Air Mata di Ibu Kota: Kisah Cinta Claudio Ranieri dan AS Roma

Pada 13 November 2024, rumor kembalinya Claudio Ranieri ke AS Roma mulai berhembus. Sehari setelahnya, dia resmi diumumkan sebagai pelatih baru Giallorossi. Dari sana, kisah keajaiban dimulai.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 19 Mei 2025, 11:54 WIB
Pelatih AS Roma Claudio Ranieri. (Filippo MONTEFORTE / AFP)

Liputan6.com, Jakarta Musim 2024/25 menjadi babak dramatis dalam perjalanan AS Roma. Klub ibu kota Italia ini sempat terlihat seperti perahu terombang-ambing, tanpa arah dan harapan yang jelas. Dua kali berganti pelatih, performa tim sempat jauh dari stabil.

Roma memulai musim dengan Daniele De Rossi di kursi pelatih. Namun, hasil buruk memaksa manajemen mengambil keputusan sulit. Ivan Juric masuk sebagai pengganti, tapi nasibnya pun tak jauh berbeda.

Roma seperti kehilangan jiwanya. Ketika situasi semakin suram, langkah tak terduga pun terjadi. Claudio Ranieri, yang telah pensiun, dipanggil kembali oleh klub yang amat dia cintai.

Pada 13 November 2024, rumor kembalinya Ranieri mulai berhembus. Sehari setelahnya, dia resmi diumumkan sebagai pelatih baru Giallorossi. Dari sana, kisah keajaiban dimulai.


Membangkitkan Roma dari Abu

Claudio Ranieri yang pensiun sebagai pemain pada Juli 1986 bersama Palermo tercatat pernah berseragam AS Roma selama semusim di awal kariernya pada 1973/1974 dan hanya tampil dalam 6 laga di semua kompetisi. Sebagai pelatih ia tercatat pernah membesut AS Roma selama dua setengah musim dalam dua periode, 2009/2010 hingga 2010/2011 dan pada tengah musim 2018/2019 menggantikan Eusebio Di Francesco. (AFP/Filippo Monteforte)

Ranieri turun gunung saat Roma terpuruk di papan bawah klasemen. "Kami memulai dari situasi sulit, tapi tim ini tidak kehilangan arah," ucapnya dengan bangga, usai mengalahkan AC Milan 3-1 di Olimpico pada pekan ke-37, seperti dikutip Football Italia. Dalam kondisi nyaris tanpa harapan, dia membangkitkan semangat yang nyaris padam.

Bersama para pemain yang katanya nyaris kehilangan harga diri, Ranieri membangun kembali fondasi kepercayaan. “Saya menaruh kepercayaan kepada mereka karena saya tahu saya tak bisa sendiri,” kata Ranieri. Sentuhan ajaibnya menyulut semangat baru.

Hasilnya adalah rentetan 19 laga tak terkalahkan yang membawa Roma kembali bersaing untuk tiket Liga Champions. "Kami perlahan berhasil mendaki gunung itu," ucapnya. Para pemain mengikuti arahannya tanpa ragu.

Ranieri membentuk Roma yang tangguh, bukan hanya di Serie A, tapi juga di Liga Europa dan Coppa Italia. Dia mengatakan, "Saya selalu katakan kepada pemain, bertarunglah hingga detik terakhir. Jika sudah berikan segalanya, apa pun hasilnya bisa diterima."


Tangisan di Stadion yang Membesarkannya

Pelatih AS Roma, Claudio Ranieri. (Filippo MONTEFORTE / AFP)

Pertandingan melawan Milan pada giornata ke-37 menjadi momen tak terlupakan. Roma menang 3-1 dan itu adalah laga terakhir Ranieri di Stadio Olimpico. Tangis haru mengalir di sepanjang malam itu.

Sebelum laga dimulai, Curva Sud dipenuhi dengan pesan terima kasih besar untuk Ranieri. Dia mengaku, “Saya menatap wasit dan mendesaknya untuk segera memulai laga,” katanya, sembari menahan air mata. Itulah sepak bola: emosi yang tak bisa dibendung.

Lanjut Baca:

Usai laga, sebuah parade diadakan sebagai penghormatan untuk karier Ranieri bersama Roma. Dia menerima hadiah, lalu berdiri di tengah lapangan dengan mikrofon di tangan. “Saya ada di antara kalian 60 tahun lalu, di tribune itu,” katanya terisak. “Saya minta bantuan kalian, kini tinggal satu langkah terakhir. Saya sangat bangga pada anak-anak ini. Terima kasih. Terima kasih yang tak terkira.” Dia menutup pidatonya diiringi gemuruh tepuk tangan. itu adalah sebuah momen yang akan terus hidup dalam kenangan kolektif para Romanisti.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya