Momen Soul Asylum Bantu Temukan Anak-Anak yang Hilang Lewat Video Musik Runaway Train

Rupanya video musik lagu "Runaway Train" dari Soul Asylum menyimpan sejarah dan keajaiban tersendiri berkat dipasangnya foto dan nama anak-anak yang hilang hingga beberapa di antaranya kembali ke rumah.

oleh Ruly RiantrisnantoDiterbitkan 27 Mei 2025, 10:00 WIB
Soul Asylum di Urbana, Illinois. Kiri: Michael Bland (drum), tengah depan: Dave Pirner (vokalis), kanan: Dan Murphy (gitaris). (Via Wikimedia Commons/Daniel Schwen)

Liputan6.com, Jakarta Tak banyak video musik yang mampu memberikan dampak sosial nyata. Namun pada tahun 1993, Soul Asylum membuktikan bahwa karya seni bisa menjadi alat untuk perubahan. Pasalnya, video musik lagu "Runaway Train" secara mengejutkan membantu banyak pihak untuk menemukan puluhan anak hilang dan remaja yang rentan.

Video musik lagu ini tidak hanya menampilkan performa band seperti biasa. Di balik lirik yang melankolis dan aransemen yang kuat, "Runaway Train" disertai foto dan nama anak-anak yang hilang, disusun layaknya pengumuman layanan publik.

Beberapa versi video diproduksi menyesuaikan wilayah tayang. Versi Amerika Serikat dimulai dengan layar hitam bertuliskan: “Ada lebih dari satu juta anak muda yang tersesat di jalanan Amerika”. Sementara versi Inggris berbunyi: “100.000 anak muda tersesat di jalanan Inggris”.

Tak sekadar estetika visual, upaya ini membuahkan hasil yang sangat nyata. Setidaknya 21 hingga 26 anak yang ditampilkan dalam video tersebut berhasil ditemukan.

“Tony Kaye yang membuat videonya,” ujar vokalis Soul Asylum, Dave Pirner, dalam The James McMahon Music Podcast, menjelang kembalinya band ini ke Inggris bersama Everclear.

“Waktu itu, dia mengangkat soal karton susu. Di Amerika dulu sempat tren menampilkan foto anak hilang di karton susu. Lalu dia bilang, ‘Bagaimana kalau kita coba cari anak-anak itu?’ Dan ide itu langsung mengena buat saya. Saya pikir, ‘Ini lebih besar dari sekadar video promosi bodoh. Ini bisa punya makna.’ Dan akhirnya kami mulai dari situ. Saya rasa video itu benar-benar membawa dampak. Sesuatu yang jarang bisa dikatakan tentang video musik,” lanjut Dave.

 


Terlibat Secara Emosional

Soul Asylum bermain di Whitehouse atau Gedung Putih pada bulan November 1993. (Wikimedia Commons/Whitehouse Photagrapher)

Dalam proses pembuatan video, Dave juga ikut terlibat secara emosional. “Saya jadi lebih memahami bahwa kabur dari rumah itu beda banget dengan penculikan,” katanya.

Salah satu pengalaman yang membekas adalah ketika seorang anak perempuan bernama Polly Klaas menghilang.

“Saya pergi ke Petaluma, California, bukan untuk ikut pencarian, tapi untuk makan malam bersama orang tuanya. Saya nggak bisa membayangkan hal yang lebih mengerikan dari kehilangan anak,” terang Dave Pirner.

Lanjut Baca:

Polly Klaas, saat itu berusia 12 tahun, diculik dengan ancaman pisau saat sedang mengikuti pesta tidur di rumah ibunya. Ia kemudian ditemukan telah dibunuh. Pelakunya, Richard Allen Davis, divonis hukuman mati pada 1996. “Saya banyak menghabiskan waktu dengan seorang pria bernama Ernie dari Missing & Exploited Children. Hal ini kemudian menjadi semacam misi pribadi buat saya,” kata Dave. “Yang tragis adalah, waktu video itu dibuat, istilah seperti ‘perdagangan manusia’ belum umum, dan sistem peringatan seperti Amber Alert pun belum ada. Tapi sekarang kita sudah lebih maju, dan saya bersyukur bisa melakukan sesuatu saat itu,” ungkapnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya