Ange Postecoglou dan Janji yang Terbayar: Membawa Spurs Juara di Musim Kedua

Nama Ange Postecoglou kini tercatat dalam sejarah Tottenham Hotspur sebagai pelatih yang membawa klub meraih trofi Eropa setelah 41 tahun penantian. Pelatih asal Australia itu sukses mengantar Spurs menjuarai Liga Europa 2024/2025 usai menang 1-0 atas Manchester United di final.

oleh Richard Andreas LuturmasDiperbarui 22 Mei 2025, 10:54 WIB
Pelatih kepala Tottenham, Ange Postecoglou, merayakan kemenangannya setelah mengalahkan Manchester United dalam pertandingan final Liga Europa di Stadion San Mames di Bilbao, Spanyol, Kamis dini hari WIB (22-5-2025). (AP Photo/Manu Fernandez)

Liputan6.com, Jakarta Nama Ange Postecoglou kini tercatat dalam sejarah Tottenham Hotspur sebagai pelatih yang membawa klub meraih trofi Eropa setelah 41 tahun penantian. Pelatih asal Australia itu sukses mengantar Spurs menjuarai Liga Europa 2024/2025 usai menang 1-0 atas Manchester United di final.

Kemenangan di Stadion San Mames, Bilbao, Kamis (22/5/2025) dini hari WIB, menjadi bukti ketepatan visi dan strategi Postecoglou yang sempat diragukan. Di tengah musim yang penuh tekanan di Premier League, ia mampu menjaga fokus dan motivasi tim di kompetisi Eropa.

Trofi ini menjadi pencapaian monumental dalam karier Postecoglou dan menjadi validasi atas pendekatan progresif yang ia terapkan di Tottenham. Meski tim terpuruk di liga, mereka justru bersinar di panggung Eropa.


Membangun Identitas Spurs di Tengah Krisis

Pelatih Kepala Tottenham Hotspur keturunan Yunani-Australia Ange Postecoglou memberi selamat kepada gelandang Tottenham Hotspur asal Swedia Dejan Kulusevski setelah pertandingan sepak bola tahap Liga Europa UEFA antara Tottenham Hotspur dan Tottenham Hotspur di Stadion Tottenham Hotspur di London, pada 26 September 2024. Tottenham memenangkan pertandingan dengan skor 3-0. Glyn KIRK / AFP

Postecoglou datang ke Spurs pada musim panas 2023 dan langsung membawa filosofi menyerang berbasis penguasaan bola. Namun, musim keduanya justru diwarnai kesulitan besar di Premier League, termasuk badai cedera dan performa inkonsisten.

Di tengah tekanan fans dan media, Postecoglou tidak mengubah gaya bermainnya. Ia tetap percaya pada proses dan memberikan kesempatan bagi pemain-pemain seperti Brennan Johnson dan Pape Matar Sarr untuk berkembang.

Strategi tersebut mulai membuahkan hasil di Liga Europa. Dalam situasi knock-out, Spurs bermain efisien dan matang, menunjukkan karakter tim yang telah terbentuk. Postecoglou berhasil menjaga atmosfer ruang ganti tetap positif meski hasil di liga domestik buruk.


Bayar Janji Juara di Musim Kedua

Pemain depan Tottenham Hotspur asal Korea Selatan, Son Heung-min mengangkat trofi Liga Europa saat merayakan kemenangan bersama rekan setimnya usai pertandingan final melawan Manchester United di stadion San Mames, Bilbao, pada 21 Mei 2025 waktu setempat atau Kamis (22/5) dini hari WIB. (Thomas COEX/AFP)

Gelar Liga Europa menjadi pembuktian nyata atas keteguhan dan visi jangka panjang Postecoglou. Setelah gagal mempersembahkan trofi di musim debutnya, ia membayar lunas kepercayaan klub dengan memberikan trofi di musim kedua.

Postecoglou sendiri pernah mengatakan bahwa dia selalu juara di musim keduanya. Statistik itu benar di klub-klub yang sebelumnya dia tangani, dan kini benar terbukti di Tottenham.

Kemenangan ini juga mengubah narasi musim Spurs. Dari tim yang nyaris degradasi di Premier League, mereka kini punya tiket ke Liga Champions dan status sebagai juara Eropa. Postecoglou menjadi arsitek di balik transformasi mendadak ini.

Usai pertandingan, sang pelatih mengatakan, "Kami tidak pernah berhenti percaya. Sepanjang musim kami mendapat tekanan, tetapi para pemain tidak menyerah."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya