China Bantah Tuduhan Pasok Senjata dalam Konflik Rusia-Ukraina

China mengecam pihak-pihak yang telah dengan sengaja ingin mencemarkan nama baik China dengan cara mempersoalkan bentuk kerja sama antara China dan negara lain.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 09 Mei 2025, 06:30 WIB
Ilustrasi bendera Republik Rakyat China (AP/Mark Schiefelbein)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah China mengatakan, tak pernah memasok senjata dalam konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina.  Hal ini disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) China Lin Jian merespons soal data bea cukai China terkait ekspor konsol dan pengendali (controller) gim video dari China ke Rusia yang meningkat tajam.  

Pasalnya, beredar kekhawatiran bahwa perangkat tersebut telah dialihfungsikan untuk keperluan militer di Rusia, khususnya sebagai alat kendali drone. 

“Kami tidak pernah menyediakan senjata mematikan kepada pihak mana pun dalam konflik ini, dan kami mengontrol secara ketat barang-barang dengan penggunaan ganda,” kata Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (8/5/2025).

China pun mengecam pihak-pihak yang telah dengan sengaja ingin mencemarkan nama baik China dengan cara mempersoalkan bentuk kerja sama antara China dan negara lain. 

“Kami dengan tegas menentang tuduhan tak berdasar yang berniat buruk serta manipulasi politik,” ucap Lin Jian. 

Lin Jian mengatakan, mengenai konflik Rusia dan Ukraina posisi China sangat jelas. China ingin agar Rusia dan Ukraina menyelesaikan konflik dengan menggunakan pendekatan dialog. 

“Posisi China terhadap isu Ukraina konsisten dan jelas. Kami sejak awal berkomitmen untuk mendorong dialog demi perdamaian dan mengakhiri konflik,” katanya. 

China Kecam Perluasan Operasi Militer Israel di Gaza

Banner Infografis Israel Setuju Penjajahan Paksa Gaza. (Liputan6.com/Abdillah)

Sebelumnya, China mengecam perluasan operasi militer Israel di jalur Gaza. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) China Lin Jian mengatakan, pemerintah China terus memantau konflik yang terjadi di Gaza.

"China memantau secara cermat situasi konflik Palestina-Israel," kata Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, China pada Selasa, 6 Mei 2025.

China berharap agar gencatan senjata dapat dilaksanakan secepatnya. Selain itu, China juga mendorong agar konflik dapat diselesaikan dengan jalur yang benar.

"Kami menentang berlanjutnya operasi militer Israel di Gaza, dan berharap semua pihak berupaya untuk memungkinkan pelaksanaan gencatan senjata yang berkelanjutan dan efektif serta kembali ke jalur yang benar menuju penyelesaian politik," ujar Lin Jian.

Diketahui, militer Israel mulai memanggil puluhan ribu pasukan cadangan untuk "meningkatkan dan memperluas" operasi mereka di Jalur Gaza.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan mereka sedang meningkatkan tekanan dengan tujuan mengembalikan para sandera yang ditahan di Jalur Gaza dan mengalahkan militan Hamas.

Gaza di Ambang Pendudukan Total Israel

Dalam rencananya, militer Israel menyebutkan akan beroperasi di wilayah-wilayah baru dan menghancurkan seluruh infrastruktur, baik di atas maupun di bawah tanah.

Media Israel juga melaporkan bahwa kabinet keamanan Israel telah menyetujui rencana perluasan operasi militer di Jalur Gaza. Namun, laporan menyebutkan perluasan ini kemungkinan tidak akan dilakukan hingga kunjungan Presiden Donald Trump ke kawasan tersebut pekan depan.

Israel menyetujui rencana memperluas serangan militernya di Jalur Gaza, menetap di wilayah Palestina itu untuk waktu yang tidak ditentukan, dan memindahkan secara paksa warga Palestina di sana. Hal ini diungkapkan dua pejabat Israel pada Senin (5/5/2025).

Dalam rencana baru, yang disetujui melalui pemungutan suara oleh Kabinet Keamanan Israel, ratusan ribu warga Palestina akan dipindahkan ke bagian selatan Jalur Gaza. 

Rincian rencana ini belum diumumkan secara resmi. Waktu dan cara pelaksanaannya belum jelas. Namun, yang pasti, persetujuan ini datang beberapa jam setelah Israel menyatakan pihaknya memanggil puluhan ribu pasukan cadangan guna memperkuat kapasitasnya untuk beroperasi di Jalur Gaza.

"Satu hal yang akan jelas, tidak akan ada yang namanya masuk lalu keluar," kata Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu dalam sebuah pesan video yang diunggah di platform media sosial X pada Senin.

"Kami akan memanggil pasukan cadangan, menguasai wilayah — kami tidak akan masuk lalu keluar dari area itu hanya untuk melakukan serangan sesekali setelahnya. Itu bukan rencananya. Justru sebaliknya yang dimaksud."

"Penduduk akan dipindahkan demi keselamatan mereka," ujar Netanyahu.

Infografis Israel Setuju Penjajahan Paksa Gaza. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya