BlackRock Geser Strategy dan Binance sebagai Pemegang Bitcoin Terbesar

Berdasarkan laporan dari Cryptonews pada Selasa (27/5/2025), BlackRock melalui produk ETF-nya, iShares Bitcoin Trust (IBIT), kini memegang 621.000 BTC.

oleh Natasha AmaniDiterbitkan 27 Mei 2025, 17:10 WIB
Ilustrasi tambang Kripto. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta BlackRock, raksasa manajer investasi asal Amerika Serikat, kini menduduki posisi teratas sebagai pemegang Bitcoin terbesar di dunia, melampaui Strategy milik Michael Saylor dan bursa kripto Binance. Berdasarkan laporan dari Cryptonews pada Selasa (27/5/2025), BlackRock melalui produk ETF-nya, iShares Bitcoin Trust (IBIT), kini memegang 621.000 BTC.

IBIT yang diluncurkan pada Januari 2024, dengan cepat menjadi kendaraan institusional dominan untuk eksposur ke Bitcoin.

Dengan kepemilikan tersebut, BlackRock menguasai lebih dari 3,5% total pasokan Bitcoin yang beredar. Posisi ini membuat BlackRock hanya terpaut dari sosok legendaris di dunia kripto, Satoshi Nakamoto, yang diyakini memiliki sekitar 1,1 juta BTC.

Kepemilikan BlackRock juga melampaui Strategy yang mengelola 580.250 BTC serta Binance yang menyimpan 534.471 BTC, menurut data dari Coinglass. Tren ini menunjukkan bahwa Bitcoin telah bergerak dari instrumen spekulatif menjadi aset strategis dalam portofolio institusi besar.

Bitcoin Jadi Aset Strategis dalam Investasi Korporasi

Lonjakan kepemilikan Bitcoin oleh institusi besar seperti BlackRock mencerminkan perubahan struktural dalam lanskap investasi global. Aset kripto, khususnya Bitcoin, kini mulai dianggap sebagai bagian inti dari strategi alokasi kekayaan oleh perusahaan besar.

Langkah BlackRock dinilai mencerminkan kepercayaan jangka panjang terhadap nilai dan potensi Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan sebagai aset digital yang terdesentralisasi. Tak hanya BlackRock, perusahaan-perusahaan besar lainnya juga mengikuti jejak serupa dengan meningkatkan eksposurnya terhadap Bitcoin.

Strategi institusional ini mempertegas pergeseran Bitcoin dari sekadar aset alternatif menjadi instrumen investasi arus utama. Selain digunakan untuk diversifikasi portofolio, Bitcoin juga mulai dilihat sebagai pelindung kekayaan terhadap gejolak pasar dan kebijakan moneter global.

 

Strategy Tambah BTC Rp6,9 Triliun di Tengah Lonjakan Harga

Ilustrasi harga kripto (Foto By AI)

Michael Saylor, melalui perusahaannya Strategy, tetap konsisten menambah portofolio Bitcoin-nya. Antara 19 hingga 23 Mei 2025, Strategy dilaporkan telah membeli 4.020 BTC senilai USD 427,1 juta atau setara Rp6,9 triliun. Pembelian ini dilakukan ketika harga Bitcoin sempat menembus angka USD 110.000 per koin.

Pembelian terakhir dilakukan pada harga rata-rata USD 106.237 per BTC. Aksi beli ini menandai pembelian keempat oleh Strategy selama bulan Mei 2025.

Total kepemilikan Strategy saat ini mencapai 580.250 BTC yang diperoleh dengan total akumulasi sekitar USD 40,6 miliar (Rp659,2 triliun), dengan harga rata-rata USD 69.979 per koin.

Langkah agresif ini menunjukkan komitmen jangka panjang Strategy terhadap Bitcoin sebagai aset utama perusahaan.

 

Saham Strategy Tertekan Meski Tambah Kepemilikan Bitcoin

Ilustrasi kripto (Foto By AI)

Meski terus menambah kepemilikan BTC, saham Strategy justru mengalami tekanan di pasar modal. Berdasarkan data dari TradingView, saham Strategy (MSTR) mengalami penurunan sekitar 12% dalam sepekan terakhir. Harga saham turun dari level tertingginya sekitar USD 420 menjadi USD 369.

Sebelumnya, harga tertinggi saham Strategy tercatat pada USD 474 pada 19 November 2024. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap eksposur perusahaan yang terlalu besar terhadap volatilitas harga Bitcoin, meskipun perusahaan menunjukkan kepercayaan tinggi terhadap aset digital ini dalam jangka panjang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya