Liputan6.com, Jakarta - Orang Indonesia mengenal daun singkong sebagai sayuran pelengkap menu makan yang kerap diolah sebagai sayur atau lalapan. Namun, siapa sangka jika tanaman ini tak sekadar bermanfaat sebagai sumber serat, melainkan juga berpotensi besar dalam dunia medis, khususnya sebagai alternatif pengobatan penyakit kulit (dermatitis).
Adalah tiga mahasiswi Program Studi Sains dan Teknologi Farmasi Sekolah Farmasi Insitut Teknologi Bandung (ITB) yang menggali potensi daun singkong lebih dalam. Mereka yakni Mary Triana, Tiffany Winata JIngga, serta Fortuna Aurellia Sandra Dewi. Di Bawah bimbingan Dosen Sekolah Farmasi ITB Dr apt. Rika Hartati, riset ketiga mahasiswi Angkatan 2022 itu berhasil meraih Juara 1 kategori Karya Tulis Ilmiah (KTI) dalam ajang Pharmaland 2025 yang digelar Universitas Islam Malang pada 18 Mei lalu.
Advertisement
Alternatif alami untuk Mengatasi Masalah Kulit
Dermatitis atau masalah kulit bukanlah hal asing, khususnya pada bayi dan anak-anak. Kulit kering, gatal, hingga peradangan kronis menjadi keluhan Utama. Selama ini, obat dermatitis yang umum digunakan adalah krim berbahan kortikosteroid. Meski krim tersebut efektif, penggunaannya dalam jangka panjang memiliki efek samping, mulai dari penipisan kulit hingga gangguan hormon.
Di situlah tim riset mahasiswa ITB melihat peluang bagi bahan pengobatan alternatif.
“Kami memilih topik ini karena merasa perlu mencari solusi yang lebih aman dan efektif, terutama bagi bayi dan anak-anak yang kondisi kulitnya masih sangat sensitif,” jelas Mary Triana, ketua tim, mengutip laman itb.ac.id.
Daun singkong (Manihot esculenta), yang selama ini luput dari sorotan medis, ternyata memiliki kandungan rutin—senyawa flavonoid yang memiliki sifat antiinflamasi, antibakteri, dan antioksidan. Artinya, ada potensi nyata bahwa ekstrak daun singkong bisa membantu meredakan gejala dermatitis tanpa efek samping yang berat.
Dari Dapur ke Dunia Riset
Ide pemanfaatan daun singkong bukan muncul begitu saja. Tim melakukan diskusi intensif dan brainstorming terhadap berbagai penyakit kulit dan tanaman lokal yang relevan dengan tema kompetisi: “Eksplorasi Potensi Bahan Alam sebagai Pengobatan Penyakit Kulit”.
Mereka pun kemudian menyusun karya tulis yang fokus pada formulasi sediaan berbasis nanoemulsi. Diketahui, nanoemulsi adalah salah satu bentuk sediaan yang stabil, transparan dan mempunyai ukuran droplet sangat kecil, biasanya berkisar pada 20-200 nm. Ukuran tersebut memungkinkan bahan aktif dapat terserap lebih efektif ke lapisan kulit.
Kemenangan yang Memberi Dampak
Kemenangan karya ilmiah tim ITB ini bukan hanya soal prestasi. Mereka berharap gagasan tersebut bisa dikembangkan lebih lanjut hingga pada tahap riset klinis, dan dapat menjadi produk yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.
Dalam menyusun karya ilmiah tersebut, tim mengakui mereka saling memberi kritik dan saran serta memperhatikan detail.
"Kami saling memberi kritik dan saran tanpa baper. Selain itu, kami benar-benar memperhatikan detail, terutama dalam pemilihan bahan dan dasar ilmiahnya,” kata Mary, menggambarkan dinamika tim mereka.
Mary juga mendorong mahasiswa lain untuk berani mencoba. “Pastikan semua anggota ikut dalam proses ideasi, lakukan riset yang mendalam, dan ciptakan karya yang orisinal. Kalau bisa, minta masukan dari dosen dan latih presentasinya sebaik mungkin. Yang terpenting, pahami betul isi KTI yang dibuat, supaya bisa tampil percaya diri dan menjawab pertanyaan dengan lancar,” ujarnya.