Apa Itu Rasi Bintang? Ini Sejarah Penemuan dan Penamaannya

Meskipun garis-garis ini tidak nyata dan hanya merupakan konstruksi imajinasi manusia, konstelasi sangat membantu dalam navigasi, penentuan musim, serta perkembangan ilmu astronomi sejak zaman kuno. Penemuan dan penamaan rasi bintang telah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 15 Mei 2025, 03:00 WIB
Ilustrasi rasi bintang, zodiak. (Photo rawpixel.com Copyright by Freepik)

Liputan6.com, Jakarta - Rasi bintang atau konstelasi adalah pola bintang di langit yang diberi nama dan memiliki bentuk yang menyerupai objek tertentu. Objek antariksa ini terbentuk dari bintang-bintang yang seolah-olah dihubungkan dengan garis imajiner, sehingga membentuk gambar seperti binatang, tokoh mitologi, atau benda.

Meskipun garis-garis ini tidak nyata dan hanya merupakan konstruksi imajinasi manusia, konstelasi sangat membantu dalam navigasi, penentuan musim, serta perkembangan ilmu astronomi sejak zaman kuno. Penemuan dan penamaan rasi bintang telah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu.

Nama-nama yang dipilih sering kali merujuk pada fenomena alam, kepercayaan religius, atau kisah-kisah mitologis yang berkembang pada masanya. Berbagai peradaban besar telah menciptakan sistem penamaan rasi bintang masing-masing, berdasarkan interpretasi budaya dan langit malam di wilayah geografis mereka.

Melansir laman NASA pada Rabu (14/05/2025), sebagian besar nama rasi bintang yang dikenal saat ini berasal dari budaya Timur Tengah, Yunani, dan Romawi kuno. Bangsa-bangsa ini mengidentifikasi gugusan bintang terang dan memberi nama berdasarkan dewa-dewi, hewan, atau simbol dalam mitologi mereka.

Misalnya, bangsa Yunani kuno menganggap bahwa susunan bintang di langit tampak seperti seseorang dengan pedang yang tergantung di ikat pinggangnya. Mereka kemudian menamainya “Orion”, sesuai nama pemburu legendaris dalam mitologi mereka.

Rasi Orion adalah salah satu konstelasi paling terkenal dan mudah dikenali, terutama karena tiga bintang terang yang sejajar pada bagian "sabuk" Orion. Konstelasi ini dapat dilihat hampir dari seluruh belahan dunia, khususnya selama musim dingin di belahan bumi utara.

Orion juga dikenal oleh berbagai budaya lain dengan nama dan cerita yang berbeda. Namun, bangsa Yunani bukanlah satu-satunya yang memberi nama rasi bintang.

Penduduk asli Amerika, Asia, Afrika, hingga suku Aborigin di Australia juga memiliki sistem konstelasi sendiri. Banyak dari pengelompokan bintang ini digunakan untuk keperluan praktis, seperti menandai pergantian musim, menentukan waktu tanam dan panen, atau sebagai bagian dari ritual keagamaan.

 

Representasi Roh Leluhur

Dalam beberapa budaya, rasi bintang bahkan diyakini sebagai representasi roh leluhur atau dewa langit. Seiring waktu, berbagai sistem konstelasi ini terus berkembang.

Dikutip dari laman Space pada Rabu (14/05/2025), saat ini terdapat 88 rasi bintang resmi yang diakui oleh Persatuan Astronomi Internasional (IAU). Jumlah ini merupakan hasil gabungan dari rasi bintang kuno dan penambahan rasi modern.

Sekitar 48 di antaranya adalah rasi bintang kuno yang telah dikenal sejak zaman sebelum teleskop ditemukan, dan kebanyakan terlihat dari belahan bumi utara. Satu contoh menarik adalah rasi bintang Argo Navis, yang dulu dianggap sebagai satu konstelasi besar oleh bangsa Yunani, mewakili kapal Argo yang digunakan oleh Jason dan para Argonaut.

Namun karena ukurannya terlalu besar dan sulit untuk diklasifikasikan, para astronom membaginya menjadi tiga bagian, Carina (lunas kapal), Puppis (buritan kapal), dan Vela (layar kapal). Dengan pembagian ini, total rasi bintang kuno menjadi 50.

Kemudian, pada abad ke-16 hingga ke-18, para pelaut dan astronom Eropa seperti Petrus Plancius dan Nicolas Louis de Lacaille mulai memetakan langit selatan menggunakan teleskop. Mereka menambahkan rasi bintang baru yang sebelumnya tidak terlihat dari belahan bumi utara.

Dari sinilah muncul 38 rasi bintang modern, yang kebanyakan dinamai berdasarkan alat ilmiah atau hewan eksotis, seperti Telescopium, Microscopium, dan Dorado. Pada 1930, IAU secara resmi menetapkan batas-batas untuk setiap rasi bintang di langit menggunakan sistem koordinat astronomi, sehingga membentuk peta langit yang dapat digunakan secara internasional.

Penetapan ini penting agar para astronom di seluruh dunia memiliki referensi yang seragam saat mengamati dan mencatat posisi benda langit.

(TIfani)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya