Liputan6.com, Jakarta - Para peneliti Weizmann Institute of Science menemukan bahwa tikus tidak hanya menggunakan kumisnya (vibrissae) untuk meraba, tetapi juga untuk mendengar suara yang dihasilkan saat kumis tersebut menyentuh permukaan. Studi ini membuka wawasan baru mengenai bagaimana sistem sensorik tikus bekerja secara multimodal, yaitu dengan menggabungkan indera peraba dan pendengaran untuk memahami dunia di sekitarnya.
Melansir laman Earth pada Kamis (22/05/2025), sebelumnya gerakan kumis tikus dianggap semata-mata sebagai alat peraba, seperti halnya jari manusia yang menyentuh permukaan untuk merasakan tekstur. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ketika kumis tikus menyapu permukaan seperti daun, kain, atau aluminium foil, kumis tersebut menghasilkan getaran halus yang menimbulkan suara ultrasonik.
Advertisement
Meskipun suara ini sangat lemah dan berada di luar jangkauan pendengaran manusia, tikus mampu menangkapnya dengan sangat baik. Para peneliti merekam aktivitas di korteks auditori tikus bagian otak yang memproses suara dan mendapati bahwa area ini menunjukkan aktivitas tinggi setiap kali kumis menyentuh permukaan, bahkan ketika jalur saraf somatosensorik (jalur yang memproses sentuhan) diblokir.
Artinya, tikus tetap “menyadari” adanya kontak meskipun tidak bisa merasakannya, karena suara dari gesekan kumis itu cukup untuk memberi informasi lingkungan. Untuk memastikan temuan tersebut, tim peneliti mengembangkan model kecerdasan buatan (AI) yang dilatih menggunakan data suara dan rekaman aktivitas otak tikus.
Hasilnya, model ini mampu mengidentifikasi jenis permukaan hanya dari pola suara ultrasonik yang dihasilkan kumis. Fenomena ini mengindikasikan bahwa otak tikus dapat menguraikan informasi spesifik hanya dari suara yang dihasilkan oleh interaksi fisik kumis dengan objek di lingkungan mereka.
Pertanyaan Baru
Penemuan ini menggugah pertanyaan baru tentang bagaimana hewan lain menggunakan kumisnya. Kucing, anjing, ferret, dan hewan pengerat lain juga memiliki vibrissae yang sensitif.
Penelitian lebih lanjut kini tengah dilakukan untuk mengeksplorasi apakah tikus dapat mengenali suara yang lebih kompleks atau belajar mengenali objek baru hanya dari suara gesekan kumis. Temuan ini juga membuka peluang pengembangan teknologi sensorik biomimetik, yakni teknologi yang meniru cara kerja sistem sensorik hewan untuk diterapkan pada robotika dan perangkat lunak deteksi lingkungan.
Dengan kata lain, cara tikus “mendengarkan” kumisnya sendiri bisa menjadi inspirasi dalam menciptakan sistem sensorik baru di masa depan.
(Tifani)