Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan pada 28 April-2 Mei 2025. Meredanya perang dagang hingga penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi angin segar IHSG.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (3/5/2025), IHSG naik 2,05% pada 28 April-2 Mei 2025 ke posisi 6.815,73. Penguatan IHSG pekan ini lebih rendah dari pekan lalu. IHSG melonjak 3,74% pekan lalu ke posisi 6.678,91.
Advertisement
Kapitalisasi pasar juga melonjak signifikan. Kapitalisasi pasar BEI naik 2,33% menjadi Rp 11.831 triliun dari Rp 11.561 triliun pada pekan lalu.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG melonjak 2,05% didorong sejumlah sentimen. Pertama, the Federal Reserve (the Fed) memberikan sinyal akan ada pemotongan suku bunga pada semester II 2025 setelah the Fed menahan suku bunga. Kedua, ketegangan perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China yang mereda. Hal itu membuat kekhawatiran investor berkurang.
"Meredaknya ketegangan perang dagang AS-China sehingga kekhawatiran investor cukup mereda dan kembali masuk ke instrumen investasi berisiko,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.
Ia menambahkan, faktor ketiga yakni penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebesar 2% pada pekan ini. Faktor keempat yang dorong penguatan IHSG yakni rilis kinerja keuangan emiten pada kuartal I 2025.
Di sisi lain, peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata volume transaksi harian bursa pada pekan ini sebesar 14,46% menjadi 20,87 miliar saham dari 18,23 miliar saham pada pekan lalu.
Rata-rata frekuensi transaksi harian selama sepekan ini mengalami kenaikan 9,25% menjadi 1,21 juta kali transaksi dari 1,11 juta kali transaksi pada pekan lalu.
Peningkatan turut dialami oleh rata-rata nilai transaksi harian BEI selama sepekan yakni 4,99% menjadi Rp 11,61 triliun dari Rp 11,06 triliun pada pekan sebelumnya.
Sentimen Pekan Ini
Sementara itu, dalam riset PT Ashmore Asset Management Indonesia menyebutkan, sektor saham perawatan kesehatan dan transportasi serta logistic mencatat kinerja terbaik pada pekan ini. Sektor saham tersebut masing-masing naik 6,23% dan 3,11%. Sedangkan sektor saham industri dan teknologi masing-masing turun 0,63% dan 0,40%.
Di Asia, indeks Nikkei Jepang dan Hang Seng membukukan kinerja terbaik pada pekan ini. Indeks Nikkei naik 3,15% dan indeks Hang Seng bertambah 2,38% seiring pasar menjadi lebih optimistis terhadap resolusi perang dagang. Di sisi lain terjadi koreksi pada harga minyak mentah dan harga crude palm oil (CPO) pada pekan ini.
Minggu ini, Amerika Serikat (AS) mengalami data pertumbuhan ekonomi yang lemah secara tak terduga, di mana angka kuartalan mengalami penurunan pertama dalam tiga tahun. Perlambatan ini dipimpin oleh peningkatan tajam dalam impor karena bisnis dan konsumen mengimpor sebelum tarif mulai berlaku.
Selain perlambatan pertumbuhan ekonomi, AS juga mengalami data pekerjaan yang lebih lemah dengan data lowongan pekerjaan terendah dalam enam bulan, serta data klaim pengangguran awal yang lebih tinggi.
Di sisi lain, data pertumbuhan ekonomi di Kanada lebih kuat dari yang diharapkan didorong oleh kegiatan pertambangan, penggalian, dan ekstraksi minyak & gas.
Kawasan Euro
Kawasan Euro mengalami pertumbuhan yang lebih kuat secara tak terduga, selain itu, angka inflasi utama dan inti tahunan mereka sedikit lebih besar dari yang diharapkan, karena penurunan harga energi diimbangi oleh kenaikan yang lebih cepat dalam layanan. Jerman mengalami peningkatan keyakinan konsumen karena optimisme terhadap kondisi politik dalam negeri.
Bank Sentral Jepang mempertahankan suku bunga seperti yang diharapkan, dengan ketegangan perdagangan yang sedang berlangsung yang akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi global.
Di sisi lain, tingkat keyakinan konsumen turun ke level terendah sejak Februari 2023. Tiongkok melihat PMI yang lebih lemah dari yang diharapkan untuk sektor Manufaktur dan Non-Manufaktur karena kekhawatiran perang tarif.
Di sisi lain, Indonesia melihat data inflasi yang lebih tinggi pada April yang terutama didorong oleh peningkatan konsumsi di musim perayaan. Angka ini tetap berada dalam kisaran target bank sentral. Di sisi lain, CPI Inti terus naik perlahan ke angka tertinggi sejak Juni 2023.