Liputan6.com, Jakarta - Memilih rangkaian produk skincare seharusnya tidak hanya tentang gimmick pemasaran. Konsumen sekarang telah berulang kali diperingatkan untuk mengetahui dan memahami benar apa saja bahan skincare yang notabene mereka pakai secara rutin.
Dari situ, ada satu pertanyaan yang muncul: mana yang sebenarnya efektif untuk perawatan kulit? Dari sekian banyak, melansir Women's Health Mag, Minggu, 11 Mei 2025, hanya ada empat bahan skincare yang terbukti efektif. Berikut daftarnya:
Advertisement
1. Sunscreen
Tidak diragukan lagi, SPF sangat, sangat penting dalam perlindungan kulit. Di Amerika Serikat (AS), filter tabir surya diatur Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) sebagai obat bebas.
"Artinya, bahan-bahan yang digunakan, yang meliputi mineral zinc oxide dan titanium dioxide, serta 14 filter kimia, telah diteliti FDA, dengan bukti ilmiah kuat yang menunjukkan bahwa bahan-bahan tersebut melindungi dari sinar ultraviolet (UV) A dan UVB," kata Ivy Lee, MD, seorang dokter kulit di Los Angeles dan ketua Augmented Intelligence di American Academy of Dermatology (AAD).
Studi menunjukkan bahwa pemakaian sunscreen menurunkan risiko kanker kulit, dengan dua penelitian signifikan menunjukkan bahwa penggunaan tabir surya dengan SPF 15 setiap hari mengurangi karsinoma sel skuamosa hingga 40 persen dan melanoma hingga 50 persen.
Selain manfaatnya dalam melindungi kanker kulit, ada alasan estetika untuk jadi penggemar SPF. Pada 2013, ahli epidemiologi kanker terkenal Adele Green dan timnya menemukan bahwa penggunaan SPF secara teratur dapat memperlambat tanda-tanda penuaan yang terlihat.
Secara umum, cari kata-kata "spektrum luas" pada labelnya saat Anda memilih sunscreen. Sementara semua penelitian dilakukan dengan SPF 15, Akademi Dermatologi Amerika (AAD) merekomendasikan SPF 30 untuk penggunaan sehari-hari.
2. Retinoid
Turunan vitamin A ini telah lama jadi standar utama untuk mengatasi jerawat dan penuaan kulit. "Retinoid mengikat reseptor asam retinoat di kulit, mendorong pergantian sel, meningkatkan produksi kolagen dan elastin, memperbaiki jerawat, serta mengurangi garis-garis halus dan kerutan," kata Dr. Lee.
Mayoritas literatur ilmiah yang tersedia berfokus pada retinoid yang diresepkan, yang dianggap paling manjur. Versi yang dijual bebas, tersedia dalam produk perawatan kulit, seperti serum dan pelembap, dianggap sebagai bahan kosmetik, bahan aktif yang memiliki efek "seperti obat" pada kulit.
Bahan-bahan tersebut meliputi retinol, retinaldehida, retinil palmitat, retinil propionat, retinil asetat, retinil retinoat, retinil N-formil aspartamat, dan adapalena. Dari semua retinoid kosmetik, retinol adalah yang paling banyak dipelajari melalui uji klinis acak, tersamar ganda, dan terkontrol vehikulum, menurut tinjauan tahun 2022 dalam Advances in Therapy.
Makalah tersebut mencatat bahwa retinol 10 kali lipat kurang manjur daripada tretinoin yang diresepkan, tapi itu tidak berarti retinol tidak efektif. Retinol telah terbukti meningkatkan produksi asam hialuronat, kolagen, dan elastin pada kulit, serta meningkatkan pergantian sel.
"Tantangan dengan produk bebas adalah terkadang kita tidak tahu apa turunan retinoidnya atau persentasenya dalam suatu formula," kata Dr. Lee. Sebagian besar formulasi retinol maksimal satu persen, yang dianggap sebagai konsentrasi yang efektif.
Mengenai retinoid mana yang harus diperhatikan, Dr. Lee mengatakan jenisnya tidak sepenting konsentrasinya. Ia menyarankan untuk menggunakan satu botol penuh dan menilai ulang kulit Anda sebelum meningkatkan presentasenya atau beralih ke retinoid lain.
3. Niacinamide
Niacinamide, yang juga dikenal sebagai vitamin B3, adalah bahan serbaguna yang tidak mengiritasi dan cocok dipadukan dengan bahan lain dalam suatu formulasi. "Niacinamide memperkuat lapisan kulit, mengurangi peradangan, mengecilkan pori-pori, mengatur produksi minyak, dan memperbaiki hiperpigmentasi," kata Amy B. Lewis, MD, profesor klinis dermatologi di Fakultas Kedokteran Universitas Yale.
Sebuah tinjauan tahun 2024 yang diterbitkan dalam Antioxidants mencatat bahwa niacinamide menembus stratum korneum, lapisan luar kulit yang tebal dan protektif. Niacinamide digunakan dalam perawatan topikal untuk jerawat, melasma, eksim, rosacea, psoriasis, kerutan, kulit kendur, perubahan tekstur, sensitivitas, dan pigmentasi, meningkatkan produksi ceramide dan asam lemak di kulit untuk memperkuat lapisan kulit, jelas Dr. Lewis.
Niacinamide juga menghambat proses produksi pigmen, mengurangi bintik hitam. "Studi klinis menunjukkan, lima persen niacinamide dapat memperbaiki tekstur dan warna kulit secara kasat mata selama delapan hingga 12 minggu," katanya. Menariknya, para peneliti masih belum tahu persis bagaimana cara kerjanya, tapi studi menunjukkan bahwa memang demikian.
Karena perannya sebagai anti-inflamasi, niacinamide sangat baik bagi mereka yang tidak dapat mentoleransi retinoid topikal atau bahan aktif keras lain. Dalam sebuah studi kecil, tapi dirancang dengan baik, niacinamide dibandingkan dengan hidrokuinon untuk melasma.
Niacinamide mencatat "hasil yang baik hingga sangat baik" pada 44 persen orang dibandingkan dengan 55 persen dari mereka yang menggunakan hidrokuinon. Niacinamide juga mengurangi peradangan, memperbaiki kerusakan akibat sinar matahari, dan memiliki efek samping yang lebih sedikit daripada hydroquinone.
Sebagian besar penelitian tentang niacinamide menggunakan formula dengan konsentrasi dua hingga lima persen, dan penelitian menunjukkan bahwa formula air dalam minyak yang menyerupai penghalang kulit, seperti serum, paling baik untuk menembus lapisan luar kulit.
4. Hydroxy Acids
Kategori umum dalam kandungan ini mencakup asam alfa hidroksi (AHA) dan asam beta hidroksi (BHA), keduanya merupakan bahan pengelupas yang banyak digunakan dalam produk perawatan kulit. AHA adalah sekelompok asam yang bekerja mengendurkan lem intraseluler yang menahan sel-sel kulit pada permukaan kulit sehingga dapat mengelupas lebih cepat, sehingga kulit tampak lebih cerah.
"Jika Anda menggunakan sesuatu seperti niacinamide sekali, Anda tidak akan melihat perbedaannya; dibutuhkan setidaknya satu bulan," kata ahli kimia kosmetik Perry Romanowski. "Namun, jika Anda menggunakan AHA, kulit akan terkelupas dengan cukup cepat."
Asam glikolat dan asam laktat adalah yang paling umum digunakan dalam produk perawatan kulit. AHA lainnya termasuk asam malat, asam sitrat, asam tantrat, dan asam mandelik. "Baik AHA maupun BHA telah terbukti secara klinis dapat mengatasi jerawat, hiperpigmentasi, dan tanda-tanda penuaan," kata Dr. Lewis.
BHA, yang meliputi asam salisilat dan asam lipo-hidroksi (LHA, dipatenkan L’Oreal dan digunakan dalam produk La Roche-Posay dan SkinCeuticals), mengelupas kulit mati dengan lembut, tapi bekerja secara berbeda. Keduanya larut dalam minyak, yang memungkinkannya masuk ke dalam pori-pori dan melarutkan sebum, menjadikannya pilihan yang baik untuk kulit yang rentan berjerawat.
"LHA tidak terlalu mengiritasi dibandingkan asam salisilat dan memiliki afinitas ekstra untuk pori-pori, sehingga Anda bisa mendapatkan efek pembersihan yang lebih baik," kata Dr. Lewis. Penelitian lain menunjukkan bahwa LHA juga terbukti menginduksi penebalan kulit yang sebanding dengan retinoid dan merangsang produksi kolagen dan elastin.
Yang perlu diperhatikan, penelitian menunjukkan AHA efektif dalam konsentrasi 5─10 persen, sedangkan BHA salisilat dapat berkisar dari 0,5 persen hingga 2 persen. LHA digunakan dalam konsentrasi 0,4 hingga 1 persen. Anda dapat menemukannya dalam produk pembersih, eksfoliator, serum, dan pelembap.