Pengumuman SPMB Disambut Sepi di Berbagai Daerah

Di Yogyakarta, pengumuman hasil SPMB bahkan diwarnai demonstrasi sejumlah mahasiswa yang memprotes tingginya biaya pendidikan. Peserta SPMB Semarang, Jateng, menyambut dingin pengumuman.

oleh Liputan6Diterbitkan 05 Agustus 2003, 08:54 WIB
Liputan6.com, Yogyakarta: Pengumuman seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) di berbagai daerah disambut dingin. Bahkan, di Yogyakarta, pengumuman hasil SPMB diwarnai aksi protes sejumlah mahasiswa di bundaran Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Melalui spanduk dan poster, demonstran memprotes tingginya biaya pendidikan di UGM. Mereka menyindir, UGM telah kehilangan visi kerakyatannya. Demikian pemantauan SCTV di Yogyakarta, Senin (4/8).

Kendati demikian, demonstran tak sepenuhnya menyalahkan rektorat UGM. Pasalnya, yang lebih bertanggung jawab adalah pemerintah. Karena itu, mahasiswa mendesak pemerintah segera merealisasikan dana pendidikan sebesar 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Di Semarang, Jawa Tengah, mereka yang berhasil terjaring SPMB untuk masuk Universitas Diponegoro (Undip) mengekspresikan kegembiraan secara tak berlebihan. Sebaliknya, yang gagal menembus SPMB juga tampak biasa-biasa saja. Saat ini, pengumuman hasil SPMB bisa diketahui melalui berbagai media. Namun, para calon mahasiswa tetap mendatangi kampus meski tidak seramai tahun sebelumnya. Untuk diketahui, Undip menerima sekitar 3.000 mahasiswa, tahun ini. Sementara yang mendaftar mencapai 16 ribu peserta.

Pengumuman hasil SPMB di Medan, Sumatra Utara juga tidak semeriah tahun silam. Beberapa lokasi tempat pengumuman SPMB tampak sepi dari calon mahasiswa. Besar dugaan, ini disebabkan hasil SPMB kini sudah dapat diakses lewat media internet, surat kabar, ataupun short messages service (SMS). Kondisi serupa juga terlihat di berbagai lokasi pengumuman SPMB di Jakarta dan Surabaya, Jawa Timur [baca: Lokasi Pengumuman SPMB Sepi].

Sementara di Jambi, para pedagang koran mengeluh karena sepi pembeli. Maklum, di hari pengumuman SPMB, biasanya barang dagangan mereka laku keras. Padahal beberapa media, sengaja memuat rubrik hasil SPMB secara lengkap. Tahun-tahun sebelumnya mereka mengaku dapat menjual sekitar 200 eksemplar. Tahun ini, mereka hanya mampu menjual puluhan eksemplar.(ZAQ/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya