Liputan6.com, Jakarta - Ada penampilan berbeda dari rombongan jemaah haji Indonesia asal Kabupaten Gayo Lues, Aceh, pada Rabu malam, 21 Mei 2025. Di antara busana serba putih yang menutup kepala hingga ujung kaki, ada syal cantik terkalung di leher para jemaah.
Warna-warnanya mencolok, perpaduan merah, hijau tosca, dan kuning. Tenunan benangnya rapi, terjalin membentuk motif geometri di atas dasar kain hitam. Ada pula sedikit pola seperti salur khas Aceh di antara motif-motif geometri itu yang menggunakan benang putih.
Advertisement
"Ini kerawang. Kerawang Gayo. Kerawang Aceh pun ada, kerawang Takengon pun kan ada, tapi ini beda," kata Jawiriyah ketika petugas Media Center Haji (MCH) 2025 menanyainya.
Warna-warna mencolok itu lah menjadi ciri khas dari kerawang Gayo. Di keseharian, wastra kebanggaan masyarakat Gayo Lues itu biasa dipakai untuk busana pengantin.
Ibu asal Kecamatan Blangkejeren itu mengaku syal cantiknya disiapkan oleh ketua rombongan. Saya dan rombongan MCH 2025 kemudian mengalihkan pertanyaan kepada Abdul Kariman, Ketua Rombongan 10 Kloter BTJ 04.
Kepada kami, ia menjelaskan bahwa kain tersebut bukan disiapkannya secara pribadi melainkan oleh pemerintah daerah setempat. Syal itu diberikan saat melepas rombongan jemaah haji dari Gayo Lues sebelum terbang menuju Tanah Suci.
"Bila dipakai kerawang Gayo ini kan nanti saya lebih mudah mengontrol daripada anggota," ia menjelaskan alasan penggunaan syal tersebut.
Tradisi Bertahun-tahun
Abdul menerangkan pemakaian syal kerawang itu bukan pertama kali, tetapi tradisi sejak lama. "Tahun lalu itu juga, untuk memudahkan," katanya.
Selain dipakai di perkawinan, kerawang oleh masyarakat Gayo juga suka digunakan di acara-acara kesenian. Kain itu dulunya disulam secara manual, tapi kini lebih banyak diproduksi menggunakan mesin.
Jemaah menerimanya sebagai hadiah dari pemerintah daerah setempat. Total rombongannya ada 22 jemaah dan seorang petugas.
"Pemerintah daerah setiap tahunnya ada ciri khas, baik dalam bentuk batik maupun dalam bentuk syal seperti ini," ia menambahkan.
Makna Masing-masing Warna
Seperti kebanyakan wastra nusantara lainnya, kerawang Gayo merupakan wujud kebudayaan tingkat tinggi. Mengutip laman RRI, Kamis (22/5/2025), kain itu menggambarkan kehidupan suku Gayo.
Setiap warna yang dipakai memiliki makna. Hitam, misalnya, merupakan hasil keputusan adat.
Sementara, merah pertanda berani dalam kebenaran. Warna hijau adalah perlambang rajin dalam kehidupan.
Selanjutnya, putih tanda suci dalam tindakan lahir dan batin. Terakhir, kuning adalah tanda kehati-hatian dalam melangkah.
Selain menjadi seni ukir hias pakaian, motif kerawang Gayo juga diterapkan pada benda-benda seperti tas, dompet, peci, dan gelang.
Diakui sebagai Warisan Budaya Nasional
Mengutip jurnal berjudul Kerawang Gayo: Studi Etnografi di Kampung Bebesen Kabupaten Aceh Tengah, ternyata motif kerawang Gayo telah ditetapkan sebagai warisan budaya nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 270/P/2014. Hingga kini, belum diketahui pasti jumlah motif kerawang Gayo.
Meski begitu, motif yang umum pada kerawang Gayo meliputi emun beriring, emun berangkat, tekukur, tapak seleman, mata ni Lo, emun berkune, emun mupesir, dan pucuk ni tuis.
Sejarahnya dimulai ketika membuat rumah reje dan yang menjahitnya menjadi motif yang indah adalah Abdullah pada 1970. Fungsi motif Kerawang Gayo adalah sebagai hiasan dan keindahan setelah melalui proses ker dan Rawang (daya pikir yang diwujudkan).