Kurangi Ketergantungan Impor, Krakatau Steel Pacu Produksi Baja Tahan Gempa

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk alias KS bersama perusahaan joint venture, PT Krakatau Posco (KP) telah memulai produksi massal baja tahan gempa (seismic grade steel)

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 22 April 2025, 19:00 WIB
Baja Krakatau Steel

Liputan6.com, Jakarta PT Krakatau Steel (Persero) Tbk alias KS bersama perusahaan joint venture, PT Krakatau Posco (KP) telah memulai produksi massal baja tahan gempa (seismic grade steel). Produk ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan material konstruksi di wilayah-wilayah Indonesia yang rawan bencana gempa bumi.

Adapun urgensi baja tahan gempa ini menguat setelah adanya kejadian gempa dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di Myanmar baru-baru ini. Imbas kejadian itu, sebuah gedung pencakar langit di negara tetangga, Thailand, yang masih dalam tahap pembangunan runtuh seketika karena getaran tersebut.

Pengujian awal terhadap material yang dikumpulkan di lokasi menunjukkan adanya baja di bawah standar di antara reruntuhan bangunan setinggi 30 lantai tersebut.

Krakatau Steel lantas mengklaim, produk baja tahan gempa seperti JIS G3136 SN490 telah terbukti digunakan dalam berbagai proyek infrastruktur strategis nasional.

Keunggulan utama produk ini terletak pada kemampuannya menahan deformasi akibat getaran gempa yang kuat, serta sifatnya yang mudah dimodifikasi dan diperbaiki jika terjadi kerusakan.

"Ini memenuhi standar ketahanan gempa untuk wilayah seismik seperti Indonesia," kata pakar Teknik Sipil UI yang terlibat dalam pengujian produk tersebut di Laboratorium Bahan Konstruksi UI, Bambang Suhendro, Selasa (22/4/2025).

Ketergantungan Impor

Data Kementerian Perindustrian menunjukkan, Indonesia masih sangat bergantung pada impor, dengan sekitar 60 persen kebutuhan baja khusus konstruksi. Termasuk material tahan gempa, masih diimpor dari Jepang dan Korea Selatan.

Alhasil, ketergantungan ini tidak hanya berdampak pada biaya proyek yang lebih tinggi, tapi juga membuat pembangunan infrastruktur rentan terhadap fluktuasi pasokan global.

 

Fasilitas Produksi Naik

(Foto: Krakatau Steel)

Dengan telah beroperasinya Krakatau Posco Phase 2, fasilitas produksi ini meningkatkan kapasitas produksi menjadi 3 juta ton baja per tahun, termasuk jenis seismic grade.

Produk baja SNI 2052:2020 telah melalui serangkaian uji ketat dan berhasil membuktikan kemampuan ductility serta ketahanan deformasi yang memenuhi standar ketahanan gempa.

Produksi baja tahan gempa dalam negeri ini turut diperkuat melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 13 Tahun 2019, yang mewajibkan penggunaan baja tulangan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk proyek infrastruktur.

Merujuk catatan Krakatau Steel, meski telah menunjukkan kemajuan signifikan, industri baja nasional masih menghadapi tantangan besar. Kapasitas produksi saat ini baru mampu memenuhi sekitar 45 persen dari total kebutuhan nasional.

Untuk mengatasi hal ini, Krakatau Steel telah menyusun strategi komprehensif. Mencakup reaktivasi pabrik ISM BF yang akan menambah kapasitas produksi sebesar 1,2 juta ton per tahun. Lalu, kolaborasi riset dengan BRIN untuk mengembangkan generasi baru material konstruksi, termasuk baja ramah lingkungan (green steel).

 

Proyeksi Pertumbuhan Industri Baja Nasional

PT Krakatau Steel (krakatausteel.com)

 

Menilik data Kementerian Perindustrian di kuartal III 2024, industri baja nasional selama 5 tahun terakhir terus tumbuh surplus sejak 2021. Berikut rinciannya:

  • 2020, produksi 5,2 juta ton. Mengalami kontraksi -8,5 persen akibat pandemi Covid 19.
  • 2021, produksi 6,1 juta ton. Surplus 17,3 persen imbas pemulihan ekonomi.
  • 2022, produksi 7,3 juta ton. Surplus 19,7 persen imbas akselerasi proyek infrastruktur.
  • 2023, produksi 8,5 juta ton. Surplus 16,4 persen imbas ekspansi KS-KP
  • 2024, produksi 9,8 persen (proyeksi). Surplus 15,3 persen sebagai dampak phase 3 KS-KP.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya