25 Mei 1907: Jejak Kontribusi Maskoen Soemadiredja dalam Pembangunan Bangsa

Sosok pahlawan asal Bandung ini lahir pada 25 Mei 1907. Ia adalah putra pasangan Raden Umar Soemadiredja dan Nyi Raden Umi.

oleh Switzy SabandarDiperbarui 02 Juni 2025, 10:34 WIB
Ilustrasi pahlawan nasional Indonesia. (Image by pikisuperstar on Freepik)

Liputan6.com, Yogyakarta - Maskoen Soemadiredja adalah sosok pahlawan nasional yang berperan penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namanya memang jarang terdengar, tetapi jejak kontribusinya dalam pembangunan bangsa tak bisa dilupakan.

Sosok pahlawan asal Bandung ini lahir pada 25 Mei 1907. Ia adalah putra pasangan Raden Umar Soemadiredja dan Nyi Raden Umi.

Mengutip dari laman resmi Kota Bandung, Maskoen Soemadiredja sudah terpapar semangat juang sejak dini. Jejak perjuangannya dimulai pada 1927 melalui Partai Nasional Indonesia (PNI).

Ia bergabung dengan PNI yang saat itu dipimpin Soekarno. Ia bahkan memegang posisi komisaris sekaligus sekretaris II PNI Bandung.

Selama bertugas, Maskoen aktif menyebarkan ide-ide nasionalisme. Ia juga berupaya membangun kesadaran politik di kalangan rakyat.

Maskoen kerap melakukan aksi-aksi propaganda yang membuat pemerintah kolonial geram. Hal tersebut membuat dirinya sempat dipenjara di Penjara Banceuy, Bandung.

Maskoen Soemadiredja dipenjara bersama Soekarno dan dua pemimpin PNI lainnya, Gatot Mangkoepraja dan Soepriadinata. Mereka dipenjara selama delapan bulan mulai Desember 1929.

Setelah keluar dari penjara, Maskoen tak berhenti berjuang. Ia kembali bergelut dalam dunia politik.

Namun pada 1930, ia kembali ditangkap dan dibuang ke Digul. Tempat tersebut terkenal sebagai tempat pengasingan yang keras.

 

Politik Bawah Tanah

Selama di pengasingan, ia beserta tokoh-tokoh pergerakan lain mengalami penderitaan yang luar biasa. Meski demikian, Maskoen tetap aktif dalam kegiatan politik bawah tanah.

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia 1942, Maskoen dilarikan ke Australia. Maskoen mendirikan Organisasi Serikat Indonesia Baru di sana untuk menjaga semangat perjuangan di kalangan diaspora Indonesia.

Setelah masa kemerdekaan, Maskoen kembali ke Tanah Air dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial-politik. Bersama para mantan tahanan politik lainnya, ia mendirikan Persatuan Perintis Kemerdekaan Bekas Boven Digul (PPKBD).

PPKBD bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak mereka dan membangun kembali kehidupan pasca-penjajahan. Perjuangan Maskoen terhenti pada 4 Januari 1986.

Meskipun telah tiada, jejak perjuangan dan dedikasinya terhadap bangsa Indonesia tetap hidup dalam ingatan. Maskoen Soemadiredja mendapat gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No.089/TK/Tahun 2004.

Penulis: Resla

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya