Inovasi PLN Grup Kebut Transisi Energi

PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menegaskan komitmennya sebagai motor utama transisi energi nasional, berbagai inovasi Dan strategi dalam mengembangkan energi rendah emisi pun telah dilakukan perusahaan.

oleh Septian DenyDiterbitkan 30 April 2025, 14:50 WIB
PT PLN (Persero) sukses menerapkan implementasi biomassa sebesar 6 persen untuk bahan bakar PLTU Paiton unit 1 dan 2. (Dok PLN)

Liputan6.com, Jakarta PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menegaskan komitmennya sebagai motor utama transisi energi nasional, berbagai inovasi Dan strategi dalam mengembangkan energi rendah emisi pun telah dilakukan perusahaan.

Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, mengatakan, PLN EPI aktif mengembangkan berbagai proyek strategis yang bertujuan mempercepat transisi energi nasional. Menurutnya, langkah konkret telah diambil PLN EPI dengan berbagai inisiatif bisnis berbasis hidrogen hijau, baik melalui kerja sama strategis maupun investasi langsung.

"Kami melihat hidrogen hijau sebagai salah satu solusi terobosan yang paling menjanjikan dalam menurunkan emisi karbon secara signifikan di sektor energi," kata Mamit, Selasa (29/4/2025).

Menurut Mamit, PLN EPI telah mnerapkan strategi investasi dan rencana pengembangan infrastruktur hidrogen hijau di Indonesia. Proyek strategis yang tengah dikembangkan PLN EPI, meliputi pembangunan infrastruktur, seperti electrolyzer berkapasitas besar serta jaringan pipa hidrogen yang akan menghubungkan Sumatera dengan Singapura.

Proyek pengembangan hub hidrogen hijau di Sumatera, yang merupakan kerja sama antara PLN EPI dan Sembcorp Utilities PTE Ltd, diproyeksikan memiliki electrolyzer berkapasitas hingga 675 MW dan menghasilkan antara 50 hingga 100 kilo ton per tahun hidrogen hijau. Infrastruktur ini juga akan dilengkapi pipa bawah laut sepanjang 350 km untuk ekspor ke Singapura.

"Proyek ini merupakan langkah strategis yang tidak hanya akan memperkuat posisi Indonesia di pasar energi regional, tetapi juga mempercepat integrasi energi terbarukan dalam skala besar", jelas Mamit.

Menurutnya, keberhasilan pengembangan proyek hidrogen hijau ini akan membuka peluang kolaborasi regional yang lebih luas dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat energi rendah karbon terbesar di Asia Tenggara.

"Kami optimistis bahwa sinergi antara listrik dan hidrogen akan memberikan manfaat jangka panjang bagi keberlanjutan energi di kawasan ini", tutup Mamit.

Melimpah, Sinar Matahari jadi Sumber Pembangkit Listrik Masa Depan Indonesia

PLTS di Riau. (Foto: Istimewa)

Sebelumnya, PT PLN Indonesia Power memperkuat pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Tanah Air, di antaranya mengoptimalkan potensi sinar matahari sebagai sumber energi listrik di Tanah Air, melalui penguatan industri Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dari hulu ke hilir.

Direktur Utama PLN Indonesia Power Edwin Nugraha Putra mengatakan Indonesia memiliki beragam potensi EBT di antaranya tenaga surya yang mencapai 3.295 GW. Anugerah ini akan dimanfaatkan seoptimal mungkin dan menjadi potensi untuk mengembangkan industri dari hulu ke hilir.

Langkah ini juga menjadi bagian dari percepatan transisi energi untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.

"Indonesia yang hanya memiliki dua musim, penghujan dan kemarau yang sangat memungkinkan pemanfaatan sinar matahari sepanjang tahun untuk pembangkitan listrik berbasis PLTS. Oleh karena itu, kami memanfaatkan mengambil langkah strategis dengan membangun industri PLTS dari hulu hingga hilir, sekaligus mempercepat transisi energi menuju target Net Zero Emission (NZE) pada 2060," kata Edwin, Selasa (29/4/2025).

Edwin menyebutkan, di sini hulu PLN Indonesia Power telah membangun industri pembuatan komponen PLTS, melalui perusahaan patungan antara PLN Indonesia Power Renewables dengan Trina Solar Co. Ltd dan PT Dian Swastatika Sentosa yaitu PT Trina Mas Agra Indonesia (TMAI) telah siap memproduksi modul panel surya terintegrasi dengan teknologi mutakhir yaitu teknologi Tunnel Oxide Passivated Contact (TOPCon).

Industri Solar Panel

Teknisi melakukan perawatan panel PLTS di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (6/8/2019). PT PLN menargetkan pengembangan lebih dari 1.000 megawatt PLTS atap yang terdiri dari inisiasi swasta dan PLN sendiri sesuai RUPTL dengan potensi tiga gigawatt untuk PLTS. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Dengan teknologi yang belum pernah diterapkan di industri solar panel dalam negeri tersebut, efisiensi panel surya mencapai 23,2% dari rata-rata efisiensi saat ini di Indonesia berkisar 20 persen.

"Pabrik ini dikembangkan bersama dengan perusahaan tier-1 industri solar panel dunia dan diharapkan mampu memenuhi permintaan pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Dengan teknologi N-type Topcon yang telah memenuhi standar bankability AAA dari Bloomberg New Energy Finance (BNEF), produk yang dihasilkan memiliki efisiensi dan keandalan yang tinggi, ini membuktikan keseriusan kami dalam membangun industri EBT," papar Edwin.

Edwin melanjutkan, di sisi midstream PLN Indonesia Power melalui anak usahanya PT PLN Indonesia Power Services memberikan layanan pembangunan, pemasangan dan pemeliharaan PLTS, unit bisnis ini menjadi pendukung dalam keberlangsungan pemanfaatan tenaga surya.

"PLN Indonesia Power Services menjadi pemain utama dalam pembangunan, pemasangan dan pemeliharaan PLTS di Tanah Air, ini terbukti dengan diraihnya beberapa komitmen penanganan PLTS baik milik PLN maupun swasta seperti PLTS PT AIIA dan PT ADSMIN dengan kapasitas 900kWp," tutur Edwin.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya