Liputan6.com, Jakarta - Raut wajah dua jemaah haji lansia terlihat kebingungan ketika memasuki Paviliun D2 Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah pada Minggu sore, 18 Mei 2025. Anggota rombongan Kloter Kualanamu (KNO) 14 itu berdiri agak mematung, menengok ke sekeliling seolah mencari bantuan.
"Ibu, rombongan berapa?" tanya saya kepada kedua ibu lansia dengan busana serba putih rapi itu.
Advertisement
"Rombongan 6," jawab salah satu dari keduanya. Saya pun mencoba membantu sebisanya, menunjuk ke slot tempat duduk yang diperuntukkan bagi rombongan haji tersebut.
Agak tertatih, keduanya berjalan perlahan sambil menggeret koper kabin yang dibawa menuju tempat duduk yang ditunjukkan. Setelah duduk di kursi yang tersedia, mereka lalu bertanya kepada saya, "Mba, boleh sujud syukur di situ?" Jarinya menunjuk pada satu sudut yang agak kosong.
Awalnya saya mengarahkan mareka ke musala yang memang tersedia di paviliun tersebut, tetapi mereka tetap memilih tempat itu. Setelah memastikan arah kiblat, mereka beranjak ke pojokan. Koper yang dibawa ditinggalkan begitu saja dekat kursi yang semula diduduki.
Slayer merah yang mereka kalungkan di leher dibuka, dijadikan alas dahi untuk bersujud kepada Sang Pencipta. Beberapa menit menundukkan kepala, kedua lansia itu kembali duduk di kursi.
Sempat Tertunda karena Pandemi Covid-19
Sambil mengobrol santai diketahui bahwa kedua lansia itu adalah kakak beradik. Sang kakak bernama Patmi Kasmijan, sedangkan adiknya bernama Painah Kasmijan. Mereka tinggal di Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.
Tahun 2025 menjadi pengalaman pertama mereka naik haji. Meski begitu, kisah panggilan perjalanan ke Tanah Suci keduanya berbeda. Patmi yang kini berusia 72 tahun itu misalnya, sudah mendaftar haji sejak 2013.
Ia tak menyangka baru dipanggil tahun ini karena menurut nomor porsinya, semestinya perempuan yang berprofesi sebagai modin alias orang yang memandikan jenazah itu berhaji tujuh tahun lalu. "Nomor porsinya 2019. Karena ada Covid, jadinya mundur sampai 2025," celoteh Patmi.
Sementara, Painah mendaftar haji pada 2017. Ibu rumah tangga itu disebut bisa berhaji karena mendampingi kakaknya yang usianya berbeda hanya dua tahun.
"Dia (Painah) yang kepengen. 'Aku kok kepengen ikut'. Ditanyaken kok boleh (mengajukan diri sebagai pendamping," Patmi menerangkan.
"Katanya kalau (se)bapak kandung, mama kandung ya boleh. Lagi pun aku sudah puluhan tahun," timpal Painah.
Persiapan Naik Haji
Baik Painah maupun Patmi bersyukur diberi kesempatan berhaji di usia senja. Meski gerak sudah tak selincah 13 tahun lalu, mereka mengaku masih diberi kesehatan dan keselamatan dari Allah SWT untuk bisa menunaikan rukun Islam kelima tersebut.
Apa saja persiapan yang dilakukan sejak dari Tanah Air? "Ya banyak.. ada baju, kerupuk-kerupuk, ada roti," tutur Painah membeberkan bekal yang dibawanya. "Demi memenuhi panggilan Allah, alhamdulillah," sambung sang kakak.
Mereka juga terus menguatkan mental. "Satu-satunya jalan ya mohon sama Allah diberi kesehatan, keselamatan, dilapangkan pikiran," sambung Patmi.
Soal menjaga kesehatan, keduanya mengaku rajin berjalan kaki saat beraktivitas ke mana-mana, termasuk salat subuh dekat masjid rumah mereka, karena kondisi fisik yang memungkinkan lagi membawa kendaraan seorang diri.
"Rumahnya kan berendengan," cetus Painah. Walau begitu, keduanya mengaku siap menjalani rangkaian ibadah haji yang menuntut fisik yang prima.
Merasa Dapat Keluarga Baru
Meski hanya pergi berdua, Painah dan Patmi tak merasa takut apalagi khawatir. Menurut Painah, petugas haji dan sesama anggota rombongan begitu menyayanginya dan memerhatikan mereka sejak kumpul di Embarkasi Medan. Mereka bahkan merasa mendapat keluarga baru dari perjalanan menuju Tanah Suci ini.
"Alhamdulillah baik-baik, sayang-sayang. Cukup lah," katanya. "Enggak takut lah, kan banyak keluarga di sini," sambungnya lagi.
Hanya satu pengalaman kurang menyenangkan yang dialami, yakni pesawat Garuda Indonesia yang mereka tumpangi terpaksa kembali ke landasan pacu Bandara Kualanamu Deli Serdang. "Katanya tadi ada kondisi darurat atau apa gitu," ujar Patmi.
Pesawat pun delay hingga lebih dari setengah jam sebelum kembali diberangkatkan menuju Jeddah dan tiba sekitar pukul 15.08 waktu Arab Saudi (WAS). Mengutip Antara, Senin (19/5/2025), insiden terjadi lantaran masalah teknis pesawat.
"Ada flap door untuk ruang avionics itu menyala (lampunya)," kata Kepala Bidang Angkutan Udara dan Kelayakan Udara Kantor Otoritas Bandara Wilayah II Medan, Muhammar Mukhtar.