Pembangunan Infrastruktur di DIY, Sultan HB X Tekankan Nilai Kebudayaan

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan pembangunan infrastruktur harus berakar pada nilai-nilai kemanusiaan, kebudayaan, dan keberlanjutan.

oleh Yanuar HDiterbitkan 19 Mei 2025, 19:00 WIB
Sri Sultan Hamengkubuwono X (kedua kiri) didampingi Wakil Ketua DPD GKR Hemas saat melakukan Halal Bihalal dengan Warga Yogyakarta yang ada di Jakarta, Minggu (24/7). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Yogyakarta Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X selalu menekankan pentingnya nilai-nilai kebudayaan, kemanusian dan keberlanjutan dalam pembangunan infrastruktur di DIY. Saat membuka Workshop Financing Transit and Infrastructure in Indonesian Cities di Karaton Ballroom Royal Ambarrukmo Yogyakarta Sultan HB X juga mendorong pembangunan kota-kota di Indonesia agar lebih inklusif dan berkelanjutan.

“Yogyakarta dengan kekhasan budayanya dan perannya sebagai simpul konektivitas kawasan selatan Jawa, menyambut hangat kolaborasi lintas pihak. Pembangunan bukan hanya soal fisik, tetapi bagaimana kita memanusiakan ruang dan memperluas akses mobilitas yang adil,” ujar Sri Sultan, Rabu 14 Mei 2025.

Kegiatan tersebut menandai dimulainya fase kedua program UK PACT (United Kingdom Partnering for Accelerated Climate Transitions) dimana fase pertama, UK PACT telah menghasilkan Model Terpadu Pengembangan Kawasan dan Transportasi (ITD) yang menjadi acuan strategis dalam pembangunan kota. Model ini mengintegrasikan sistem transportasi dengan pengembangan kawasan melalui pendekatan lintas sektor, termasuk land value capture, perencanaan spasial, dan pembiayaan alternatif.

Sultan HB X mengatakan dengan model ini menjadi fondasi penting, terutama untuk kota-kota sekunder yang kerap tertinggal dalam akses fiskal dan kelembagaan. Sultan juga menekankan pentingnya pendekatan adaptif yang kontekstual terhadap lokalitas. Fase kedua UK PACT ini nantinya akan berfokus pada eksplorasi pembiayaan alternatif untuk mengatasi keterbatasan skema konvensional. “Forum ini bukan sekadar ruang berbagi pengetahuan, melainkan juga tempat membangun kesepahaman lintas aktor dalam menciptakan tata kelola pembangunan yang kolaboratif,” tambahnya.

Selain itu Sultan sorotan juga tertuju pada pentingnya pemberdayaan masyarakat, terutama dalam reformasi kalurahan melalui program Kalurahan Mandiri Budaya. Ia menekankan bahwa desa harus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan budaya. “Pembangunan harus dimulai dari desa. Kami ingin desa menjadi mandiri, berbudaya, dan mampu mengelola potensinya sendiri. Partisipasi masyarakat melalui APBDes sangat penting untuk menciptakan demokratisasi pembangunan,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Sultan HB X mengapresiasi kepada seluruh mitra UK PACT, termasuk Techne Praxis International dan FCDO. Harapannya kolaborasi ini bisa melahirkan kota-kota yang tidak hanya terhubung secara fisik, tetapi juga bermakna secara budaya dan spiritual, menghormati alam serta menjunjung martabat manusia.

Mendukung pembangunan rendah karbon di DIY Managing Director Techne Praxis International, Puspita Galih Resi, menegaskan komitmennya. Sejak 2022, pihaknya sudah mendorong integrasi sistem mobilitas perkotaan dengan pembiayaan berbagai pihak demi terwujudnya kota hijau, inklusif, dan tangguh.

Workshop tersebut menghadirkan tiga pembicara yaitu Padraic Kelly (Senior Director of Techne Praxis International), Dodi Miharjana (Commissioner of Bali Development Fund) dan Suroto perwakilan Coordinating Ministry of Economic Affair (CMEA). Dalam kesempatan tersebut dilaksanakan Serah Terima Technical Scoping Study DIY kepada Sultan HB X oleh Managing Director Techne Praxis International Puspita Galih Resi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya