Untung Investasi di SBN Ritel SR022 atau Deposito? Ini Jawabannya

Dalam kalkulasi Bareksa mengutip data suku bunga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), saat ini suku bunga simpanan yang dijamin LPS di angka 4,25%. Artinya kalau ada deposito yang memberikan bunga di atas itu, maka tidak dijamin LPS.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 17 Mei 2025, 09:00 WIB
Ilustrasi investasi. (Image on Freepik)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan membuka masa penawaran Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ritel atau sukuk ritel seri SR022 mulai Jumat (16/5/2025) pukul 09.00 WIB. Penawaran instrumen investasi berbasis syariah ini akan berlangsung selama 34 hari hingga 18 Juni 2025 pukul 12.00 WIB.

Investment Strategist Bareksa Sigma Kinasih, CTA, CFP, menjelaskan, berinvestasi di SBN Ritel seri Sukuk Negara Ritel (SR) memiliki sejumlah keuntungan. Investasi di SBN Ritel seri Sukuk Negara Ritel SR022 memiliki kupon atau imbal hasil yang akan diterima investor setiap bulannya nilainya jauh lebih menarik dibandingkan deposito.

Dalam kalkulasi Bareksa mengutip data suku bunga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), saat ini suku bunga simpanan yang dijamin LPS di angka 4,25%. Artinya kalau ada deposito yang memberikan bunga di atas itu, maka tidak dijamin LPS.

Selain itu, saat ini bunga deposito bank-bank besar Tanah Air saat ini di kisaran 2-3%.

"Karena itu, SR022 dengan imbal hasil 6,45% untuk tenor 3 tahun (SR022T3) dan 6,55% untuk tenor 5 tahun (SR022T5), tentu jauh lebih menarik," jelas Sigma Kinasih kepada Liputan6.com, Sabtu (17/5/2025).

Apalagi pajak imbal hasil SR022 hanya 10%, lebih rendah dari pajak bunga deposito 20%. Karena itu, imbal hasil bersih SR022 yang sebesar 5,805% (SR022T3) dan 5,895% (SR022T5), jauh lebih menarik dibandingkan bunga bersih deposito 3,4% (suku bunga LPS) ataupun 1,6-2,4% (bunga bersih deposito bank-bank besar).

 

Bisa Diperjualbelikan

Ilustrasi investasi, revenue (Image by drobotdean on Freepik)

Keuntungan kedua, investor juga bisa memperjualbelikan SR022 setelah, minimum holding period terpenuhi pada 11 Agustus, setelah 1x pembayaran kupon atau bersifat tradable.

"Dengan fitur tradable tersebut, investor tidak perlu khawatir dana mengendap terlalu lama dan dapat dijual kapanpun, jika membutuhkan dana mendesak," tutur Sigma Kinasih

Meskipun memang akan lebih baik jika SR022 tetap dipegang hingga jatuh tempo, karena investor akan mendapatkan passive income rutin. Sehingga, produk ini cocok dengan tujuan investasi jangka pendek hingga jangka menengah untuk semua profil risiko.

Apalagi, suku bunga Bank Indonesia tahun ini diproyeksikan akan melanjutkan tren penurunan mengikuti suku bunga dolat AS. Artinya, dengan potensi penurunan suku bunga di masa mendatang, maka proyeksi kupon SBN Ritel maupun deposito di masa mendatang juga bisa lebih rendah dari saat ini.

Sehingga, investor bisa manfaatkan peluang berinvestasi di kupon yang masih tinggi di SBN Ritel SR022 saat ini.

Pemerintah Tawarkan SBN Ritel SR022

Pemerintah Indonesia melalui DJPPR Kementerian Keuangan kembali membuka kesempatan bagi masyarakat untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) ritel jenis Sukuk Ritel seri SR022 mulai 16 Mei 2025. Masa penawaran surat berharga Surat Berharga SR022 ini akan berlangsung hingga 18 Juni 2025.

SR022 adalah seri ketiga dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang terbit tahun ini. Instrumen ini halal dengan menggunakan underlying asset berupa Barang Milik Negara (BMN) dan Proyek Kementerian pada APBN 2025.

Dikutip dari tim riset Bareksa, Jumat (16/5/2025),  SR022 menawarkan imbal hasil 6,45-6,55%. Ini merupakan Kupon sukuk ritel tertinggi dalam 5 tahun.

Menariknya, SR022 ini memiliki fitur tradable, SR022 menawarkan imbal hasil pasti dan tetap hingga jatuh tempo.

Berikut keunkeunggulan dari SR022: 

Rincian penawarannya:

1. Imbal Hasil SR022

  • SR022T3 (3 Tahun): 6,45% p.a
  • SR022T5 (5 Tahun): 6,55% p.a (kupon tertinggi Sukuk Ritel sejak 2020)

2. Imbal hasil bersih setelah pajak (10%)

  •  SR022T3: 5,805% p.a.
  • SR022T5: 5,895% p.a.-
  • 2x lebih tinggi dari bunga deposito bank besar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya