Tak Hanya Pelajar, Dedi Mulyadi Targetkan Program Pembinaan di Barak untuk Orang Dewasa

Dedi Mulyadi akan mengevaluasi terlebih dahulu program pembinaan pelajar, setidaknya selama sebulan sejak berjalan, sebelum memulai rencana program pembinaan untuk orang dewasa.

oleh Dikdik RipaldiDiperbarui 06 Mei 2025, 18:02 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, di Lapangan DOS Balai Kota Depok (Liputan6.com/Dicky Agung Prihanto)

Liputan6.com, Bandung - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, berencana memperluas sasaran program pendidikan karakter oleh militer. Ke depan, tidak hanya pelajar, orang dewasa yang ‘bermasalah’ pun akan masuk barak

Saat ini, program yang disebut Pendidikan Karakter, Disiplin, dan Bela Negara Kekhususan itu masih diikuti pelajar setingkat SMP hingga SMA. Dua daerah yang mengawali antara lain adalah Kabupaten Purwakarta dan Kota Bandung.

“Jadi nanti bukan kenakalan remaja saja yang saya tangani, tapi menangani juga kenakalan orang dewasa. Nanti akan saya siapin konsepnya,” kata Dedi Mulyadi dikutip dari saluran media sosial miliknya, Selasa, 6 Mei 2025.

Dedi Mulyadi menyebut beberapa perilaku yang bisa membuat orang dewasa mengikuti pembinaan di barak, salah satunya adalah mabuk-mabukan.

“Yang dewasa yang suka nongkrong-nongkrong di perempatan mabok-mabok, tawuran, susah diproses pidananya karena tindak pidananya ringan, kalau dipidana masuk LP malah naik tingkatan kejahatannya,” kata dia.

Dedi mengklaim, akan melakukan evaluasi terlebih dahulu pada program pembinaan pelajar, setidaknya selama sebulan sejak berjalan. Diketahui, Pendidikan Karakter, Disiplin, dan Bela Negara Kekhususan secara formal mulai dijalankan di beberapa daerah sejak pekan lalu, 2 Mei 2025 lalu, bertepatan Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas.

“Setelah SMP dan SMA ini berhasil, saya akan lihat nanti sebulan ke depan ya,” kata dia.

Mengapa Libatkan Tentara?

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi sempat mengungkap alasannya menggandeng TNI dalam program pendidikan karakter bagi anak-anak yang berperilaku nakal.

Menurutnya, TNI sebagai pendidik sebenarnya bukan hal baru. Dia lantas mencontohkan anggota Paskibraka yang selama ini dididik dan dilatih oleh TNI. 

"Bicara persoalan TNI, TNI itu mendidik anak-anak bukan baru. Paskibraka itu dididik oleh TNI. Nah kemudian SMA, namanya SMA Taruna Nusantara yang melahirkan orang-orang hebat, ternyata di dalamnya kurikulum pendidikannya TNI dan TNI mengajar di dalamnya," ucapnya dalam unggahan di akun Instagram @dedimulyadi71, dikutip pada Senin, 5 Mei 2025.

Selain itu, Dedi menilai, mendidik anak agar disiplin adalah hal yang baik untuk dilakukan. Termasuk soal adab sehari-hari yang dinilainya kini tak begitu dipahami oleh anak-anak.

"Pelajaran PBB itu kan pelajaran di sekolah, kemudian pendidikan jam 8 tidur itu kan pendidikan yang ideal, bangun jam 4 atau 5, terus mandi, bereskan kamar mandi dan ruang tidur, lalu salat, terus sarapan, olahraga. Terus apa salahnya?" katanya.

"Kemudian jam makan, cara makannya. Mereka belum dididik bagaimana cara makan, bagaimana meletakan piring, garpu, sendok, bagaimana makan tidak sambil ngobrol, makan tidak bersuara, bagaimana suara sendok dan garpunya tidak berbenturan," sambung Dedi.

Oleh karena itu, Dedi mengeklaim tak ada yang salah dalam keikutsertaan TNI pada pendidikan karakter. "Yang tidak boleh kan diajari teknik perang," tandasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya