Aliansi Militer dengan Tiongkok, Pakistan Kerap Alami Masalah Teknis

Dalam beberapa waktu terakhir, ketergantungan Pakistan terhadap senjata buatan Tiongkok malah memperlihatkan sisi rentannya.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiperbarui 18 Mei 2025, 18:43 WIB
Ilustrasi bendera Pakistan (pixabay)

Liputan6.com, Islamabad - Selama bertahun-tahun, Tiongkok menjadi mitra pertahanan utama bagi Pakistan—pemasok senjata yang murah, cepat dikirim, dan bebas dari tekanan politik yang kerap menyertai kerja sama dengan negara Barat. Namun, kepercayaan jangka panjang ini kini mulai retak, seiring dengan meningkatnya laporan tentang ketidakterandalan peralatan militer buatan Tiongkok.

Dalam beberapa waktu terakhir, ketergantungan Pakistan terhadap senjata buatan Tiongkok—mulai dari pesawat nirawak (drone), tank, kapal perang, hingga sistem rudal—malah memperlihatkan sisi rentannya. Alih-alih memperkuat posisi militer, Islamabad justru dinilai tengah "mengimpor kerentanan."

Salah satu contoh paling mencolok adalah drone Wing Loong II yang selama ini dijagokan sebagai tulang punggung operasi udara tanpa awak Pakistan. Hanya dalam beberapa bulan sejak mulai dioperasikan, tiga unit drone tersebut dilaporkan mengalami kerusakan serius dan harus dikirim kembali ke Tiongkok untuk perbaikan, dikutip dari laman Mekong News, Kamis (15/5/2025).

Masalah serupa juga menghantui sistem rudal FM-90(N) milik Pakistan. Sensor inframerah dan radar yang rusak membuat sistem pertahanan ini gagal mengunci target. Dalam konteks militer, sistem semacam itu bukan hanya tidak berguna—tetapi bisa membahayakan.

Kegagalan teknis juga menjalar ke armada laut dan korps lapis baja Pakistan. Fregat F-22P, hasil kolaborasi kedua negara, menunjukkan kerusakan mesin sebelum waktunya serta berbagai kekurangan teknis yang membatasi kemampuan tempur. Sementara itu, tank tempur utama VT-4 yang digadang-gadang sebagai modernisasi kekuatan darat, tampil mengecewakan saat uji coba dan meragukan ketahanannya dalam medan tempur sebenarnya.

Yang terjadi bukan kesalahan teknis tunggal, melainkan pola kerusakan yang membentuk tren mengkhawatirkan.

 

Bangladesh Alami Masalah Serupa

Bendera Bangladesh (Pixabay)

Masalah ini pun bukan hanya dialami Pakistan. Negara-negara di kawasan selatan dunia juga mulai merasakan getirnya kerja sama militer dengan Tiongkok.

Bangladesh mengembalikan pesawat K-8W dan tank MBT-2000 karena kerusakan parah dan kekurangan suku cadang. Di Nigeria, jet tempur F-7 mengalami serangkaian kecelakaan hingga akhirnya dikandangkan. Myanmar pun melaporkan masalah akurasi radar dan integrasi rudal pada JF-17, jet tempur yang dikembangkan bersama Tiongkok. Bahkan kapal selam yang dikirim ke Bangladesh ternyata sudah uzur dan tidak bisa digunakan secara efektif.

Masalah dasarnya, senjata buatan Tiongkok lebih ditujukan untuk memperluas pengaruh politik ketimbang menciptakan keunggulan tempur. Perangkat keras militer ini adalah alat diplomasi, bukan alat kemenangan perang. Dirancang bukan untuk mengalahkan musuh di medan laga, tapi untuk merebut hati negara klien.

Bagi Pakistan, konsekuensinya sangat nyata. Dalam konflik terbaru dengan India, kelemahan teknologi militer yang digunakan terlihat mencolok. Di masa damai, kelemahan ini bisa saja ditoleransi. Namun dalam masa perang, peralatan militer yang tak andal bisa menggagalkan strategi, bahkan membahayakan keselamatan negara.

 

Masalah di China

Ilustrasi Bendera China (AFP/STR)

Salah satu insiden paling mencolok terjadi di dalam negeri Tiongkok sendiri. Sebuah drone Wing Loong-2 jatuh saat uji coba di Provinsi Hubei dan menabrak gedung di dekat Pusat Olahraga Olimpiade Jingzhou. Kecelakaan itu tak hanya menyebabkan luka-luka, tapi juga menggugah kekhawatiran serius tentang mutu sistem militer buatan Tiongkok.

Laporan lain menyebut bahwa drone CH-4B milik Angkatan Darat Pakistan mengalami serangkaian kegagalan: mulai dari GPS yang error, kamera elektro-optik yang tidak berfungsi akibat kebocoran nitrogen, hingga radar yang rusak. Gangguan teknis ini merusak efektivitas operasional secara signifikan.

Investigasi lebih lanjut terhadap drone Wing Loong-2 juga menemukan fakta mengejutkan: banyak komponennya dibuat dengan material di bawah standar, tak sesuai spesifikasi yang dijanjikan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya