Singolangu, Jalur Pendakian Tertua di Gunung Lawu yang Terlupakan

Berbeda dengan rute lain yang ramai, Singolangu sempat vakum puluhan tahun setelah tragedi hilangnya 16 pendaki di Telogo Batok pada era 1980-an. Baru pada 2018, jalur ini dihidupkan kembali oleh kelompok pemuda setempat.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 02 Mei 2025, 16:00 WIB
Gunung Lawu. (dok.Instagram @lawumountain/https://www.instagram.com/p/CR7hXf0JLxv/Henry)

Liputan6.com, Yogyakarta - Jalur singolangu di Gunung Lawu menawarkan pengalaman pendakian berbeda dibanding rute populer seperti cemoro sewu atau candi cetho. Sebagai jalur tertua dengan medan terjal dan cerita mistis, rute ini cocok bagi pendaki yang mencari tantangan sekaligus napak tilas sejarah Kerajaan Majapahit.

Mengutip dari berbagai sumber, jalur singolangu di Magetan, Jawa Timur, dipercaya sebagai rute pendakian pertama Gunung Lawu sejak 1980-an. Berjarak 3 km dari Telaga Sarangan, jalur ini diyakini menjadi lintasan Prabu Brawijaya V saat menghindari kejaran pasukan Raden Fatah.

Berbeda dengan rute lain yang ramai, Singolangu sempat vakum puluhan tahun setelah tragedi hilangnya 16 pendaki di Telogo Batok pada era 1980-an. Baru pada 2018, jalur ini dihidupkan kembali oleh kelompok pemuda setempat.

Pendakian melalui Singolangu membutuhkan stamina ekstra. Base camp di ketinggian 1.314 mdpl menjadi titik awal menuju puncak hargo dumilah (3.265 mdpl) dengan durasi rata-rata 8 jam.

Medannya didominasi tanjakan curam, seperti tanjakan penggik cahyo. Tanjakan ini sekitar 500 meter dengan kemiringan 45 derajat.

Plang peringatan seperti gunakan gigi satu atau jika ragu, lebih baik kembali menjadi penanda betapa beratnya trek ini.

Sepanjang jalur singolangu di Gunung Lawu terdapat banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Ada beberapa situs spiritual seperti watu lapak, sebuah batu yang bentuknya mirip pelana kuda.

Batu ini diyakini sebagai peninggalan dari Prabu Brawijaya V. Pengunjung juga bisa melihat menyan, tempat para peziarah melakukan ritual pembakaran menyan.

 

Petilasan Prabu Brawijaya V

Petilasan Prabu Brawijaya V tersebar di beberapa lokasi, termasuk di Pos 1 yang disebut kerun-kerun dan di area hargo dalem. Untuk sumber air, ada sendang banyu urip yang terletak di Pos 2 dan sendang drajat yang menyediakan air bersih alami.

Sepanjang jalan, pengunjung akan dikelilingi oleh hutan cemara dan pinus, serta dapat menikmati hamparan bunga edelweis di Pos 4 yang dikenal sebagai taman edelweis. Wisatawan yang lapar bisa singgah di warung-warung unik seperti warung yang berada dekat sendang drajat.

Pendaki disarankan membawa peralatan lengkap, termasuk jas hujan dan cadangan air, mengingat cuaca Gunung Lawu yang tidak menentu. Registrasi wajib dilakukan di base camp, dengan biaya sekitar Rp15.000–Rp20.000 per orang.

Meski menantang, jalur ini belum sepenuhnya terfasilitasi seperti rute populer. Pendaki pemula disarankan memandu atau bergabung dengan kelompok berpengalaman.

Penulis: Ade Yofi Faidzun

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya