Kurs Dolar AS Hari Ini 21 Mei 2025

Pada pembukaan perdagangan hari Rabu di Jakarta, kurs dolar AS atau rupiah tercatat menguat tipis sebesar 1 poin atau 0,01 persen

oleh Ilyas Istianur PradityaDiperbarui 21 Mei 2025, 10:30 WIB
Tercatat ada sebanyak 234 saham yang mengalami kenaikan, 383 turun, dan 186 stagnan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Pada pembukaan perdagangan hari Rabu di Jakarta, kurs dolar AS atau rupiah tercatat menguat tipis sebesar 1 poin atau 0,01 persen ke level 16.412 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di 16.413 per dolar AS

Nilai tukar rupiah terus menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap memburuknya kondisi fiskal Negeri Paman Sam. Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan kurs dolar AS membuka peluang bagi rupiah untuk menguat lebih lanjut.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang masih melemah, tertekan oleh kekhawatiran seputar defisit anggaran Pemerintah AS,” ujar Lukman dikutip dari ANTARA, Rabu (21/5/2025).

Pemicu Kekhawatiran Investor

Salah satu pemicu utama kekhawatiran investor adalah penurunan peringkat utang AS oleh lembaga pemeringkat Moody’s, dari Aaa menjadi Aa1. Penurunan ini dipandang sebagai sinyal memburuknya kondisi fiskal AS yang belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Moody’s menyoroti meningkatnya utang pemerintah dan pembayaran bunga sebagai alasan utama di balik keputusan tersebut.

Kegagalan pemerintah dan Kongres AS dalam membalikkan tren defisit fiskal tahunan yang besar serta kenaikan tajam biaya bunga juga turut memicu tekanan terhadap dolar AS.

 

Potensi Utang AS Memburuk

Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Laporan Moody's menyebutkan bahwa defisit anggaran federal AS diperkirakan akan melebar hingga hampir 9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2035, meningkat signifikan dari 6,4 persen pada tahun 2024. Di sisi lain, rasio utang federal terhadap PDB juga diperkirakan melonjak menjadi 134 persen pada 2035, dari posisi 98 persen pada 2024.

Data terbaru dari Departemen Keuangan AS mengungkapkan bahwa per April 2025, defisit anggaran pemerintah federal mencapai 1,05 triliun dolar AS, melonjak dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 855,2 miliar dolar AS.

Sementara itu, utang nasional AS kini telah menembus 36,2 triliun dolar AS, jauh melampaui PDB AS yang rata-rata berada di angka 28,83 triliun dolar AS untuk tahun fiskal 2024.

Rasio utang terhadap PDB AS yang mencapai 123 persen menunjukkan tingginya tekanan terhadap pemerintah dalam memenuhi kewajiban pembayaran utang di tengah beban bunga yang terus meningkat.

 

Prediksi Rupiah Hari Ini

Petugas menghitung uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Senin (9/11/2020). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat pada perdagangan di awal pekan ini Salah satu sentimen pendorong penguatan rupiah kali ini adalah kemenangan Joe Biden atas Donald Trump. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kekhawatiran terhadap defisit fiskal dan penurunan peringkat utang AS juga membuat para pejabat The Fed mengambil sikap dovish, yakni cenderung menahan atau menurunkan suku bunga. Sikap ini turut melemahkan dolar AS di pasar global, dan secara tidak langsung menjadi sentimen positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Pernyataan dovish pejabat juga menekan dolar, (sejalan dengan) kekhawatiran akan dampak defisit dan penurunan rating kredit,” jelas Lukman.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Lukman memproyeksikan bahwa nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang Rp16.350 hingga Rp16.450 per dolar AS dalam waktu dekat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya