AS Catat Inflasi 2,3% di April 2025, Terendah Dalam 4 Tahun

Amerika Serikat mencatat inflasi yang sedikit lebih rendah pada bulan April 2025, menyusul kebijakan baru tarif impor Presiden Donald Trump.

oleh Natasha AmaniDiperbarui 14 Mei 2025, 11:30 WIB
Pejalan kaki melewati papan nama yang menawarkan uang tunai untuk barang berharga di luar toko gadai di Los Angeles, Jumat (11/3/2022). Laju inflasi AS pada Februari 2022 melonjak ke level tertinggi dalam 40 tahun didorong naiknya harga bensin, makanan dan perumahan. (Patrick T. FALLON/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Amerika Serikat mencatat inflasi yang sedikit lebih rendah pada bulan April 2025, menyusul kebijakan baru tarif impor Presiden Donald Trump.

Melansir CNBC International, Rabu (14/5/2025) laporan Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat menunjukkan bahwa negara itu mencatat indeks harga konsumen, yang mengukur biaya untuk berbagai macam barang dan jasa, tumbuh 0,2% menjadi 2,3% pada April 2025.

Angka tersebut menandai tingkat inflasi terendah AS sejak Februari 2021, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja AS.

Angka inflasi bulanan AS kali ini sejalan dengan estimasi konsensus Dow Jones sementara 12 bulan sedikit di bawah perkiraan sebesar 2,4%.

Selanjutnya, inflasi yang termasuk harga makanan dan energi atau CPI inti AS juga tumbuh 0,2% pada bulan April 2025 menjadikan level tahunannya di 2,8%.

Pasar bereaksi sedikit terhadap berita inflasi AS, dengan saham berjangka mengarah datar hingga sedikit lebih rendah dan imbal hasil Treasury beragam.

"Kabar baik tentang inflasi, dan kami membutuhkannya mengingat guncangan inflasi dari tarif sedang berlangsung," kata Robert Frick, ekonom perusahaan di Navy Federal Credit Union.

"Barang-barang yang tidak dikenakan tarif masih dalam proses, dan mungkin beberapa importir telah menyerap biaya tarif mereka untuk saat ini,” jelasnya.

Pada April 2025, biaya tempat tinggal kembali menjadi pendorong utama kenaikan inflasi AS.

Kategori tersebut, yang menghasilkan sekitar sepertiga dari bobot indeks, meningkat 0,3% pada bulan April, yang mencakup lebih dari setengah pergerakan keseluruhan, menurut BLS.

 

Biaya Energi Menurun di AS

Wisatawan melewati Stasiun 30th Street di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat (AS), Rabu (22/11/2023). Terlepas dari inflasi dan kenangan akan krisis perjalanan selama musim liburan tahun lalu, warga AS diperkirakan akan melakukan perjalanan lewat udara dan jalan raya dalam jumlah besar selama liburan Thanksgiving Day. (AP Photo/Matt Rourke)

Sementara itu, biaya energi di AS mencatat penurunan 2,4% pada bulan Maret, harga energi bangkit kembali, dengan kenaikan 0,7%.

Adapun harga pangan yang mengalami penurunan 0,1%.Sedangkan harga kendaraan bekas mengalami penurunan kedua berturut-turut hingga 0,5%, sementara kendaraan baru tetap datar.

Harga pakaian di AS juga turun 0,2% dengan layanan perawatan medis meningkat 0,5%. Asuransi kesehatan naik 0,4% sementara asuransi kendaraan bermotor naik 0,6%.

 

Dampak Kebijakan Tarif Masih Membayangi Inflasi AS

Pisang dijual di sebuah kios di dalam Grand Central Market di pusat kota Los Angeles, California, Amerika Serikat (AS), Jumat (11/3/2022). Ekonomi terbesar dunia itu terus dihantam oleh gelombang inflasi, yang diperkirakan akan memburuk akibat serangan Rusia ke Ukraina. (Patrick T. FALLON/AFP)

Meskipun angka CPI April relatif jinak, analis menilai tarif Trump tetap menjadi faktor yang tidak menentu dalam menentukan inflasi, tergantung pada arah negosiasi.Namun, baru-baru ini, Trump telah menarik kembali niatnya, dengan penangguhan tarif agresif selama 90 hari terhadap Tiongkok sementara kedua negara memasuki negosiasi lebih lanjut.

Para ekonom memperkirakan bahwa pelonggaran tarif timbal balik 145% terhadap Tiongkok, angka inflasi dapat kembali meningkat pada bulan-bulan musim panas, meskipun sejauh memberlakukan tarif secara menyeluruh.

“Secara keseluruhan, tidak ada tanda-tanda dampak tarif pada CPI April. Meskipun kami memperkirakan tarif yang lebih tinggi kemungkinan akan memberikan tekanan ke atas pada CPI inti, mulai bulan Mei, melemahnya permintaan konsumen dan penarikan persediaan dapat mengurangi tekanan inflasi,” kata ekonom di Nomura, Aichi Amemiya dalam sebuah catatan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya