Prediksi Harga Emas Dunia, Awas Bisa Merosot Tajam!

Pengamat Emas Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan harga emas dunia akan mengalami tekanan, kenapa?

oleh Tira SantiaDiterbitkan 12 Mei 2025, 06:00 WIB
Petugas menunjukkan sampel logam mulia di Butik Emas Antam, Jakarta, Kamis, (23/7/2020). Usai cetak rekor ke posisi termahalnya di Rp 982 ribu, harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Emas Antam) kembali turun Rp 5.000 menjadi Rp 977 ribu per gram pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Pengamat Emas Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan harga emas dunia akan mengalami tekanan setelah muncul kabar mengenai pertemuan antara pejabat tinggi Amerika Serikat dan Tiongkok yang digelar di Swiss pada 10 Mei 2025.

Pertemuan antara pejabat tinggi pemerintah Amerika Serikat dan Tiongkok yang berlangsung di Swiss pada 10 Mei 2025 menjadi sorotan utama pasar global, khususnya dalam konteks perang dagang yang terus memanas antara kedua negara. 

Diketahui, kata Ibrahim, pertemuan utama dari pertemuan ini adalah membahas kemungkinan negosiasi terkait kebijakan tarif impor yang sangat tinggi, di mana Amerika Serikat menerapkan tarif hingga 145% terhadap barang-barang dari Tiongkok. Sebagai respons, Tiongkok memberlakukan tarif balasan sebesar 125% terhadap produk-produk asal Amerika.

“Saya melihat bahwa tanggal 10 Mei 2025 pertemuan antara pejabat pemerintahan Amerika dan pejabat Tiongkok di Swiss, untuk membahas masalah negosiasi tentang perang dagang yang biaya impor sebesar 145% yang Amerika terapkan ke Tiongkok, Tiongkok membalas dengan 125%,” kata Ibrahim kepada Liputan6.com, dikutip Senin (12/5/2025).

Namun, kata Ibrahim, dari sisi Tiongkok, posisi mereka dalam pertemuan ini cukup unik dan berbeda dibandingkan dengan negara-negara lain yang terlibat konflik dagang dengan Amerika. 

Tiongkok menegaskan bahwa mereka hadir dalam pertemuan tersebut atas undangan resmi dari pemerintah Amerika Serikat, bukan atas inisiatif sendiri.

“Nah, tetapi dari segi pejabat Tiongkok sendiri, mengatakan bahwa Tiongkok itu mendapat undangan dari Amerika, bukan Tiongkok sendiri yang meminta negosiasi,” ujarnya.

 

 

 

 

Sikap Pasif Tiongkok Picu Ketidakpastian  

Harga jual emas batangan Antam ukuran satu gram dibanderol di harga Rp 599.000 per gram, Jakarta, Senin (10/10). Jumlah itu tidak mengalami perubahan dari harga perdagangan akhir pekan kemarin, yakni Rp 599.000 per gram. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Hal ini menunjukkan bahwa Tiongkok tidak secara aktif meminta negosiasi, berbeda dengan negara lain seperti Indonesia, Jepang, dan beberapa negara di Eropa yang secara terbuka mengajukan permintaan untuk merundingkan kebijakan dagang mereka dengan Amerika.

“Itu berbeda dengan negara-negara lain seperti Indonesia kan meminta kan, Jepang meminta, Eropa meminta, tapi Tiongkok sendiri tidak pernah melakukan negosiasi,” jelasnya.

Fakta bahwa Tiongkok bukan pihak yang meminta negosiasi ini mencerminkan dinamika politik dan strategi diplomatik yang berbeda. Hal ini juga memunculkan keraguan di pasar mengenai sejauh mana pertemuan ini akan mampu menghasilkan keputusan konkret atau kesepakatan baru. 

Meskipun pertemuan di tingkat pejabat tinggi merupakan langkah awal yang penting, keputusan final tetap berada di tangan presiden dari kedua negara. Selama belum ada sinyal kuat mengenai arah kebijakan dari level tertinggi, ketidakpastian masih membayangi.

“Jadi, yang memberikan negosiasi sendiri adalah pejabat-pejabat Amerika sendiri dan ini pun juga belum tentu akan menghasilkan suatu kesepakatan. Karena nanti finalnya kan antara Presiden Amerika dan Tiongkok,” katanya.

 

Pengaruhi Harga Emas

Ilustrasi harga emas dunia hari ini (Foto By AI)

Menurutnya, situasi ini berdampak langsung terhadap pergerakan harga emas dunia. Pasar cenderung merespons secara negatif terhadap potensi ketidakpastian dalam negosiasi tersebut. Harapan akan tercapainya perdamaian dagang yang dapat memberikan stabilitas justru terganggu oleh ketegangan dan keraguan seputar itikad kedua negara. 

Akibatnya, investor mulai menarik dana dari aset-aset safe haven seperti emas dan mencari alternatif yang dianggap lebih stabil dalam jangka pendek, yang kemudian mendorong harga emas mengalami penurunan di pasar global.

“Nah itu dari segi negatifnya yang membuat harga emas dunia turun,” pungkasnya.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya