Liputan6.com, Jakarta - Lumba-lumba dikenal sebagai salah satu hewan yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi. Mamalia ini memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah dan membentuk kelompok sosial yang kompleks, seperti manusia.
Lumba-lumba juga dapat mempelajari informasi dan keterampilan baru dengan cepat. Menariknya lagi, lumba-lumba bisa menularkan pengetahuan yang dimilikinya kepada kawanan lumba-lumba lain, termasuk anak-anaknya.
Advertisement
Mamalia ini juga termasuk ke dalam salah satu dari spesies di dunia yang mampu mengenali diri mereka sendiri di cermin. Mereka memiliki kesadaran diri secara fisik.
Penelitian menunjukkan bahwa kelompok lumba-lumba yang berbeda mengembangkan bahasa dan cara berkomunikasi mereka sendiri, dan mereka akan mewariskan bentuk komunikasi ini dari generasi ke generasi. Dikutip dari laman Whale and Dolphin Conservation, berikut beberapa alasan mengapa lumba-lumba disebut hewan pintar.
1. Ukuran Otak yang Besar
Lumba-lumba memiliki ukuran otak yang terbesar di dunia. Otak lumba-lumba biasanya memiliki berat sekitar 1500 hingga 1700 gram, sedikit lebih besar dari otak manusia dan empat kali lebih berat dari otak simpanse.
Berbeda dengan otak manusia dan hewan primata seperti kera, lumba-lumba memiliki lobus frontal yang jauh lebih kecil. Dalam hal ini, lumba-lumba memproses informasi bahasa dan pendengarannya di lobus temporal, yang terletak di sisi otak mereka.
Penelitian juga menunjukkan bahwa lumba-lumba memproses informasi pendengaran dan visual di berbagai bagian neokorteks. Selain itu, otak lumba-lumba juga mengandung sel otak khusus yang disebut sebagai neuron spindel.
2. Memiliki Kemampuan Ekolokasi
Lumba-lumba juga memiliki kemampuan dalam mengeluarkan bunyi melalui sonar biologis atau ekolokasi. Kemampuan ini berguna untuk mengetahui lokasi sumber suara dari berbagai objek terdekatnya.
Selain itu, kemampuan ekolokasi yang dimiliki lumba-lumba juga biasanya digunakan untuk berburu atau sebagai alat navigasi bahkan di air yang gelap atau keruh sekalipun. Lumba-lumba dapat memeriksa kehamilan satu sama lain dan menguping suara ekolokasi dari kawanan lumba-lumba lain untuk mengetahui apa yang mereka lihat.
Sistem Komunikasi yang Kompleks
3. Sistem Komunikasi yang Kompleks
Lumba-lumba mampu mengidentifikasi dengan tepat anggota kelompok atau kawanan mana yang sedang ‘berbicara’ di dalam lautan. Lumba-lumba secara alami berkomunikasi melalui denyut nadi, bunyi ‘klik’ atau sonar biologis, dan peluit, bukan melalui penglihatan mereka.
Penelitian pada 2000 menemukan gagasan bahwa nada peluit lumba-lumba berfungsi sebagai alat identifikasi individu yang sama seperti sebuah nama. Lumba-lumba menggunakan bunyi seperti ‘peluit khas’ untuk mengumumkan kehadiran mereka atau memberi tahu orang lain di mana mereka berada.
4. Memiliki Kemampuan Menyelesaikan Masalah
Lumba-lumba juga memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Hal ini pernah dibuktikan melalui eksperimen yang dilakukan pada 2010 pada Dolphin Research Center di Grassy Key, Florida.
Hasil dari eksperimen tersebut menemukan salah satu lumba-lumba hidung botol bernama Tanner yang memanfaatkan kemampuan pemecahan masalahnya dengan meniru tindakan lumba-lumba lain dan manusia sambil ditutup matanya. Dengan mata tertutup, Tanner menggunakan indra pendengarannya untuk menentukan posisi lumba-lumba lain serta pelatihnya.
Meski suara manusia di dalam air berbeda dengan suara lumba-lumba lain di dalam air, Tanner masih mampu meniru perubahan gaya berenang pelatihnya tanpa melihatnya secara langsung.
(Tifani)