Liputan6.com, Jakarta: Ledakan di depan Hotel JW Marriott, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (5/8) siang, memakan korban jiwa sebanyak 10 dan melukai puluhan orang. Hingga pukul 16.00 WIB, puluhan korban yang dilarikan ke sejumlah rumah sakit masih dirawat secara intensif. Mereka umumnya menderita luka bakar dan terkena pecahan kaca. Di Rumah Sakit Jakarta, Jalan Jenderal Sudirman Kavling 49, Jakarta Selatan, misalnya. Seorang wanita yang terluka tak kuat menanggung derita. "Saya minta disuntik mati saja," rintih wanita tersebut sembari menangis [baca: Ledakan Bom Hebat Mengguncang Plaza Mutiara].
Sebagian besar korban memang dilarikan ke RS Jakarta. Ini mengingat lokasi ledakan relatif lebih dekat ke RS Jakarta ketimbang rumah sakit lain. Hingga pukul 17.00 WIB, sebanyak 40 dari 53 korban masih dirawat akibat luka bakar yang mereka derita. Suami Presiden Megawati Sukarnoputri, Taufik Kiemas, tampak menengok langsung kondisi para korban yang dirawat di RS Jakarta [baca: Korban Tewas Bom Hotel Marriott 10 Orang].
Dari sepuluh korban tewas, seorang di antaranya adalah berkewarganegaraan asing. Namun, belum diketahui identitas warga asing itu. Sebelum tewas, dia sempat dibawa ke RS Jakarta. Sedangkan berdasarkan data di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Salemba, Jakarta Pusat, terdapat tujuh korban tewas. Sekitar pukul 17.15 WIB, Kepolisian Daerah Metro Jaya telah mengidentifikasi dua korban tewas. Mereka adalah anggota satuan pengamanan PT Permata Bima Sakti, Slamet Harianto dan Syamsudin warga Pasar Manggis, Setiabudi, Jakarta Selatan. Sedangkan lima jenazah lainnya tengah diidentifikasi. Sayangnya, belum seorang pun keluarga korban tewas yang datang ke kamar mayat RSCM [baca: Dua Jenazah Korban Ledakan Berhasil Diidentifikasi].
Sementara puluhan korban lainnya dilarikan ke RS Medistra (Jalan Gatot Subroto 59, Jaksel), RS Angkatan Laut dokter Mintoharjo (Bendungan Hilir, Jakpus), RS Metropolitan Medical Center (Jalan H.R. Rasuna Said Kav. C-21, Kuningan, Jaksel), dan RS Pusat Pertamina (Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jaksel). Di RS MMC, sepuluh korban harus menjalani rawat inap. Termasuk tiga warga Amerika Serikat, Australia, dan Malaysia.
Bom berdaya ledak kuat itu jelas tak disangka oleh puluhan korban cedera. Seorang korban bernama Ali Hanafiah, misalnya. Staf hubungan masyarakat sebuah perusahaan pengembang di Jakarta ini menuturkan, saat bom meledak, dirinya sedang makan siang bersama rekan kerjanya di restoran Hotel JW Marriott. "Ketika semua orang makan siang, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan. Kaca-kaca berhamburan, lampu mati, asap masuk. Kita tak tahu jalan keluar. Ada orang lari, kita ikut saja," ungkap Ali. Menurut Ali, bunyi ledakan terdengar dari luar hotel. Tepatnya, sisi luar hotel yang menghadap arah jalan menuju lingkungan penduduk. "[Di saat] asap hitam masuk dan kaca-kaca berhamburan. Saya langsung [tiarap] di kolong meja," ucap Ali, mengingat suasana saat bom meledak.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)
Sebagian besar korban memang dilarikan ke RS Jakarta. Ini mengingat lokasi ledakan relatif lebih dekat ke RS Jakarta ketimbang rumah sakit lain. Hingga pukul 17.00 WIB, sebanyak 40 dari 53 korban masih dirawat akibat luka bakar yang mereka derita. Suami Presiden Megawati Sukarnoputri, Taufik Kiemas, tampak menengok langsung kondisi para korban yang dirawat di RS Jakarta [baca: Korban Tewas Bom Hotel Marriott 10 Orang].
Dari sepuluh korban tewas, seorang di antaranya adalah berkewarganegaraan asing. Namun, belum diketahui identitas warga asing itu. Sebelum tewas, dia sempat dibawa ke RS Jakarta. Sedangkan berdasarkan data di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Salemba, Jakarta Pusat, terdapat tujuh korban tewas. Sekitar pukul 17.15 WIB, Kepolisian Daerah Metro Jaya telah mengidentifikasi dua korban tewas. Mereka adalah anggota satuan pengamanan PT Permata Bima Sakti, Slamet Harianto dan Syamsudin warga Pasar Manggis, Setiabudi, Jakarta Selatan. Sedangkan lima jenazah lainnya tengah diidentifikasi. Sayangnya, belum seorang pun keluarga korban tewas yang datang ke kamar mayat RSCM [baca: Dua Jenazah Korban Ledakan Berhasil Diidentifikasi].
Sementara puluhan korban lainnya dilarikan ke RS Medistra (Jalan Gatot Subroto 59, Jaksel), RS Angkatan Laut dokter Mintoharjo (Bendungan Hilir, Jakpus), RS Metropolitan Medical Center (Jalan H.R. Rasuna Said Kav. C-21, Kuningan, Jaksel), dan RS Pusat Pertamina (Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jaksel). Di RS MMC, sepuluh korban harus menjalani rawat inap. Termasuk tiga warga Amerika Serikat, Australia, dan Malaysia.
Bom berdaya ledak kuat itu jelas tak disangka oleh puluhan korban cedera. Seorang korban bernama Ali Hanafiah, misalnya. Staf hubungan masyarakat sebuah perusahaan pengembang di Jakarta ini menuturkan, saat bom meledak, dirinya sedang makan siang bersama rekan kerjanya di restoran Hotel JW Marriott. "Ketika semua orang makan siang, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan. Kaca-kaca berhamburan, lampu mati, asap masuk. Kita tak tahu jalan keluar. Ada orang lari, kita ikut saja," ungkap Ali. Menurut Ali, bunyi ledakan terdengar dari luar hotel. Tepatnya, sisi luar hotel yang menghadap arah jalan menuju lingkungan penduduk. "[Di saat] asap hitam masuk dan kaca-kaca berhamburan. Saya langsung [tiarap] di kolong meja," ucap Ali, mengingat suasana saat bom meledak.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)