Harga Dolar AS Minggu Ini, Simak Pergerakannya

Melansir data Google Finance, Rupiah terhadap dolar AS menguat 0,72 persen terhadap dolar AS sepekan terakhir yang berarti dolar AS melemah terhadap Rupiah.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 18 Mei 2025, 16:00 WIB
Aktivitas karyawan saat menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (13/1/2025). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren penguatan selama sepekan terakhir, tepatnya pada periode 12 hingga 16 Mei 2025. Melansir data Google Finance, Rupiah terhadap dolar AS menguat 0,72 persen terhadap dolar AS sepekan terakhir yang berarti dolar AS melemah terhadap Rupiah.

Penguatan ini didorong oleh sejumlah sentimen positif, mulai dari ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS hingga masuknya aliran modal asing ke pasar domestik.

Melansir kanal Bisnis Liputan6.com, Minggu (18/5/2025), Rupiah menguat secara bertahap sejak pertengahan pekan. 

Perjalanan Rupiah Sepekan Terakhir

Pada Selasa, 13 Mei 2025, kurs rupiah terhadap dolar AS masih berada pada kisaran tinggi. Di e-rate BCA, kurs beli tercatat di Rp16.470 dan kurs jual di Rp16.690. Di bank BRI, kurs beli berada di Rp16.478 dan kurs jual Rp16.579. Ini mencerminkan posisi rupiah yang masih cukup tertekan.

Namun pada Rabu, 14 Mei 2025, rupiah mulai menunjukkan penguatan. Nilai tukar rupiah dibuka menguat 45 poin atau 0,27 persen ke posisi Rp16.582 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp16.627. Penguatan ini menjadi sinyal awal bahwa pasar merespons positif beberapa sentimen global yang mulai berkembang.

Penguatan rupiah berlanjut pada Kamis, 15 Mei 2025. Rupiah ditutup menguat 33 poin ke posisi Rp16.528 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp16.511 dalam perdagangan intraday. Sentimen investor yang mulai beralih ke aset berisiko turut mendukung penguatan tersebut.

Puncaknya terjadi pada Jumat, 16 Mei 2025, ketika rupiah menguat signifikan sebesar 84 poin atau 0,51 persen, dan ditutup pada level Rp16.445 per dolar AS. Kinerja akhir pekan ini menandai performa mingguan terbaik rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

 

Sentimen Sepekan

Selain rupiah, pada penutupan perdagangan, Senin (13/1/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra mengatakan, penguatan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi pelemahan data ekonomi Amerika Serikat (AS). 

“Penguatan rupiah terhadap dolar AS ini karena melemahnya data ekonomi AS yang dirilis semalam,” ucapnya, dikutip Jumat (16/5/2025).

Pertama ialah data indeks manufaktur wilayah New York, mengalami kontraksi 9,2 persen dari perkiraan 8,2 persen.

Selanjutnya, melansir Anadolu Agency, data inflasi produsen AS mengalami penurunan pada April 2025 dengan Producer Price Index (PPI) menurun 0,5 persen month to month (MtM). Penurunan ini berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 0,2 persen.

 

Perdagangan AS-China

Petugas menghitung uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Senin (9/11/2020). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat pada perdagangan di awal pekan ini Salah satu sentimen pendorong penguatan rupiah kali ini adalah kemenangan Joe Biden atas Donald Trump. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Adapun menurut, Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan Penguatan rupiah terhadap dolar AS terjadi menyusul rilis data inflasi AS bulan April 2025 yang lebih rendah dari perkiraan. Ibrahim melihat, perkembangan tersebut meredakan beberapa kekhawatiran tentang dampak tarif perdagangan AS.

“Sementara itu, pengumuman bersama hari Senin dari AS dan China untuk sementara melonggarkan tarif masing-masing meredakan kekhawatiran resesi global,” bebernya.

Seperti diketahui, AS dan Tiongkok telah sepakat untuk sementara menurunkan tarif yang dikenakan satu sama lain hingga 115%. AS akan memangkas tarifnya terhadap China dari 145% menjadi 30%, sementara China akan menurunkan tarif pembalasannya dari 125% menjadi 10%, keduanya selama 90 hari.

“Perkembangan ini memberikan kelonggaran bagi The Fed untuk menyesuaikan suku bunga, tetapi analis memperingatkan bahwa bank sentral mungkin akan tetap berada di pinggir lapangan, menilai negosiasi tarif lebih lanjut,” papar Ibrahim.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya