Trump: AS dan Iran Negosiasi Langsung Terkait Program Nuklir

Sejauh ini, Iran belum merespons pernyataan Trump terkait pembicaraan langsung soal program nuklirnya.

oleh Khairisa FeridaDiperbarui 08 April 2025, 15:10 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pada Senin (7/4/2025). (Dok. Pool via AP)

Liputan6.com, Washington, DC - Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat (AS) akan mengadakan pembicaraan langsung dengan Iran untuk mencegah negara itu memperoleh bom atom.

Trump menyampaikan hal tersebut saat menerima kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pada Senin (7/4/2025). Presiden AS itu mengindikasikan pembicaraan langsung akan dimulai akhir pekan ini, namun dia juga menyiratkan bahwa komunikasi sudah dimulai.

Menurut Trump, pembicaraan ini dilakukan untuk menghindari apa yang dia sebut sebagai "hal yang jelas" — yang diyakini merujuk pada serangan militer dari AS atau Israel terhadap fasilitas nuklir Iran.

"Kami mengadakan pembicaraan langsung dengan Iran dan sudah dimulai. Akan ada pertemuan besar pada Sabtu dan kita akan lihat apa yang bisa terjadi," kata Trump kepada wartawan seperti dikutip dari The Guardian.

"Dan saya pikir semua orang setuju bahwa melakukan kesepakatan akan lebih baik daripada melakukan hal yang sudah jelas. Dan hal yang sudah jelas bukanlah sesuatu yang ingin saya lakukan atau sejujurnya, yang ingin dilakukan Israel, jika mereka dapat menghindarinya."

Dia menambahkan, "Jadi kita akan lihat apakah kita bisa menghindarinya. Tapi ini sudah menjadi wilayah yang sangat berbahaya. Semoga saja pembicaraan berhasil. Saya rasa, jika pembicaraan itu berhasil, itu akan sangat menguntungkan bagi Iran."

Trump tidak memberikan rincian tentang di mana pembicaraan akan berlangsung atau siapa saja pejabat yang terlibat. Ketika ditanya oleh wartawan, Trump memberikan ancaman terselubung jika pembicaraan gagal, dengan menggarisbawahi Iran akan berada dalam "bahaya besar".

"Saya rasa jika pembicaraan dengan Iran tidak berhasil... Iran akan berada dalam bahaya besar dan saya benci harus mengatakan ini – karena mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir," ujar Trump.

"Ini bukan formula yang rumit. Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Saat ini kita memiliki negara-negara yang memiliki kekuatan nuklir yang seharusnya tidak memilikinya. Tapi saya yakin kita akan dapat bernegosiasi untuk itu juga nanti."

"Dan jika pembicaraan itu gagal, saya rasa itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi Iran."

Tidak Punya Hubungan Diplomatik

Ilustrasi nuklir Iran (AFP)

Selama masa kepresidenan pertamanya, Trump menarik diri dari kesepakatan yang ditandatangani oleh Barack Obama yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Kesepakatan itu menawarkan keringanan sanksi kepada Iran sebagai imbalan atas pembatasan kegiatan pengayaan uranium mereka – dan sebagai gantinya, Trump mengadopsi kebijakan "tekanan maksimal" yang memperketat embargo ekonomi.

Kritikus mengatakan Iran tetap mempercepat program nuklirnya dan kini lebih dekat untuk membangun bom daripada sebelumnya. Upaya Joe Biden untuk menghidupkan kembali kesepakatan yang dinegosiasikan oleh Obama gagal.

Netanyahu, yang memandang Iran sebagai ancaman eksistensial bagi Israel, aktif menggagalkan kesepakatan Obama dan telah lama menentang setiap kesepakatan yang memungkinkan negara itu mempertahankan program yang bisa dialihkan menjadi senjata nuklir.

Sementara itu, Iran secara konsisten membantah niat membangun senjata nuklir dan menegaskan program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil semata.

Iran dan AS tidak memiliki hubungan diplomatik sejak 1980, ketika relasi diputus setelah para revolusioner menyerbu Kedutaan Besar AS di Teheran dan menyandera 53 diplomat selama 444 hari.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya