Peluang Sektor Agribisnis di Indonesia Masih Terbuka Lebar, Saham Ini Bisa Dilirik

Sektor perkebunan di Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk terus berkembang, seiring karakteristik negara yang kaya akan sumber daya alam.

oleh Pipit Ika RamadhaniDiterbitkan 28 Mei 2025, 14:52 WIB
Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Sektor perkebunan di Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk terus berkembang, seiring karakteristik negara yang kaya akan sumber daya alam. Sektor ini pun disebut sebagai salah satu kontributor penting bagi perekonomian nasional, baik melalui perusahaan BUMN maupun swasta.

Founder LBP Enterprise, Lucky Bayu Purnomo, menilai bahwa sektor agribisnis masih menjadi primadona di Indonesia. Menurutnya, karakteristik Indonesia sebagai negara berbasis sumber daya membuat sektor ini memiliki daya tarik tersendiri di mata pelaku pasar.

“Hal tersebut dikarenakan, Indonesia adalah negara resource based. Dengan menjadi primadona, sektor ini dapat memberikan dampak positif terhadap saham-saham yang bergerak di bidang agribisnis,” ujar Lucky dalam keterangan resmi, Selasa (27/5/2025).

Tinjauan Terhadap Saham Emiten Kelapa Sawit

Salah satu emiten yang disebut oleh Lucky adalah PT Agro Yasa Lestari Tbk (AYLS) yang bergerak di bidang kelapa sawit. Ia memperkirakan bahwa saham perusahaan ini berpotensi bergerak di kisaran harga tertentu, dengan level terendah di angka 64 dan potensi tertinggi hingga 129 per lembar saham.

Menurutnya, prediksi ini merupakan gambaran dari nilai wajar dalam jangka panjang, yang mempertimbangkan kemungkinan koreksi maupun penguatan pasar. Namun, angka tersebut tetap memerlukan pertimbangan dari berbagai aspek, termasuk kondisi pasar secara keseluruhan.

“Inilah fair value dalam jangka panjang, yang diartikan ini adalah harga yang wajar jika kita lihat dalam jangka panjang,” ucap Lucky. Ia menekankan pentingnya memperhatikan posisi harga saham saat ini dalam menilai potensi pergerakan ke depan.

 

 

Ekspansi dan Risiko di Sektor Agribisnis

Pengendara mobil dan sepeda motor melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (10/10/2019). Sebanyak 205 saham melemah sehingga mendorong IHSG ke zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Lucky juga menyoroti faktor eksternal yang dapat mendorong pergerakan saham di sektor ini, salah satunya adalah ketersediaan lahan kelapa sawit yang masih terbuka luas di Indonesia. Ia berpendapat bahwa kondisi ini memungkinkan perusahaan seperti AYLS untuk lebih ekspansif melalui berbagai aksi korporasi.

“Dengan cakupan lahan yang sangat luas, seharusnya perusahaan ini lebih gencar melakukan aksi korporasi, lebih gencar melakukan restructuring,” ujar Lucky. Ia menilai langkah ini penting untuk memperkuat nilai fundamental perusahaan.

Meski demikian, ia juga memberikan catatan penting bagi para investor untuk tetap berhati-hati dalam mengelola portofolio di sektor agribisnis. “Sektor ini dapat dikatakan sebagai sektor yang defensif. Sehingga ini akan menentukan bagaimana struktur portfolio investor yang ingin melihat tiga dimensi waktu, jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang,” pungkasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya