Liputan6.com, New Delhi - Tiga warga sipil di Kashmir yang dikelola India tewas akibat tembakan artileri oleh pasukan Pakistan dari seberang perbatasan. Hal ini disampaikan militer India.
Peristiwa tersebut terjadi tidak lama setelah serangan rudal India ke sembilan titik di wilayah Pakistan, termasuk Kashmir yang dikuasai Pakistan.
Advertisement
Militer India menyatakan bahwa tentara Pakistan melepaskan tembakan artileri secara sembarangan dari pos-pos di sepanjang Garis Kontrol (Line of Control) yang membagi wilayah Kashmir yang disengketakan.
"Tentara India merespons dengan cara yang proporsional," bunyi pernyataan tersebut seperti dilansir CNN.
Sementara itu, Komisaris Divisional Jammu menyatakan bahwa sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga pendidikan akan ditutup hari ini di seluruh Jammu, Samba, Kathua, Rajouri, dan Poonch menyusul situasi yang sedang berlangsung. Ini adalah wilayah yang berada di dalam wilayah India.
India membela serangan rudalnya ke Pakistan pada Rabu, dengan mengklaim bahwa tindakan mereka terfokus dan tepat.
"Tindakan itu terukur, bertanggung jawab, dan dirancang agar tidak memicu eskalasi," kata Kedutaan Besar India di Washington DC melalui platform media sosial X. "Tidak ada sasaran sipil, ekonomi, atau militer Pakistan yang dihancurkan. Hanya kamp teroris yang diketahui yang menjadi sasaran."
Menurut sumber resmi Pakistan, setidaknya delapan orang tewas dalam serangan rudal India pada Rabu, termasuk perempuan dan anak-anak. Setidaknya 38 orang terluka.
Pernyataan Kedutaan Besar India di Washington DC menyebutkan pula bahwa jelas "teroris yang berbasis di Pakistan" bertanggung jawab atas serangan bulan lalu di Kashmir. Namun, alih-alih mengambil tindakan, Pakistan justru "menyangkal dan menuduh India melakukan operasi palsu (false flag operation)."
Serangan yang dimaksud terjadi pada 22 April di wilayah Kashmir yang dikuasai India dan menewaskan 26 orang. Dari 26 korban tewas, semuanya warga India kecuali satu orang dari Nepal.
Menurut India, serangan dilakukan oleh kelompok militan yang tidak hanya berbasis di Pakistan, namun juga mendapat dukungan pemerintah Pakistan.
Pakistan membantah tuduhan India dan mendorong dilakukannya penyelidikan internasional yang netral.