Hilirisasi Nikel Cerah, Kinerja PT Vale Indonesia Diprediksi Makin Kuat

PT Vale Indonesia Tbk (PTVI), sebagai salah satu pemain utama di industri pertambangan nikel, diyakini memiliki posisi strategis untuk terus memperkuat kinerja bisnisnya.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 19 Mei 2025, 06:00 WIB
PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID kembali menegaskan komitmen untuk menjadi pemegang saham pengendali PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Foto: MIND ID

Liputan6.com, Jakarta Prospek hilirisasi nikel di Indonesia dinilai sangat menjanjikan, khususnya bagi para investor yang melihat potensi jangka panjang dari sektor ini. PT Vale Indonesia Tbk (PTVI), sebagai salah satu pemain utama di industri pertambangan nikel, diyakini memiliki posisi strategis untuk terus memperkuat kinerja bisnisnya.

Executive Director Indonesian Mining Association (IMA) Hendra Sinadia mengatakan pihaknya yakin PTVI yang selama ini cukup efisien dalam kegiatannya, ke depan akan semakin berkembang.

“Apalagi jika didukung dengan regulasi yang memperhatikan aspek keberlanjutan dunia usaha,” kata dalam keterangannya, dikutip Senin (19/5/2025).

Keyakinan Hendra ini didasari oleh laporan keuangan tahunan PTVI per 31 Desember 2024 yang disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).

Perusahaan yang tercatat dengan kode saham INCO tersebut mencatat pendapatan sebesar USD 950,4 juta dengan laba bersih sebesar USD 57,8 juta. 

Penopang Kinerja

Kinerja ini ditopang oleh produksi bijih nikel sebesar 14,6 juta ton, serta produksi dan pengiriman nikel matte masing-masing sebesar 71,3 ribu ton dan 72,6 ribu ton.

 

Proyek Besar

Karyawan memfoto layar pergerakan IHSG, Jakarta, Rabu (3/8/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/08/2022), ditutup di level 7046,63. IHSG menguat 58,47 poin atau 0,0084 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

PTVI saat ini tengah membangun proyek besar sebagai bagian dari komitmen hilirisasi, yang ditargetkan rampung antara tahun 2025 hingga 2026. 

Proyek ini meliputi pembangunan smelter HPAL di Pomalaa (Sulawesi Tenggara) dan Morowali (Sulawesi Tengah), serta smelter RKEF di Sorowako (Sulawesi Selatan).

Hendra menambahkan, agar hilirisasi nikel bisa berjalan optimal, dibutuhkan dukungan kebijakan dari pemerintah yang mampu meringankan beban biaya operasional industri. 

Menurutnya, dari sisi pelaku usaha, perusahaan tambang saat ini sudah mematuhi kewajiban Peningkatan Nilai Tambah (PNT) melalui kegiatan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri.

 

Kendala Rantai Pasok Nikel Nasional

Ilustrasi Nikel

Namun, ia menyoroti masih ada kendala pada rantai pasok industri nikel nasional. Karena belum lengkapnya ekosistem tersebut, banyak hasil pengolahan di dalam negeri yang akhirnya harus diekspor.

Lebih jauh, Hendra mengingatkan hilirisasi sektor tambang memerlukan investasi besar dan bersifat jangka panjang. Para investor akan melihat seberapa besar kepastian dari sisi regulasi dan kebijakan yang bisa menjamin kelangsungan investasi mereka ke depan.

“Agar bisa lebih sustain, dukungan kebijakan pemerintah yang dapat membantu industri meminimalkan beban biaya operasional sangat diharapkan. Dengan begitu, perusahaan bisa melanjutkan dan menambah investasinya. Demikian pula dengan potential investor akan semakin tertarik,” katanya.

Ia juga mengapresiasi langkah PTVI yang sejak awal telah menjadi pelopor pengolahan dan pemurnian nikel di dalam negeri melalui produksi nikel matte. Menurut Hendra, proses divestasi PTVI selama ini juga memberi dampak positif terhadap pengembangan perusahaan, sejalan dengan prioritas pemerintah dalam memperkuat hilirisasi dan industrialisasi nasional.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya