Liputan6.com, Jakarta Son Heung-min segera berlutut usai wasit Felix Zwayer meniup peluit akhir laga final Liga Europa 2024/2025, Kamis (22/5) dini hari WIB. Dia dipenuhi rasa haru karena baru saja membawa Tottenham jadi juara Liga Europa.
Tottenham tampil sebagai juara pada laga di San Mames tersebut. Tottenham menang setelah Brennan Johnson membobol gawang Andre Onana pada menit ke-42. Gol yang membuat klub London Utara menang dengan skor 1-0.
Advertisement
Kemenangan yang punya arti sangat besar, baik untuk Tottenham maupun Son Heung-min. Bagi Tottenham, ini adalah trofi mayor pertama mereka dalam 17 tahun. Terakhir, mereka juara Piala Liga pada 2008 yang lalu.
Sedangkan, bagi Son Heung-min, trofi Liga Europa jadi momen pertama baginya jadi juara pada level klub. Son Heung-min pun menangis, seperti yang terjadi pada 2018 lalu di Stadion Pakansari bersama Korea Selatan.
Tangis Bahagia di Pakansari: Emas Penentu Masa Depan
Tangis Son Heung-min mungkin akan membawa ingatan fans ke di Stadion Pakansari, pada ASIAN Games 2018. Kala itu, tekanan menghimpit Son Heung-min dan Timnas Korea Selatan.
Lebih dari sekadar medali emas, ada masa depan yang dipertaruhkan: pembebasan dari wajib militer yang mengancam kariernya di Eropa. Pertandingan final melawan Jepang adalah pertarungan hidup-mati, dan mereka menang 2-1.
Peluit panjang dibunyikan, dan seketika itu juga, pemandangan mengharukan terjadi. Son Heung-min, yang saat itu menjadi kapten dan inspirator tim, jatuh berlutut, air mata mengalir deras membasahi wajahnya. Tangis itu bukan tangis kekalahan, melainkan tangis kelegaan yang luar biasa.
Son Heung-min telah menjadi pemain penting bagi Korea Selatan. Namun, belum ada gelar juara yang didapat. Pada Piala Asia 2015, mereka mampu melaju ke final, tetapi kalah 1-2 dari tuan rumah Australia.
Tangis Haru Son Heung-min di Puncak Eropa
Waktu terus berjalan, dan Son Heung-min terus menulis kisahnya di panggung sepak bola Eropa bersama Tottenham Hotspur. Selama bertahun-tahun, ia telah menjadi tulang punggung tim, baik bersama atau tanpa Harry Kane.
Son Heung-min mencetak gol, memberikan assist, dan menjadi idola bagi para penggemar The Lilywhites. Namun, ada satu hal yang terus menghantuinya dan Tottenham: trofi mayor.