MU Sudah Jatuh Tertimpa Tangga: Kalah di Final Liga Europa, Harus Bayar Rp200 Miliar Pula

Manchester United mendapat pukulan finansial besar usai dipastikan absen dari Liga Champions untuk musim kedua berturut-turut. Akibatnya, mereka harus membayar kompensasi sebesar £10 juta (sekitar Rp200 miliar) kepada sponsor apparel mereka, Adidas.

oleh Ari Rachman PrayogaDiperbarui 23 Mei 2025, 11:48 WIB
Di liga domestik, Setan Merah tampil inkonsisten sepanjang musim 2024/2025. (CESAR MANSO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Nestapa Manchester United musim ini tak berhenti di kekalahan di final Liga Europa. Klub berjuluk Setan Merah itu kini menghadapi pukulan finansial besar usai dipastikan absen dari Liga Champions untuk musim kedua berturut-turut. Akibatnya, mereka harus membayar kompensasi sebesar £10 juta (sekitar Rp200 miliar) kepada sponsor apparel mereka, Adidas.

Kesepakatan antara Manchester United dan Adidas menetapkan bahwa klub harus tampil di Liga Champions secara konsisten. Jika gagal lolos selama dua musim beruntun, seperti yang terjadi saat ini, maka klausul penalti aktif. Kekalahan di final Liga Europa pada Rabu malam menjadi penentu nasib tragis tersebut.

Musim ini, performa United di Premier League juga jauh dari kata memuaskan. Dengan satu laga tersisa, mereka tercecer di posisi ke-16 klasemen—angka yang mencerminkan krisis, bukan hanya di atas lapangan, tetapi juga di meja direksi.


Finansial MU Berantakan

Ekspresi para pemain Manchester United atas kekalahan mereka di final Liga Europa musim 2024/2025 melawan Tottenham Hotspur di stadion San Mames, Bilbao pada 21 Mei 2025 waktu setempat atau Kamis (22/5) dini hari WIB. (Josep LAGO/AFP)

Dampaknya bukan sekadar kehilangan pemasukan dari hak siar dan hadiah Liga Champions, tapi juga potensi runtuhnya daya tarik komersial klub. Setelah masa keemasan era Sir Alex Ferguson, ini adalah kali kedua United absen dari seluruh kompetisi Eropa, setelah sebelumnya terjadi pada musim 2014/15.

Sponsor pun mulai goyah. Kerja sama dengan Tezos untuk jersey latihan akan berakhir musim panas ini, dan belum ada kepastian soal penggantinya. Salah satu petinggi klub bahkan mengakui kepada BBC bahwa absennya United dari Eropa bisa merusak model bisnis mereka secara menyeluruh.

"Ketika Anda tak bermain di Eropa, orang mulai bertanya: 'Apakah ini masih klub besar?' Tanpa kemenangan, semua bisa runtuh. Pendapatan sponsor adalah ‘darah’ yang menjaga klub tetap hidup," ujarnya.

Ia juga memperingatkan bahwa, tanpa arus kas yang stabil, klub bisa saja terpaksa menjual bintang muda seperti Alejandro Garnacho dan Kobbie Mainoo demi menyeimbangkan neraca.


MU Belum Siap

Pelatih Manchester United, Ruben Amorim, dan para pemainnya tampak kecewa setelah ditaklukkan Tottenham Hotspur pada laga final Liga Europa di Stadion Mames, Bilbao, Spanyol, Kamis (22/5/2025). (AP Photo/Bernat Armangue)

Ironisnya, pelatih Ruben Amorim sempat berkata bahwa timnya "belum siap" untuk Liga Champions, lebih karena pertimbangan kualitas skuad ketimbang aspek finansial.

Namun dengan hasil mengecewakan di final Liga Europa, keinginannya secara tak langsung terkabul—meski tentu bukan dalam arti yang diharapkan para pendukung.


Dilema Besar MU

Pemain Manchester United, Bruno Fernandes, tertunduk lesu setelah ditaklukkan Tottenham Hotspur pada laga final Liga Europa di Stadion Mames, Bilbao, Spanyol, Kamis (22/5/2025). (AP Photo/Bernat Armangue)

Kini United dihadapkan pada dilema besar: melakukan perombakan skuad besar-besaran di tengah tekanan finansial. Amorim dilaporkan membidik beberapa nama untuk menyegarkan tim, termasuk Matheus Cunha (Wolves) dan Liam Delap (Ipswich). Dua nama itu saja bisa menghabiskan dana lebih dari £90 juta.

Meski pemasukan dari Liga Champions sirna, United disebut masih bisa mengeksekusi pembelian tersebut. Namun kebutuhan akan winger baru dan gelandang tengah tetap mendesak, dan akan sangat menentukan arah proyek Amorim di musim depan.

Satu hal yang pasti, kejayaan masa lalu kini tak lagi cukup jadi jaminan masa depan. Bagi Manchester United, waktu untuk bangkit sudah sangat mendesak—baik di lapangan maupun dalam laporan keuangan.

Sumber: Mirror

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya