Taman Safari Dukung Upaya Gubernur Jabar Selesaikan Permasalahan Korban Sirkus OCI

Taman Safari Indonesia (TSI) memenuhi panggilan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi untuk mengikuti rapat bersama membahas dugaan eksploitasi terhadap mantan pemain sirkus OCI.

oleh Dicky Agung PrihantoDiterbitkan 29 April 2025, 14:44 WIB
Perwakilan TSI usai mengikuti rapat bersama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, membahas polemik dugaan eksploitasi pegawai sirkus OCI di Balai Kota Depok. (Liputan6.com/Dicky Agung Prihanto)

Liputan6.com, Jakarta - Taman Safari Indonesia (TSI) memenuhi panggilan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi untuk mengikuti rapat bersama membahas dugaan eksploitasi terhadap mantan pemain sirkus OCI. Pada rapat tersebut, TSI mengapresiasi langkah Gubernur Jawa Barat, memisahkan permasalahan OCI dengan keberadaan TSI.

Direktur TSI, Aswin Sumampau mengatakan, TSI berusaha memahami yang menjadi pemberitaan terhadap kasus OCI. Menurutnya, pada kasus OCI merupakan personal ataupun oknum yang dituduhkan.

“Kami dari pihak Taman Safari menyayangkan itu bisa lanjut kepada Taman Safari gitu,” ujar Aswin, Selasa (29/4/2025).

Taman Safari memiliki ribuan karyawan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM) dan hukum. Taman Safari menyayangkan kasus dugaan eksploitasi dan pelanggaran HAM yang dilakukan oknum OCI, turut menyeret nama baik Taman Safari.

“Bisa dicek kami terbuka apapun itu, bahwa kami terus menjunjung tinggi apa yang Kang Dedi sampaikan pada hari ini, saya rasa hari ini cukup jelas, bahwa tim OCI ini sebenarnya sudah memulai mediasi yang sebelumnya agak stuck seperti itu ya,” jelas Aswin.

Taman Safari berharap, pertemuan yang dilakukan Gubernur Jawa Barat dapat mempertemukan pengacara OCI dan korban. Nantinya pada pertemuan yang akan digelar kembali, dapat menjadi solusi di antara kedua belah pihak.

“Saya harapkan dengan adanya Kang Dedi pada hari ini, ya tim pengacara hukum eks OCI dan juga korban-korban, ini bisa bertemu di suatu titik tengah untuk menjadi solusi,” terang Aswin.

Taman Safari telah berkirim surat kepada Komnas HAM untuk melihat seluruh operasi Taman Safari Group. Apabila pada audit ditemukan sejumlah rekomendasi yang harus diperbaiki, Taman Safari akan melakukan perbaikan tersebut.

“Apabila ada rekomendasi rekomendasi terkait HAM, ya kami akan siap untuk mengikutinya, tapi kami terbuka, selalu terbuka apapun itu. Kami ingin menegaskan bahwa Taman Safari selalu mengedepankan hukum, apalagi hak asasi manusia pasti,” ungkap Aswin.

 

Dampak terhadap Taman Safari

Perwakilan TSI usai mengikuti rapat bersama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, membahas polemik dugaan eksploitasi pegawai sirkus OCI di Balai Kota Depok. (Liputan6.com/Dicky Agung Prihanto)

Aswin menuturkan, adanya dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan OCI, turut memberikan dampak kepada Taman Safari. Jumlah kunjungan wisatawan ke Taman Safari mengalami penurunan, namun pihak taman safari enggan memberikan secara detail jumlah kunjungan wisatawan.

“Ya sekarang sudah cukup besar lah (penurunan kunjungan), saya tidak bisa membuka ya, jadi saya rasa sangat terdampak. Pasti teman-teman juga lihat ya dari sisi hashtag dan sebagainya, sangat-sangat terdampak, apalagi kerja sama antara perusahaan dan lainnya,” tutur Aswin.

Pada pemberitaan sebelumnya, Kasus dugaan eksploitasi terhadap mantan pemain sirkus OCI dan keterkaitannya dengan Taman Safari Indonesia (TSI) tengah menjadi sorotan. Delapan mantan pekerja melaporkan berbagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi sejak tahun 1970-an itu.

Tuduhan eksploitasi ini mencakup berbagai bentuk kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi. Para mantan pemain sirkus mengklaim mengalami kekerasan fisik seperti dipukul dan disetrum, dipaksa bekerja dalam kondisi sakit, serta dipisahkan dari keluarga mereka.

 

Penegak Hukum Diminta Turun Tangan

Kasus yang kembali mencuat setelah sekian dekade ini memantik perhatian luas publik, tak terkecuali legislator. Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKB Abdullah mengaku prihatin dengan sejumlah mantan pemain sirkus OCI saat mengadu ke Kantor Kementerian HAM, Jakarta pada Selasa 15 April 2025 lalu.

Dia meminta aparat penegak hukum turun tangan mengusut kasus tersebut. 

“Kejahatan itu tidak boleh dibiarkan. Jangan ada eksploitasi dan kekerasan terhadap para pekerja. Itu jelas melanggar hukum,” ujar Abdullah, beberapa waktu lalu.

Dia meminta Polri memeriksa Taman Safari Indonesia yang menjadi tempat para pemain sirkus itu tampil. Dia juga mendorong Taman Safari secara terbuka dan jujur menyampaikan keterangan terkait kasus dugaan eksploitasi dan kekerasan ini.

“Jangan ada yang ditutup-tutupi. Taman Safari harus terbuka agar kasus itu semakin terang. Apalagi kekerasan itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Ini tidak boleh dibiarkan,” kata Abdullah.

 

Respons Pendiri OCI

Pendiri Oriental Circus Indonesia (OCI), Tony Sumampau meluruskan informasi terkait mantan pemain sirkusnya yang tak menerima gaji. Menurut dia, sejak awal bergabung para pemain OCI diperlakukan sebagai bagian dari keluarga besar.

“Ya kalau sudah di OCI kan sudah kayak keluarga besar. Kalau sakit pasti berobat, enggak pernah bilang enggak ada uang. Semua itu sudah terjamin. Pakaian, terus uang saku,” kata dia saat ditemui di bilangan Jakarta Selatan, Kamis 17 April 2025.

Tony mengatakan, kebutuhan dasar seperti pakaian dan uang saku diberikan secara rutin. Menurutnya, meski anak-anak tersebut tidak menerima gaji, mereka tetap memperoleh uang saku mingguan untuk kebutuhan pribadi.

“Tiap minggu juga dikasih. Memang itu tidak diberi gaji, ya. Kita kan dulu juga enggak terima gaji, sama. Masih anak-anak masa terima gaji gitu ya. Tapi uang saku untuk belanja, untuk segala macem, itu selalu ada. Enggak mungkin enggak ada,” ucap dia.

Dia juga menepis anggapan anak-anak dalam asuhannya mengalami kekurangan atau tak terurus.

“Kalau lihat wajahnya aja bisa kelihatan kok, gitu ya. Jadi enggak kurus-kurus, ceking, gitu kan enggak. Semua sehat-sehat,” ucap dia.

Selain kebutuhan pokok, Tony menyebutkan para anggota sirkus juga mendapatkan perhatian pada momen-momen khusus seperti hari raya dan ulang tahun.

“Jadi uang belanja ada, pakaian lengkap, kalau hari raya pasti dapet hadiah, dapet apa. Biasa lah kita. Ulang tahun dirayain ramai-ramai. Itu biasa. Itu kehidupan keluarga besar,” tandas dia.

Infografis eksploitasi seksual anak (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya