Jejak Pahit Si Kembang Gula: Kisah Petualangan Anak yang Mengungkap Bahaya Tersembunyi di Balik Permen

Dengan balutan petualangan remaja yang penuh aksi dan nilai emosional, cerita film Jejak Pahit Si Kembang Gula membawa isu serius ke layar lebar, peredaran narkoba dalam bentuk yang mengecoh.

oleh Ruly RiantrisnantoDiperbarui 16 April 2025, 19:22 WIB
Acara syukuran syuting film Jejak Pahit Si Kembang Gula. (Dok. IST)

Liputan6.com, Jakarta Dunia perfilman Indonesia kembali bersiap menghadirkan tontonan bermakna lewat sebuah karya terbaru bertajuk Jejak Pahit Si Kembang Gula. Film hasil kolaborasi antara Bluesheep Entertainment dan Wokcop Pictures ini tengah memasuki tahap produksi yang akan berlangsung mulai 16 April hingga 3 Mei 2025, dengan latar keindahan alam di kawasan barat Yogyakarta.

Film yang menyasar penonton keluarga ini hadir tak sekadar sebagai hiburan semata. Dengan balutan petualangan remaja yang penuh aksi dan nilai emosional, cerita Jejak Pahit Si Kembang Gula membawa isu serius ke layar lebar—peredaran narkoba dalam bentuk yang mengecoh, yakni permen dan jajanan anak-anak.

Di tengah cerita, penonton akan diajak mengikuti perjalanan sekelompok murid dan seorang guru bernama Pak Wira, yang terlibat dalam pencarian teman mereka yang hilang saat kegiatan berkemah. Di balik petualangan itu, mereka justru mengungkap jaringan gelap yang menyelundupkan narkoba ke dalam kehidupan anak-anak secara tak terduga.

Film ini menyorot bagaimana rasa solidaritas, keberanian, dan kepekaan moral menjadi bekal utama anak-anak dalam menghadapi bahaya yang bahkan tak dikenali oleh orang dewasa sekalipun.

Dengan pendekatan yang menyentuh namun ringan, film ini diharapkan mampu membuka mata banyak orang terhadap bentuk-bentuk baru penyebaran narkoba yang semakin licik.

 


Deretan Pemain dan Kreator

Acara syukuran syuting film Jejak Pahit Si Kembang Gula. (Dok. IST)

Tokoh guru inspiratif Pak Wira diperankan oleh aktor senior Bukie B. Mansyur. Sementara itu, kehadiran pasangan kepala desa diperankan oleh komedian legendaris Unang Bagito sebagai Pak Kades, dan presenter Sarah Sechan sebagai Bu Kades, turut menambah warna cerita.

Pemeran cilik yang terlibat dalam film ini adalah talenta muda berbakat asal Yogyakarta, seperti Aradhana Rahadi sebagai Bagas, Maria Aurora Princesza Leticia sebagai Kirana, Bebe Gracia sebagai Hanna, Axandro Juliano sebagai Gerald, dan Adimas Alby sebagai Adit, seorang anak autistik yang menjadi karakter kunci dalam cerita.

Film ini digarap oleh Franklin Darmadi sebagai sutradara yang juga dikenal dari karya Ekspedisi Madewa (2005) dan Medley (2007), serta Andri Putra sebagai produser kreatif. Dedey Natalia bertindak sebagai penulis skenario, sementara Silvia Yunita dan Alfie Lim duduk sebagai produser eksekutif.

Lanjut Baca:

Franklin Darmadi menekankan bahwa film ini bukan semata film anak-anak, tapi sebuah sajian keluarga yang menyampaikan pesan moral tanpa terasa menggurui. “Saya ingin film ini terasa ringan namun tetap menyentuh,” ujar Franklin. Ia juga mengungkapkan bahwa tantangan produksi terletak pada koordinasi kru dan pemain dari dua kota besar, serta pada adegan luar ruang dan aksi yang menuntut kreativitas visual tinggi.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya