi yang semakin mengkhawatirkan.”

 

Inspirasi dari Komunitas

Beberapa inisiatif lokal membuktikan bahwa transisi energi tidak hanya membantu mengatasi krisis iklim, tetapi juga meningkatkan kemandirian masyarakat. Misalnya, PLTMh di Kampung Tangsi Jaya, Bandung Barat, memanfaatkan debit sungai untuk mendukung koperasi kopi.

Di Blora, Noer Chanief, guru SMKN 1 Blora, menciptakan Omset Pintar, sistem pembangkit listrik berbasis surya dan angin.

“Dengan Omset Pintar, masyarakat di desa yang sulit mendapatkan akses listrik kini bisa menikmati penerangan tanpa emisi dan biaya,” jelas Noer.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya