Liputan6.com, Jakarta - Jalur Makkah Route, dikenal pula sebagai fast track, di Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah yang sepi mendadak ramai pada Minggu (18/5/2025) pagi. Sejumlah petugas yang berjaga langsung berbaris, mengarahkan dan menyambut rombongan haji Kloter JKS 33 yang tiba pada pukul 07.20 waktu Arab Saudi (WAS) dengan menaiki Saudi Airlines SV 5263.
Ada 434 jemaah haji Indonesia di pesawat itu yang mendarat bersama delapan petugas, menurut keterangan Ketua Kloter JKS 33, Hilman Fauzi. Dari ratusan jemaah yang turun, kehadiran Mbah Sumbuk lah yang paling dinanti karena disebut sebagai jemaah haji tertua 2025. Usianya tercatat sudah 109 tahun, meski pengakuannya berbeda.
Advertisement
"Aku wis satus seket (Aku sudah 150 tahun)," ia mengaku saat berbincang dengan salah satu petugas Media Center Haji (MCH) Warijan.
Kehadiran Warijan membantu menenangkan simbah lantaran mereka bisa berkomunikasi dalam bahasa yang sama, bahasa ngapak.
Mbah Sumbuk berasal dari Kebumen. Ia berhaji didampingi anak bungsunya, Sukmi (56), menantunya, M Marhaimin (60), dan Muh Nurhasan Abdullah (35).
"Aku wes tuwek, rasane pirang-pirang. (Aku sudah tua, rasanya campur aduk)," jawabnya saat ditanya perasaannya bisa tiba di Tanah Suci dengan selamat.
Sempat Sakit di Embarkasi dan Penerbangan
Ia juga sempat mengeluh tak bisa berjalan sehingga harus dibantu kursi roda. "Ya enggak apa-apa Mbah, yang penting sehat," timpal Warijan menenangkan.
Mbah Sumbuk bahkan sempat mengajak Warijan untuk menemaninya selama perjalanan spiritual di Tanah Suci. Namun dengan halus, ia menerangkan alasannya tak bisa memenuhi ajakan simbah.
"Duh, Mbah… kula tugasé namung neng bandara. Wis, tenang, Mbah. Mengko nang Makkah akeh kancane aku sing nemenin, Mbah. Ana wong Kebumen. Mbah bakal keprungu karo sedulur-sedulur, (Mbah, saya tugasnya hanya di bandara. Tenang mbah, nanti di Makkah banyak petugas yang mendampingi, ada yang dari Kebumen)" kata Warijan.
Sukmi yang berjalan di belakang sang ibu menjelaskan bahwa ibunya mendaftar haji pada 2019. Sementara, ia dan suaminya sudah mendaftar tujuh tahun sebelumnya, yakni 2012. Keberangkatannya ke Tanah Suci diwarnai kondisi Mbah Sumbuk yang tidak stabil.
Selama di Embarkasi Bekasi, Mbah Sumbuk sempat dilarikan ke rumah sakit. Batuk pilek adalah gejala yang dialami sang ibu. Hampir saja ia meninggalkan ibunya di Indonesia, tetapi ternyata kondisi ibunya membaik sehingga dinyatakan layak terbang.
Walau begitu, kondisi Mbah Sumbuk kembali menurun di tengah penerbangan. "Dari semalam enggak mau makan, enggak mau minum," ucapnya.
Disiapkan Bus Khusus
Ketua Kloter JKS33 juga mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, Mbah Sumbuk sempat mengalami halusinasi di tengah penerbangan.
"Sekitar enam jam perjalanan itu ngedrop lagi tadi. Makanya tadi harus langsung dirujuk ke klinik," kata Helmi.
Rencana berubah karena kondisinya kembali membaik. Petugas medis yang mendampingi Mbah Sumbuk, dr. Murdiana dari Puskesmas Lemah Abang Kabupaten Bekasi, menyebut kondisi saturasinya membaik.
"Kita sempet kasih oksigen, sempet melakukan tindakan tetapi alhamdulillah ibunya bersemangat untuk naik haji. Jadi pas beliau mau minum, mau makan, sudah bagus, bisa diajak bicara lagi," ia menjelaskan.
Selanjutnya, pihaknya akan terus mendampingi dan memantau kondisi Mbah Sumbuk secara ketat bersama KKHI Makkah. Terlebih, mereka tinggal di hotel yang sama. "Ibu ini nanti akan didampingi kami dan oleh KKHI Makkah," ia menyambung.
Sembari menunggu pengantaran ke Makkah, Mbah Sumbuk sempat didekati petugas bimbingan ibadah. Ia memandunya melantunkan doa agar bisa sehat selalu selama menjalankan rangkaian ibadah haji.
Setelah selesai berdoa, petugas dari syarikat mendorong kursi rodanya menuju bus. Ternyata, itu adalah bus khusus yang dilengkapi dengan lift hidrolik untuk memudahkan Mbah Sumbuk masuk ke dalam bus.
Perhatian Ekstra untuk Jemaah Lansia
Karena pengalaman pertama, simbah terlihat panik. Meski begitu, petugas haji yang mendampinginya berusaha menenangkannya sembari menunggu anaknya masuk ke bus yang sama.
Sang putri, Sukmi, terlihat sangat memerhatikan ibunya. Terlebih, ia diserahi tanggung jawab mengurus ibunya. "Suruh ngurusin sampai, kata dia (Mbah Sumbuk), suruh sampai meninggal. Jadi saya urusin," ucap Sukmi.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan perhatian khusus kepada jemaah haji lansia. Proses ibadah haji yang melelahkan dan cuaca ekstrem di Arab Saudi berpotensi menimbulkan masalah kesehatan bagi kelompok rentan ini.
Mengutip kanal Cek Fakta, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menekankan pentingnya persiapan dan pencegahan agar para lansia dapat menjalankan ibadah haji dengan aman dan nyaman. Imbauan ini dikeluarkan mengingat beberapa prosesi haji, seperti wukuf di Arafah, membutuhkan fisik yang prima.
Cuaca panas ekstrem di Arafah dapat menyebabkan dehidrasi, heatstroke, dan kelelahan pada lansia. Karena itu, Kemenkes menyarankan persiapan yang matang, termasuk memastikan ketersediaan tempat berteduh, hidrasi yang cukup, dan pengawasan medis yang intensif bagi para lansia.