Liputan6.com, Yogyakarta - Awalnya diciptakan sebagai metode pengawetan kelapa, serundeng telah bertransformasi menjadi pelengkap makanan. Masyarakat Jawa tradisional mengenal serundeng sebagai srundèng.
Mengutip dari berbagai sumber, serundeng adalah parutan kelapa yang diolah dengan bumbu kemudian disangrai. Teknik ini muncul dari kebutuhan untuk memperpanjang umur simpan kelapa parut yang mudah basi.
Advertisement
Proses penggorengan dengan rempah-rempah tidak hanya mengeringkan kelapa, tetapi juga menghambat pertumbuhan mikroorganisme perusak. Pembuatan serundeng tradisional melibatkan beberapa tahap dimana kelapa segar diparut halus, kemudian dicampur dengan bumbu dasar seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan kencur.
Campuran ini kemudian disangrai dengan api kecil selama berjam-jam hingga kering. serundeng berkembang menjadi elemen dalam kuliner Nusantara.
Catatan sejarah menunjukkan perkembangannya mulai abad ke-19 sebagai pelengkap nasi kuning dan ketupat, awal abad ke-20 dalam resep bubur ayam dan gudeg, hingga era modern sebagai topping populer untuk mie instan dan makanan ringan.
Versi Masing-Masing
Setiap daerah di Indonesia kemudian mengembangkan versi serundengnya sendiri, seperti serundeng betawi yang menggunakan lebih banyak bawang merah dan gula merah. Serundeng sunda dengan kencur dan daun jeruk yang dominan.
Serundeng bali yang mengandung basa genep dan cabai. Serundeng padang dengan rempah seperti kapulaga dan kayu manis.
Analisis nutrisi menunjukkan serundeng yang diproses dengan benar dapat bertahan hingga 2 minggu dalam suhu ruang, 1 bulan dalam wadah kedap udara, atau 3 bulan jika disimpan dalam lemari pendingin. Kandungan utamanya meliputi lemak sehat dari kelapa, protein, serta berbagai mineral dari rempah-rempah, meskipun memiliki nilai kalori cukup tinggi mencapai 300-400 kkal per 100 gram.
Serundeng berperan dalam ketahanan pangan sebagai cadangan makanan musim paceklik, bekal perjalanan jauh, maupun stok makanan darurat saat bencana. Era modern, serundeng mengalami ekspansi ke dunia kuliner kontemporer sebagai topping pizza dan pasta ala Indonesia, campuran adonan kue kering, bumbu tabur untuk popcorn dan keripik, hingga pelengkap salad dan bowl makanan sehat.
Produsen modern telah mengadaptasi teknik tradisional dengan teknologi seperti pengeringan oven bersuhu terkontrol, pengemasan vakum, dan sterilisasi sinar UV. Serundeng produksi rumahan tetap dianggap lebih autentik karena proses sangrai manual yang lebih merata.
Penulis: Ade Yofi Faidzun