Waisak 2025: Makna, Tradisi, dan Kegiatan Perayaan Hari Raya Tri Suci Buddha

Waisak, hari raya suci umat Buddha, memperingati tiga peristiwa penting kehidupan Buddha Gautama; kelahiran, pencerahan, dan wafatnya, yang dirayakan dengan berbagai tradisi unik di Indonesia.

oleh Nila Chrisna YulikaDiterbitkan 10 Mei 2025, 18:06 WIB
Perayaan Waisak 2024 di Candi Borobudur. (dok. InJourney)

Liputan6.com, Jakarta - Hari Raya Waisak, atau Trisuci Waisak, adalah perayaan terpenting bagi umat Buddha di seluruh dunia. Perayaan ini jatuh pada bulan purnama bulan Vesakha, biasanya di akhir April, Mei, atau awal Juni. 

Tahun ini, berdasarkan SKB Tiga Menteri, Waisak diperingati pada Senin, 12 Mei 2025. Perayaan Waisak memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha Gautama, yaitu kelahiran, pencerahan (Bodhi), dan wafatnya (Parinibbana). Peristiwa-peristiwa ini diyakini terjadi pada bulan purnama Vesakha, sehingga menjadi momen sakral bagi umat Buddha untuk merenungkan ajaran Sang Buddha.

Waisak bukan hanya sekadar hari libur, tetapi juga waktu untuk refleksi diri dan penguatan komitmen terhadap ajaran Buddha. Umat Buddha di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, akan melakukan berbagai kegiatan untuk memperingati hari suci ini. 

Di Indonesia sendiri, perayaan Waisak memiliki kekhasan dan tradisi unik yang telah berlangsung turun-temurun, menunjukkan keberagaman budaya dan toleransi antar umat beragama di Indonesia.

Perayaan Waisak di Indonesia melibatkan berbagai kegiatan, mulai dari ritual keagamaan di candi-candi Buddha, seperti Candi Borobudur, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan. 

Kegiatan-kegiatan ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman ajaran Buddha dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Perayaan ini juga menjadi kesempatan untuk mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan antar umat Buddha.

Tradisi Unik Perayaan Waisak di Indonesia

Indonesia memiliki beragam tradisi unik dalam merayakan Waisak. Salah satu yang paling terkenal adalah perayaan di Candi Borobudur, candi Buddha terbesar di dunia. 

Ribuan umat Buddha dan pengunjung dari berbagai daerah berkumpul untuk mengikuti berbagai kegiatan keagamaan, seperti meditasi, puja bakti, dan pradaksina (ritual berjalan mengelilingi candi). 

Selain itu, ada juga tradisi pindapata, di mana para bhikkhu menerima sedekah dari umat Buddha sebagai simbol berbagi dan kepedulian sosial.

Tradisi lain yang tak kalah menarik adalah puja lentera, pelepasan lampion ke udara sebagai simbol pelepasan hal-hal negatif dan harapan untuk kebaikan. 

Ada juga mandi Sang Buddha, ritual membersihkan patung Buddha sebagai simbol pemurnian diri. Umat Buddha juga biasanya mengenakan pakaian putih, melambangkan kesucian dan kesederhanaan.

Selain ritual keagamaan, perayaan Waisak di Indonesia juga diramaikan dengan berbagai kegiatan budaya, seperti pentas seni dan lomba-lomba. Hal ini menunjukkan betapa Waisak bukan hanya perayaan keagamaan, tetapi juga perayaan budaya yang memperkaya khazanah budaya Indonesia.

Makna dan Ajaran Waisak

Waisak memiliki makna yang sangat dalam bagi umat Buddha. Perayaan ini menekankan pentingnya cinta kasih, kebijaksanaan, dan pembebasan dari penderitaan. 

Umat Buddha merenungkan kebajikan, tekad, dan semangat Buddha Gautama sebagai inspirasi untuk berbuat baik dan menjalani kehidupan sesuai ajaran Dhamma.

Lima Sila Buddha juga menjadi fokus utama dalam perayaan Waisak. Lima Sila ini merupakan pedoman hidup bagi umat Buddha untuk menjauhi tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. 

Kelima sila tersebut adalah: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berbohong, dan tidak minum minuman keras.

Melalui meditasi, perenungan, dan doa, umat Buddha berusaha untuk meningkatkan kesadaran spiritual dan mencapai pencerahan. Perayaan Waisak juga menjadi momen untuk memperkuat ikatan persaudaraan dan saling membantu sesama.

Kegiatan Umat Buddha saat Waisak

  • Mengamalkan Lima Sila Buddha: Menjalankan prinsip moral dalam kehidupan sehari-hari.
  • Meditasi dan Ibadah di Vihara: Berkumpul untuk bermeditasi, merenungkan ajaran Buddha, dan mencari ketenangan batin.
  • Prosesi Pindapata: Memberikan dana makanan kepada para bhikkhu sebagai simbol berbagi dan welas asih.
  • Memandikan Patung Buddha: Simbol pemurnian diri dari dosa dan pikiran negatif.
  • Menyalakan Lilin dan Melepas Lampion: Simbol cahaya pengetahuan dan harapan untuk kebaikan.
  • Aksi Sosial dan Kegiatan Bakti: Memberikan bantuan kepada yang membutuhkan.
  • Mengenakan Busana Putih: Mewakili kesucian dan kejernihan batin.
  • Pengibaran Bendera Buddha: Wujud penghormatan dan kebanggaan terhadap ajaran Buddha.

Perayaan Waisak di Indonesia merupakan perpaduan harmonis antara ritual keagamaan dan kegiatan budaya. Meskipun hanya sekitar 1% penduduk Indonesia beragama Buddha, Waisak dirayakan sebagai hari libur nasional, menunjukkan toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman budaya di Indonesia. 

Waisak menjadi momen refleksi diri, penguatan komitmen terhadap ajaran Buddha, dan kesempatan untuk mempererat persaudaraan antar umat.

Infografis Strategi Hotel Terapkan Prinsip Keberlanjutan. (Putri Astrian Surahman/Liputan6.com)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya